Jumat, 22 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 07

Tak Dapat Menahan Hasrat Cinta

22 Juli 2017, 22: 05: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

KARYA: AGUS SUNYOTO

KARYA: AGUS SUNYOTO (ILUSTRASI: NAKULA AGI - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

“Sang Brahmaraja pergi meninggalkan Ken Endog dengan anugerah selembar Kain Dadar dan pesan agar Ken Endog menjaga benih yang di dalam perutnya”

Tanpa diduga dan tanpa disangka-sangka, Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara berpapasan di jalan yang membentang di pinggir hutan.

Seperti Kama menyaksikan Ratih, Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara seketika jatuh hati pada pandangan pertama.

Dalam amukan cinta yang memabukkan, Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara mngungkapkan perasaan cintanya kepada Ken Endog. Ken Endog yang juga terluka oleh panah asmara Kama, mengungkapkan perasaan hatinya,

“Sungguh, hati hamba telah tertambat oleh Tuan. Tetapi tubuh hamba telah dipinang oleh pertapa muda yang masih kerabat hamba.

Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara yang mengaku sebagai Sang Brahmaraja, teringat pada kisah percintaan yang terjadi antara Sanghyang Baruna dengan Urwashi yang sudah dipinang Bhatara Mithra.

Tanpa dapat menahan hasrat cintanya yang berkobar-kobar, Sang Brahmaraja berkata, “Marilah kita tumpahkan air seni percintaan kita ke dalam kumbha (tempayan) sebagai wujud penyatuan jiwa kita”.

Laksana Sanghyang Baruna dengan Urwashi yang menumpahkan air seni ke dalam tempayan, Sang Brahmaraja dan Ken Endog pun mengisi kumbha dengan air seni mereka yang menyala seperti cahaya rembulan membentuk bayangan seorang bayi berkulit kemerahan laksana tembaga. Setelah itu suasana  gelap gulita.

Sang Brahmaraja pergi meninggalkan Ken Endog dengan anugerah selembar Kain Dadar dan pesan agar Ken Endog menjaga benih yang di dalam perutnya dengan mengatakan bahwa bayi itu adalah putera Sang Brahmaraja.

 Ketika sampai pada waktunya, bayi hasil percintaan antara Sang Brahmaraja dengan Ken Endog lahir. Sesuai pesan Sang Brahmaraja, bayi itu dianugerahi nama Ranggah Rajasa – Sang Kijang Jalang, yang juga bermakna Sang Kijang Putera Raja.

Oleh karena kelahirannya sebagai bayi tidak melewati pernikahan yang lazim sehingga dianggap memalukan keluarga Gajapara, Ranggah Rajasa kecil pun dititipkannya kepada Ra Lembong, seorang pendeta bhairawa di  Ksetra Katangga yang masih keluarga Gajapara. (bersambung)

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia