Senin, 10 Dec 2018
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Sebulan Ceperannya Bisa Rp 16 Juta

05 Agustus 2017, 17: 20: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

Sebulan Ceperannya Bisa Rp 16 Juta

Penghasilan yang besar. Itulah daya tarik utama para pemandu lagu mau menerima ‘job sampingan’ ber-striptease. Sebab, dalam sebulan ceperan yang dia peroleh bisa mencapai belasan juta rupiah!

Untuk melayani menari setengah telanjang saja, upahnya bisa Rp 2 juta per sekali main. Sedangkan bila menari tanpa sehelai benang pun di tubuhnya tarifnya Rp 2,5 juta. Dan, rata-rata, para stripper lokal ini menari hingga tiga jam.

Namun, di sela-sela menari ada selingan. Seperti menemani minum-minuman beralkohol yang memang lekat dengan suasana karaoke.

Hanya saja, menurut Bulan, permintaan ber-striptease itu tidak datang setiap hari. “Kadang-kadang saja jika ada pesanan,” akunya.

Walaupun demikian, menurut Bulan, dalam sebulan tak kurang tiga sampai empat kali muncul tawaran seperti itu. Bila ditambah dengan penghasilan utamanya sebagai pemandu lagu yang Rp 3-5 juta per bulan, total penghasilannya bisa Rp 16 juta!

“Per jamnya, sebagai purel (pemandu lagu, Red) saya dapat komisi Rp 15 ribu,” ujarnya.

Penghasilan yang besar tersebut tentu membuatnya tergiur. Apalagi, ia harus menghidupi seorang anak. "Ya itu mas, suami saya tidak tanggung jawab sama saya dan anak saya. Karena itu saya dulu masuk dan mendaftar sendiri jadi purel," akunya.

Selain untuk menghidupi anaknya, perempuan berambut sebahu tersebut mengaku jika penghasilan dari menari striptease juga digunakan untuk melakukan perawatan tubuh. "Itu habisnya juga besar Mas. Mau bagaimana lagi, ini juga dagangan," candanya.

Perkataan Bulan itu memang benar adanya. Untuk merawat dan menjaga bentuk tubuhnya agar menarik, ia bisa menghabiskan Rp 4-7 juta per bulan. Belum lagi untuk mengikuti gaya hidup yang serba tak mau ketinggalan. "Ya kalau sedang punya uang banyak kan inginnya beli apa saja. Pakaian juga harus ganti-ganti terus kan," ujarnya.

Karena itu, meski berpenghasilan banyak, hingga saat ini ia mengaku  belum memiliki kediaman sendiri. “Masih kontrak kosan, Mas,” ujarnya.

Agak berbeda dengan cerita Bunga. Perempuan yang menjadi purel sejak 2004 ini mengatakan bayaran menjadi penari telanjang saat itu tak banyak. Jauh lebih sedikit dibanding saat ini. "Bayarannya cuma Rp 200 ribu per jam," ujarnya.

Agar bayarannya bertambah, Bulan menyebut banyak rekannya yang bersedia di-BO. Biasanya itu dilakukan pemandu lagu freelance.

Menurut Bunga, ada dua jenis pemandu lagu. Yang menetap di satu rumah karaoke dan yang freelance atau panggilan. “Biasanya pemandu lagu yang freelance itu yang lebih berani," ujarnya. 

Berani yang dia maksud yaitu dengan mudah menerima permintaan untuk bekerja plus-plus. Seperti menari striptease dan BO (bokingan). Dikatakan bokingan karena mereka mau menerima tawanan untuk dibawa keluar room karaoke dan diajak melakukan hubungan intim.

Biasanya, mereka berusia lebih muda dibandingkan dengan pemandu lagu yang menetap. "Saya kurang tahu. Kebetulan saya tidak punya kenalan yang freelance. Mungkin pekerjaan seperti ini cuma sampingan bagi mereka," ujarnya.

Hanya saja, pemandu lagu freelance tidak akan mendapat jaminan keamanan dari pihak pengusaha tempat karaoke. Misalkan saja, saat razia. Pemandu lagu freelance tidak akan dibela saat terjaring razia. “Kalau (yang) menetap mungkin cuma didata kartu tanda penduduk (KTP) saja,” ujarnya.

(rk/rzl/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia