Selasa, 16 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 16

Ubah Jati Diri sebagai Kebo Hiju

05 Agustus 2017, 15: 47: 18 WIB | editor : Adi Nugroho

Ubah Jati Diri sebagai Kebo Hiju

Share this          

“Mahesa Tandi, yang baru tujuh belas tahun dan terbiasa hidup dalam kemanjaan dari para abdi, sangat ketakutan menghadapi ancaman kematian”

   Mahesa Tandi putera Rakryan Mahesa Landung adalah seorang penguasa wisaya yang hidup dalam keserba-terpaksaan dengan dua wajah berbeda satu sama lain.

Sebagai putera Rakryan Mahesa Landung, kerabat Maharaja Tumapel, penguasa yang membawahi 30 desa di wisaya Landung, ia dituntut untuk setia kepada maharaja beserta keturunannya apa pun yang terjadi. Dalam susah maupun gembira, menang atau pun  kalah, terhormat atau terhina, tersiksa atau termanja ria, bahkan  hidup mulia atau pun  mati bersimbah darah.

Namun saat serangan mendadak balaprajurit Panjalu yang menewaskan Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara beserta pengawal setianya, termasuk Rakryan Mahesa Landung, yang membawa keruntuhan Tumapel, Mahesa Tandi, yang baru tujuh belas tahun dan terbiasa hidup dalam kemanjaan, sanjungan dan pujian dari para abdi yang mengasuhnya, sangat ketakutan menghadapi ancaman kematian yang hilir mudik mengitarinya.

Itu sebab, sewaktu ia  tertangkap bala Panjalu sebagai tawanan, tidak ada pilihan lain yang lebih baik baginya selain mengubah jati diri dengan mengaku sebagai Kebo Hiju (kerbau yang kuat), abdi dari Mahesa Landung yang ditugasi menjaga jalur perbatasan di Wisaya Karangan, kawasan lembah subur yang membentang di kaki selatan Gunung Indrakila.

Dengan mengaku sebagai prajurit yang berasal dari kalangan bangsawan rendahan, Kebo Hiju diterima sebagai abdi  Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya, setelah  berjanji setia untuk mengabdikan hidup dan matinya kepada penguasa yang memenangkan peperangan tersebut.  

Sebagaimana para kerabat, nayaka dan abdi Maharaja Tumapel yang ingin hidup di tengah himpitan kekuasaan para pemenang yang congkak, angkuh dan suka merendahkan pihak  yang kalah, Mahesa Tandi yang menjadi Kebo Hiju harus menjadi seorang penjilat yang kadang-kadang mengorbankan kawan dan bahkan kerabat yang dianggap mengancam kedudukannya.

Sang Mapanji Jayakerta Tunggul Ametung yang ditunjuk sebagai Raja Janggala di Tumapel oleh Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa Kertajaya menempatkan Kebo Hiju sebagai penguasa Wisaya Karangan, sebuah wilayah yang terdiri dari sepuluh desa di lembah subur yang terletak di daerah perlintasan jalan yang menjulur berliku-liku  dari Tumapel ke Panjalu. (bersambung)  

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia