Selasa, 12 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 09

Melawan sampai Darah Penghabisan

24 Juli 2017, 22: 10: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

KARYA: AGUS SUNYOTO

KARYA: AGUS SUNYOTO (ILUSTRASI: NAKULA AGI - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

“Dalam usia kurang dari tujuhbelas tahun, Mapanji Ranggah Rajasa sudah menunjukkan kesaktian dan kadigdayaan yang ngedap-edapi”

Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Belum sebulan Mapanji Ranggah Rajasa tinggal di keraton Tumapel, terjadi peritiswa tidak tersangka-sangka di mana balaprajurit Panjalu di bawah pimpinan Sang Mapanji Jayakerta Tunggul Ametung menyerbu Keraton Tumapel dari arah selatan.

Kegemparan pecah ketika satu-dua orang penduduk yang selamat dari pembinasaan yang dilakukan balaprajurit Panjalu sepanjang jalan berlarian masuk kutaraja, memberitahu bahwa yang kejam dan biadab telah membinasakan penduduk desa-desa di selatan yang dilewati.

Dalam ketegangan dan kepanikan itulah Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara memutuskan untuk melakukan perlawanan sampai titik darah penghabisan menghadapi musuh, setelah terlebih dulu memberi perintah kepada Mapanji Bango Samparan, Bekel Pengalasan wineh Sukha, untuk menyelamatkan putera bungsunya: Sang Mapanji Ranggah Rajasa.

Di bawah asuhan dan lindungan Mapanji Bango Samparan yang menjadi petani desa Karuman (Gandawangi). Mapanji Bango Samparan memiliki dua orang isteri, Genuk Buntu dan Tirthaja. Dari Tirthaja, isteri mudanya, Mapanji Bango Samparan memiliki putera Panji Bawuk, Panji Kuncang, Panji Kunal, Panji Kenengkung, dan seorang puteri: Cucupuranti. 

Mapanji Ranggah Rajasa berkawan baik dengan putera dan puteri Mapanji Bango Samparan. Namun Mapanji Bango Samparan mengirim Mapanji Ranggah Rajasa ke Kapundungan untuk belajar membaca dan menulis kepada Janggan bersama Tuan Tita, anak Tuan Sahaya, kepala desa Siganggeng.

Setahun menenggak aneka macam ilmu dari Janggan Kapundungan, Mapanji Ranggah Rajasa tiba-tiba menghilang dan tanpa diketahui siapa pun belajar ilmu kesaktian kepada Mpu Palyat, pemimpin Ksetralaya Dharmakancanasiddhi di Mandala Turyyan yang merupakan murid dari Buyut Kabalwan.

Bagi Mapanji Ranggah Rajasa, pelajaran demi pelajaran dari pengetahuan Yoga-tantra (Yantras) dan Yoga-samadhi dengan upacara Pancamakara bukanlah pelajaran yang sulit. Sebab semenjak diasuh Ra Lembong di Ksetra Katangga, semua dasar pengetahuan Tantra sudah diketahuinya sejak usia anak-anak.

Itu sebab, dalam waktu singkat pengetahuan Mapanji Ranggah Rajasa sudah sangat maju pesat. Dalam usia kurang dari tujuhbelas tahun, Mapanji Ranggah Rajasa sudah menunjukkan kesaktian dan kadigdayaan yang ngedap-edapi, tidak satu pun senjata yang runcing dapat menembus kulitnya dan tidak ada satu pun senjata yang  tajam dapat melukai tubuhnya. Bahkan rambutnya yang panjang terurai tidak dapat dipotong oleh sebarang senjata yang paling tajam.(bersambung)  

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia