Rabu, 17 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 08

Anak yang Melesat Secepat Angin

24 Juli 2017, 18: 25: 43 WIB | editor : Adi Nugroho

Anak yang Melesat Secepat Angin

Share this          

“Penduduk di pinggir alas Katangga sering menyaksikan seorang anak kecil lari secepat angin bersama kijang-kijang yang melesat seperti anak panah”

Sang Brahmaraja pergi meninggalkan Ken Endog dengan anugerah selembar Kain Dadar dan pesan agar Ken Endog menjaga benih yang di dalam perutnya dengan mengatakan bahwa bayi itu adalah putera Sang Brahmaraja.

 Ketika sampai pada waktunya, bayi hasil percintaan antara Sang Brahmaraja dengan Ken Endog lahir. Sesuai pesan Sang Brahmaraja, bayi itu dianugerahi nama Ranggah Rajasa – Sang Kijang Jalang, yang juga bermakna Sang Kijang Putera Raja.

Oleh karena kelahirannya sebagai  bayi tidak melewati pernikahan yang lazim sehingga dianggap memalukan keluarga Gajapara, Ranggah Rajasa kecil pun dititipkannya kepada Ra Lembong, seorang pendeta bhairawa di Ksetra Katangga yang masih keluarga Gajapara.

Menurut cerita, Ranggah Rajasa tumbuh di Alas Katangga di bawah asuhan Ra Lembong dan para bhairawa, brekasakan, mambang, banaspati, dan bhutakala yang menjadikannya tumbuh sebagai anak yang sangat gesit, trengginas, tak kenal lelah, tidak memiliki rasa takut, sekaligus liar dan susah diatur.

Penduduk yang tinggal di pinggir alas Katangga sering menyaksikan seorang anak kecil lari secepat angin bersama kijang-kijang yang melesat seperti anak panah. Penduduk tidak memiliki dugaan lain kecuali menganggap bayangan anak-anak yang melesat secepat angin itu adalah anak banaspati yang sedang bermain-main dengan kawanan kijang.

Saat usianya memasuki sepuluh warsa, Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara mengirim utusan untuk membawa Ranggah Rajasa ke Tumapel. Ken Endog yang sejak peristiwa memalukan itu menghilang tidak diketahui di mana rimbanya, hanya meninggalkan pesan kepada keluarganya bahwa Ranggah Rajasa putera Bhatara Brahma diserahkannya kepada Ra Lembong di Ksetra Katangga.

Tanpa kesulitan utusan Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara membawa Ranggah Rajasa ke Tumapel.  Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara yang mengetahui pertumbuhan Ranggah Rajasa sangat bersukacita.

Ia menganugerahi nama kebesaran bagi putera bungsunya itu menjadi Mapanji Ranggah Rajasa. Ia memiliki harapan agar putera yang diperolehnya dari Ken Endog itu akan dapat menjadi senapati yang dapat mendampingi kekuasaan kakaknya, Sri Tarunaraja Girindratmaja Sang  Brahmaraja Wiswarupalancana, jika kelak menggantikannya sebagai maharaja Tumapel.

Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak. Belum sebulan Mapanji Ranggah Rajasa tinggal di keraton Tumapel, terjadi peritiswa tidak tersangka-sangka di mana  balaprajurit Panjalu di bawah pimpinan Sang Mapanji Jayakerta Tunggul Ametung menyerbu Keraton Tumapel dari arah selatan. (bersambung)

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia