Selasa, 07 Dec 2021
Radar Kediri
Home / Politik
icon featured
Politik
Semangat Pondok Pesantren di Hari Santri

Harus Melek Teknologi dan Paham Agama

22 Oktober 2021, 11: 19: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

Harus Melek Teknologi dan Paham Agama

SERIUS: Santriwati di ITM belajar mengoperasikan mesin bubut kemarin. Santri harus melek teknologi dan paham agama. (Andhika Attar - Radar Kediri)

Share this      

Santri tidak hanya belajar agama Islam di pondok pesantren. Namun, mereka juga harus melek teknologi. Karena saat ini, teknologi berkembang pesat. Tanpa menguasai teknologi, santri akan kesulitan bersaing di dunia kerja.

Hari Santri diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Banyak harapan disematkan di pundak para santri. Tak terkecuali santri di Kota Angin. Santri masa kini dituntut tidak hanya sekadar bisa mengaji. Namun juga mengikuti setiap perkembangan zaman.

Hal ini seperti diterapkan di Pondok Pesantren Mojosari. Pengurus di sana tidak hanya mendorong para santri untuk fasih dalam dunia agama saja. Namun juga mahir di dunia teknologi. Komitmen ini akhirnya terwujud berdirinya Institut Teknologi Mojosari (ITM), Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, Nganjuk. “ITM ini resmi berdiri pada Agustus 2021,” ujar Rektor ITM Wardi saat ditemui Jawa Pos Radar Nganjuk di ruang kerjanya kemarin.

Baca juga: Pemkot Tunggu Lahan Pengganti TPA Klotok

Meski baru seumur jagung, namun cita-cita luhur pendirian institut tersebut sejatinya telah digagas sejak awal tahun 2000-an. Yakni oleh Pengasuh Ponpes Mojosari Almarhum KH Bastomi. Menurut keterangan Wardi, sang kiai memang memiliki pandangan yang visioner terhadap dunia santri.

Ide mulia tersebut semakin diperkuat lagi pada 2019 silam. Sayang, kondisi pandemi Covid-19 membuat proses pengurusan izin dan pendirian institut sedikit terhambat. Hingga akhirnya baru bisa terealisasi pada pertengahan tahun ini. “Para alumni banyak yang mendorong agar cita-cita tersebut dapat diwujudkan,” imbuh pria yang berdomisili di Desa Kedungombo, Kecamatan Pace tersebut.

ITM kini telah membuka tiga program studi (prodi). Antara lain prodi teknik industri, sistem informasi, dan pendidikan teknologi informasi. Total, ada sebanyak 53 orang yang terdaftar sebagai mahasiswa di sana. Selain diajarkan terkait dunia teknologi dan pendidikan, mereka juga tetap dibekali dengan ilmu agama.

“Santri juga harus mengikuti teknologi dan perkembangan zaman yang ada. Kita tidak tertinggal dengan yang lainnya,” tegas ayah dua anak tersebut.

Bahkan dengan bekal agama yang telah diperoleh para santri selama bertahun-tahun justru menjadi nilai tambah tersendiri. Pasalnya, mereka diyakini telah memiliki karakter yang kuat. Sehingga diharapkan mampu bermanfaat dan terjun langsung di masyarakat ke depannya.

Wardi mengakui bahwa banyak pihak yang memandang sebelah mata dengan kualitas seorang santri. Yang mana selalu dicap hanya fasih dalam dunia agama saja. Namun, dengan keberadaan santri yang melek teknologi ini pihaknya berharap bahwa stigma tersebut semakin hari bisa terkikis.

Sementara itu, Imam Hanafi, siswa SMK Mojosari menganggap adanya perguruan tinggi di pondok pesantrennya menjadi harapan para santri untuk bisa bersaing di dunia kerja. Karena mereka tidak perlu jauh-jauh kuliah ke luar daerah. “Setelah lulus dari SMK, saya akan kuliah di sini,” ujarnya.

(rk/tar/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia