Selasa, 07 Dec 2021
Radar Kediri
Home / Politik
icon featured
Politik

Tol Kediri Kertosono Bikin Warga Bingung Kehilangan Mata Pencaharian

Warung di Desa Singkalanyar Ikut Tergusur

23 November 2021, 09: 04: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

Tol Kediri Kertosono Bikin Warga Bingung Kehilangan Mata Pencaharian

Tol Kertosono - Kediri (Ilustrasi: Afrizal Saiful Mahbub - Radar Kediri)

Share this      

PRAMBON, JP Radar Nganjuk- Pembangunan Tol Kediri-Kertosono tidak hanya membuat tiga warga di Desa Gondanglegi, Kecamatan Prambon kehilangan rumahnya. Berdasarkan pengamatan wartawan koran ini kemarin, patok Tol Kediri-Kertosono yang menancap di area rumah warga di Desa Singkalanyar, Kecamatan Prambon cukup banyak. Ada puluhan patok kuning di sana. Sekitar 30 rumah di Desa Singkalanyar yang ada patok kuningnya. “Saya bingung setelah tahu ada patok kuning tol di sebelah barat dan timur,” keluhnya kemarin.

Dengan adanya dua patok yang menghimpit rumahnya, Suwito sadar jika tol dengan lebar 60 meter itu akan memakan rumahnya. Sehingga, dia harus segera bersiap mencari rumah pengganti. “Bingung karena belum pegang uang,” ujarnya.

Selain itu, bapak satu anak ini juga bingung jika harus pindah. Karena rumah yang telah dihuninya puluhan tahun itu juga digunakan untuk berjualan sate. Pekerjaan sehari-hari Suwito adalah pedagang sate. “Kalau pindah, saya jualan di mana,” ujarnya dengan nada tanya.

Baca juga: Pemkab Kediri Gagas Pelebaran Jalan di Exit Tol

Tol Kediri Kertosono Bikin Warga Bingung Kehilangan Mata Pencaharian

WASWAS: Warung Jaeni di Desa Singkalanyar dipasang patok Tol Kediri-Kertosono. Jaeni menjadi bingung. (Andhika Attar- Radar Kediri)

Sampai kemarin, pria berusia 40 tahun ini belum mendapatkan kejelasan tentang ganti rugi jika rumahnya terkena tol. Karena itu, setiap hari, Suwito selalu mencari informasi tentang tol dan ganti rugi untuk rumah atau sawah warga yang terdampak. “Mudah-mudahan tidak merugikan masyarakat,” ujarnya sembari mengaku waswas melihat harga rumah yang setiap tahun mengalami kenaikan.

Jika diizinkan memilih, Suwito lebih senang tidak digusur. Karena jika harus pindah ke lokasi baru maka butuh adaptasi lagi. Hal itu belum tentu mudah. “Patok kuning tol ini bikin kami kepikiran terus setiap hari,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Jaeni, 57, tetangga Suwito. Rumah beserta warung kopi miliknya juga terancam digusur. Bahkan, patok berwarna kuning tersebut menancap tepat di depan warungnya. “Saya kerjanya juga jualan di warung. Kalau disuruh pindah, mau jualan di mana?” tanyanya.

Sejatinya, baik Wito maupun Jaeni mengaku pasrah jika harus pindah. Karena kepentingan Tol Kediri-Kertosono lebih besar. Namun, mereka berharap, ganti rugi yang diberikan sesuai dan tidak merugikan masyarakat. Pemerintah juga harus memikirkan mata pencaharian masyarakat yang harus hilang karena terkena dampak tol. “Kami jangan dirugikan,” ingatnya.

Sementara itu, Camat Prambon Kuwadi mengatakan, pendataan aset yang terkena dampak Tol Kediri-Kertosono masih dilakukan. Jumlah rumah, sawah, dan fasilitas umum di Prambon yang terkena dampak tol masih belum bisa diketahui jumlahnya. “Saat ini masih proses pemasangan patok tol,” ujarnya.

Untuk ganti rugi, Kuwadi mengatakan, akan melakukan sosialisasi ke warga yang terdampak setelah pendataan selesai. Warga akan dikumpulkan untuk sosialisasi  tersebut.

(rk/tar/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia