Jumat, 15 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 10

Membangun Kekuatan Bawah Tanah

26 Juli 2017, 05: 35: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

Membangun Kekuatan Bawah Tanah

Share this          

“Dang Acarya Girindratmaja Purwwawijaya meletakkan kepercayaan sangat besar kepada Gagak Inget, perwira Pengalasan, yang menjadi pengawal pribadinya”

*        *        *        *        *

Setelah Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara gugur dalam pertempuran mempertahankan Kedhaton tumapel dan didharmakan di Turyyan, Sri Tarunaraja Girindratmaja Sang  Brahmaraja Wiswarupalancana, raja muda Tumapel dengan sisa-sisa pengikutnya mundur ke Alas Gandalayu yang membentang di lembah Gunung Indrakila.

Namun ia tidak menyusun kekuatan untuk bangkit melawan bala prajurit Panjalu dengan  menggantikan kedudukan ayahandanya sebagai Maharaja Janggala, sebaliknya  memilih  meletakkan mahkota kerajaan  dan mengasingkan diri sebagai seorang bhikku di sebuah Biara (Vihara - Bioro) yang terletak di bagian  selatan Alas Gandalayu tidak jauh dari Ksetra Gandalayu (Tegal Gandalayu – Tegal Gondo).

Agar tidak diketahui para prajurit Panjalu, ia menggunakan nama baru yang dikenal dengan sebutan Dang Acarya Girindratmaja Purwwawijaya, menjadi kepala biara, menggantikan Bhikku Jagaddatri Purnawijaya, yang sudah kembali ke Nirwana setahun silam.

Sebagai mantan raja muda Janggala di Tumapel, yang masih dalam pencarian para pemenang yang berkuasa, Dang Acarya Girindratmaja Purwwawijaya meletakkan kepercayaan yang sangat besar kepada Gagak Inget, perwira Pengalasan, yang menjadi pengawal pribadinya semenjak ia memasuki usia remaja.

Melalui Gagak Inget, Dang Acarya Girindratmaja Purwwawijaya mengetahui semua perkembangan keadaan setelah jatuhnya Tumapel di bawah kekuasaan wakil Maharaja Panjalu Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa Kertajaya, yaitu  Sang Mapanji Jayakerta Tunggul Ametung yang menggunakan gelar abhiseka Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya.

Melalui Gagak Inget, ia mengetahui di mana saja sisa-sisa prajurit Tumapel membangun kekuatan bawah tanah di bawah kepemimpinan Mapanji Bango Samparan. Ia mengetahui semua perubahan setelah orang-orang Panjalu menyerang secara mendadak hingga meruntuhkan kekuatan dan kekuasaan Janggala.

Di antara berbagai perubahan keadaan sejak berkuasanya Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya yang dianggap paling menyedihkan oleh  Dang acarya Girindratmaja Purwwawijaya adalah nasib puteri tunggal kesayangannya, Dyah Ardhanareswari Nararya Prajnyaparamitha, yang sejak usia delapan tahun telah menjadi tawanan balaprajurit Panjalu dan pada usia duabelas tahun diperisteri wakil raja Panjalu Sri Aji Jayakerta Tunggul Ametung Sri Gandrawijaya. (bersambung) 

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia