Selasa, 16 Jul 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 02

Permata di Antara Anak Cucu

19 Juli 2017, 17: 10: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

KARYA: AGUS SUNYOTO

KARYA: AGUS SUNYOTO (ILUSTRASI: NAKULA AGI - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

“Barang empat lima windu bertahan hidup, anak cucu Dyah Hasin bertebaran ke berbagai negeri yang jauh meninggalkan Kedhaton Hasin yang merana kesepian”

Pada tahun 710 Saka sewaktu Narapati Anana mangkat digantikan oleh putera terkasihnya, Narapati Amertajaya, terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka karena Rakai Panunggalan cucu Rakai Mataram Ratu Sanjaya secara mendadak menyerbu dan menguasai Kedhaton Kanjuruhan.

Narapati Amertajaya gugur dalam mempertahankan kedhaton. Putera mahkota Kanjuruhan Dyah Ranu dibawa ke Mataram dan diangkat menjadi anak oleh Rakai Panunggalan dengan diberi kedudukan sebagai Kanuruhan.

Adik Dyah Ranu yang berhasil meloloskan diri, Dyah Hasin, tinggal tersembunyi di lembah barat  Gunung Mahameru sebagai raja kecil yang memiliki wilayah tidak lebih dari tiga wisaya. Barang  empat lima windu bertahan hidup, anak cucu Dyah Hasin bertebaran ke berbagai negeri yang jauh meninggalkan Kedhaton Hasin yang merana kesepian, yang dengan berbagai siasat berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Berbelas windu berlalu anak keturunan Narapati Gajayana berserakan di berbagai negeri – dengan sebagian mengabdi sebagai Kanuruhan di Medang  Mataram – sampai lahir permata di antara anak cucu Narapati Dewasimha dari galur Narapati Gajayana: Rakryan Sri Mahamentri Pu Sindok  Sang Sri Sajjanotunggadewawijaya, putera  Rakai Wka Sri Sajjanotunggadewa.

Dari permata di antara anak cucu Narapati Dewasimha yang naik tahta dengan gelar Sri Maharaja Rake Hino Sri Isana Wikramadharmotunggadewa yang berkedhaton di Watugaluh itulah bangkit kembali anak-anak Gajayana dari bawah reruntuhan kebesaran masa silamnya.

Kemakmuran dan kesejahteraan yang selama belasan windu menghilang, tiba-tiba menebar kembali di belahan bumi timur Jawadwipa. Dalam usaha membangun kekuatan dan kekuasaan yang lebih kuat, Sri Maharaja Rake Hino Sri Isana Wikramadharmotunggadewa, membagi-bagi tanah sima bagi siapa pun di antara pendudukan yang tinggal di bekas wilayah Kanjuruhan yang setia mengabdi kepadanya.

Dengan kedhaton di Watugaluh dan kutaraja di Tamwlang Kahuripan, Sri Maharaja Rake Hino Sri Isana Wikramadharmotunggadewa Pu Sindok mengumpulkan serpih-serpih keturunan Sri Narapati Dewasimha untuk membangunan kekuasaan baru di bekas wilayah kekuasaan datu leluhur.

Kedermawanan dan keadilan serta perlindungan yang diberikan  Sri Maharaja Rake Hino Sri Isana Wikramadharmotunggadewa kepada para kawula, telah menimbulkan gelombang perpindahan penduduk dari wilayah Mataram ke timur.(bersambung)

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia