Selasa, 23 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 04

Perintah Menyerang Kutaraja Panjalu

20 Juli 2017, 13: 33: 47 WIB | editor : Adi Nugroho

Perintah Menyerang Kutaraja Panjalu

Share this          

“Dalam berbagai kisah, penyatuan Janggala-Panjalu menjadi masa paling menakjubkan dari kehidupan di Jawadwipa yang selalu diguncang peperangan”

Selain memiliki puteri Nararya Candrakirana, Sri Maharaja Jayamerta memiliki pula putera yang menjadi putera mahkota,  yang diberi kedudukan sebagai Ratu Angabhaya dengan gelar Sri Tarunaraja Girindratmaja Sang Brahmaraja Wiswarupalancana.

Begitulah Sri Tarunaraja Girindratmaja  Sang  Brahmaraja Wiswarupalancana adalah adik dari Nararya Candrakirana. Selain itu, dari seorang selir asal desa Pangkur di sekitar Hutan Wiracarita (Alas Katangga),  Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara memiliki putera Sang Mapanji Ranggah Rajasa.

Dalam berbagai kisah, penyatuan Janggala-Panjalu menjadi masa yang paling menakjubkan dari kehidupan di bumi Jawadwipa yang selalu diguncang peperangan dengan pertumpahan darah menjadi tata tentrem kerta raharja.

Sandang dan pangan melimpah. Keamanan terjamin. Ketenteraman terjaga. Kedamaian terpelihara. Namun dalam kehidupan dunia yang tidak pernah langgeng, di mana semua kelimpahan dan keaman-tenteraman di masa persatuan Janggala-Panjalu itu berakhir seiring mangkatnya Sri Kameswara.

Menurut cerita: seyogyanya, sepeninggal Sri Kameswara yang menggantikan adalah putera mahkota Sang Tarunaraja Mapanji Sastrajaya. Namun sebelum upacara penyempurnaan jenazah Sri Kameswara dan penobatan Sang tarunaraja Mapanji Sastrajaya dilakukan, Sri Kertajaya, adik kandung Sri Kameswara mengambilalih tahta Panjalu dengan nama Abhiseka; Sri Maharaja Sri Sarweswara Triwikramawatara Anindita Srenggalancana Digjaya Uttunggadewa Kertajaya.

Pengangkatan sepihak Sri Maharaja Kertajaya menjadi maharaja Janggala-Panjalu menggantikan Sri Kameswara membawa kemarahan Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara, yang dengan kemarahan menyala-nyala memerintahkan kepada puteranya, Sri Tarunaraja Girindratmaja Sang  Brahmaraja Wiswarupalancana, untuk menyerang kutaraja Panjalu. 

Begitulah, Sri Tarunaraja Girindratmaja Sang  Brahmaraja Wiswarupalancana memimpin  pasukan Jenggala dari Tumapel menyerang kutaraja Panjalu, yang membuat Sri Maharaja Kertajaya Srenggalancana meninggalkan kutaraja menuju Kalangbrat dengan diikuti sisa-sisa pengawal dan prajuritnya.

Selama pengungsian ke Katandan Sakapat di Kalangbrat, Sri Maharaja Kertajaya Srenggalancana didukung oleh putera mendiang Sri Maharaja Sri Kroncaryadipa Sri Gandra: Sang Mapanji Jayakerta yang masyhur dikenal dengan gelar Sang Tunggul Ametung. (bersambung) 

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia