Selasa, 17 Jul 2018
radarkediri
icon featured
Ekonomi

PKL di SLG Gerah karena Sering Dipindah

Kamis, 15 Mar 2018 16:25 | editor : Adi Nugroho

pkl simpang lima gumul - radar kediri

UNJUK ASPIRASI: Para PKL di kawasan Simpang Lima Gumul, Ngasem berkumpul menyampaikan aspirasinya. (RAMADANI WAHYU - JawaPos.com/RadarKediri)

KEDIRI KABUPATEN- Puluhan pedagang kaki lima (PKL) yang biasa berjualan di Simpang Lima Gumul (SLG) melakukan protes kemarin. Farid Hanafi, perwakilan PKL, menyatakan bahwa adanya relokasi berulang-ulang malah menyebabkan pedagang bingung.“Kalau dipecah-pecah antara kuliner di Taman Hijau dan non-kuliner di Pasar Tugu itu nggak logis Mbak,” paparnya.

Pasalnya, jarak antara Pasar Tugu dan Taman Hijau sangat jauh. Menurut Farid, hal ini menyebabkan konsumen kesulitan bila ingin membeli dagangan mereka. “Nggak setuju karena di Pasar Tugu sepi dan panas Mbak. Lebih enak kalau nggak dipisah antara kuliner dan non-kuliner,” ujar Herlina Sulastri, PKL asal Gurah yang berjualan pukis.

Menunggu teman-teman untuk berunding. “Kita nggak lama kok, cuma empat jam saja di hari Minggu, mbok jangan direlokasi terus,” urainya.

Dulu awalnya di di sekitar lapangan, lalu dipindah di Taman Hijau. Lalu dipindah lagi yang kuliner di Pasar Tugu. Sedangkan yang yang non-kuliner di Taman Hijau. “Kemarin itu pemkab mengajukan uji coba dua minggu atau dua kali Mbak, nah ini nanti saya diskusikan dengan teman-teman,” terangnya.

Menurut PKL, selama ini mereka manut dengan melakukan pembersihan sampah, dan dipindah diberi lapak sendiri-sendiri. Tapi dengan adanya relokasi yang berpindah-pindah membuat bingung.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Krisna Setiawan mengatakan, saat ini Pemkab Kediri lebih mengedepankan kenyamanan bagi masyarakat yang datang ke kawasan Simpang Lima Gumul (SLG). “Tujuannya supaya tertib,” tuturnya.

Apalagi, saat ini kawasan SLG merupakan salah satu destinasi di Kabupaten Kediri yang menjadi aktivitas masyarakat.  Di antaranya untuk olahraga dan berwisata. “Harapannya, semua masyarakat mendapatkan manfaat maksimal dari kawasan ini,” tegasnya. Karena itulah, maka penataan ini memang diperlukan.

(rk/*/die/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia