Selasa, 23 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 05

Tumapel Negara Sakawat Bhumi

21 Juli 2017, 08: 50: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

Tumapel Negara Sakawat Bhumi

Share this          

“Sesuai waktu yang ditetapkan, Sang Mapanji Jayakerta Tunggul Ametung bersama pasukannya menyerang kutaraja Tumapel dari arah selatan”

Selama pengungsian ke Katandan Sakapat di Kalangbrat, Sri Maharaja Kertajaya Srenggalancana didukung oleh putera mendiang Sri Maharaja Sri Kroncaryadipa Sri Gandra: Sang Mapanji Jayakerta yang masyhur dikenal dengan gelar Sang Tunggul Ametung.

Menurut cerita:  Sang Mapanji  Jayakerta Sang Tunggul Ametung dengan bala prajurit sejumlah tiga laksa menyusuri Sungai Warantas ke timur hingga ke tempuran sungai Merta, untuk tujuan menyerang kutaraja Tumapel dari arah yang tidak disangka-sangka.

Sesuai waktu yang ditetapkan, Sang Mapanji Jayakerta Tunggul Ametung bersama pasukannya menyerang kutaraja Tumapel dari arah selatan. Sementara Sri Maharaja Kertajaya Srenggalancana menyerang kutaraja Panjalu dan pasukan yang dipimpinnya berusaha merebut kembali istananya di Katang-katang.

Akibat serangan mendadak yang tidak tersangka-sangka itu Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara beserta putera mahkota Sri Tarunaraja Girindratmaja Sang  Brahmaraja Wiswarupalancana gugur di kedhaton Tumapel bersama para menteri  dalam usaha melawan serangan bala Panjalu yang dipimpin Sang Mapanji Jayakerta Tunggul Ametung.

Putera Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara dari selir yang berusia sepuluh tahun, Sang Mapanji Ranggah Rajasa, berhasil lolos dari maut karena diselamatkan oleh seorang pengalasan bernama Bango Samparan.

Sementara puteri dari Sri Tarunaraja Girindratmaja Sang Brahmaraja Wiswarupalancana, Sri Nareswari Nararya Prajnyaparamitha, tidak berhasil lolos dari sergapan musuh sehingga dijadikan pampasan oleh Sang Mapanji Jayakerta Tunggul Ametung.

Begitulah Tumapel dijadikan negara sakawat-bhumi bagi Panjalu dengan Sang Mapanji Jayakerta Tunggul Ametung diangkat sebagai raja sakawat bhumi  – raja bawahan Sri Maharaja Kertajaya Srenggalancana – dengan tugas utama menjaga pertahanan bumi Tumapel yang merupakan pertahanan alami paling baik dalam melindungi negeri Panjalu.      

Upacara siddhayatra yang dilakukan Bhre Tumapel Nararya Cakradhara atas datu leluhurnya Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara sebagai Sanghyang Dharma kamulan, tidak sekedar ditandai dengan persembahan-persembahan dan sesaji beserta japan mantera dan doa-doa serta pergelaran suci wayang kumara, melainkan dilanjut dengan pembangunan pendharmaan yang sudah menjadi reruntuhan candi kecil tak terawat  tersebut.(bersambung) 

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia