Kamis, 14 Nov 2019
radarkediri
icon-featured
Cerbung
Mpu Gama 01

Sang Dharma Kamulan i Turyyan

19 Juli 2017, 16: 42: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

KARYA: AGUS SUNYOTO

KARYA: AGUS SUNYOTO (ILUSTRASI: NAKULA AGI - RadarKediri/JawaPos.com)

Share this          

“Mada ingat bagaimana sejak senja merayapi rembang malam ia sudah memusatkan kekhusyukan jiwa menembus batas dari tanda-tanda alam”

Pada pagi buta bulan bhadra, ketika barisan perbukitan dan gunung-gunung yang memagari Bumi Tumapel diselimuti kabut tebal yang bergumpal-gumpal, Mada berdiri tegak di depan reruntuhan candi kecil yang tegak di sebuah lembah kecil di kaki bukit di sekitar pertapaan Turyyan yang di dekatnya terdapat mata air yang sangat jernih laksana cermin di tengah hamparan permadani hijau.

Sejak tengah malam Mada sudah berada di sekitar candi kecil itu, meyakinkan kebenaran cerita dari Janggan Smaralalitaswara tentang candi yang merupakan pendharmaan Sang Dharma Kamulan i Turyyantapada Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara.

Mada ingat bagaimana sejak senja merayapi rembang malam ia sudah memusatkan kekhusyukan jiwa menembus batas dari tanda-tanda alam yang melingkupi reruntuhan candi kecil yang menyimpan abu Maharaja Jenggala di tumapel itu. 

Lalu seiring makin larutnya senjakala, di tengah kekhidmatan upacara siddhayatra yang malam itu menggelar pertunjukan wayang yang dimainkan dhalang kumara, Mada terkejut ketika mendapati paparan dhalang kumara tentang silsilah leluhur Bhre Tumapel Nararya Cakradhara yang mengalir dari Sanghyang Dharmakamulan i Paradah Lor Sang Narapati Dewasimha hingga Sang Dharmakamulan i Turyyantapada. Sri Maharaja Jayamerta Sang Brahmaraja Girindrattama Girinatha Wiswarupakumara.

Sebab sebagian kisah sang dhalang kumara mengenai leluhur Nararya Cakradhara bersinggungan dengan nama Narapati Gajayana, Narapati Anana dan Sang Pradaputra beserta keturunannya, nama-nama yang sebagian tercantum di dalam prasasti-prasasti  yang sudah dibacanya.

Bagaimana dhalang kumara yang dalam keadaan tidak sadar karena kerasukan arwah dapat mengetahui  nama-nama yang terdapat dalam prasasti-prasasti yang pernah dibacanya, sementara tidak satu pun dhalang yang pernah membaca prasasti berbahasa Sansekerta yang kadang  ditulis dengan aksara Jawa itu.

Mengabaikan tanda tanya yang berkerumun di dalam benaknya, Mada berusaha menerima uraian cerita yang dituturkan sang dhalang kumara dalam memaparkan silsilah sekaligus kisah leluhur Nararya Cakradhara, yang kira-kira ringkasan ceritanya sebagai berikut:    

Pada tahun 710 Saka sewaktu Narapati Anana mangkat digantikan oleh putera terkasihnya, Narapati Amertajaya, terjadi sesuatu yang tidak disangka-sangka karena Rakai Panunggalan cucu Rakai Mataram Ratu Sanjaya secara mendadak menyerbu dan menguasai Kedhaton Kanjuruhan. (bersambung) 

(rk/*/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia