Sabtu, 28 May 2022
Radar Kediri
Home / Politik
icon featured
Politik

Pengelola E-warong Kota Kediri Bebas Pilih Supplier di BPNT Terakhir

Kualitas Beras Bagus, Telur Jelek

17 Januari 2022, 11: 46: 26 WIB | editor : Adi Nugroho

Pengelola E-warong Kota Kediri Bebas Pilih Supplier di BPNT Terakhir

Share this      

KOTA, JP Radar Kediri–Pengelola e-warong ikut angkat suara terkait penyidikan kasus dugaan korupsi penyaluran bantuan pangan non-tunai (BPNT) oleh oknum Dinas Sosial Kota Kediri. Mereka menyebut kualitas telur yang dipasok supplier tahun ini lebih jelek dibanding pasokan telur dalam BPNT 2019 silam atau sebelum pandemi Covid-19.

          Seperti diungkapkan oleh Su, pengelola e-warong salah satu kelurahan di Kecamatan Mojoroto. Menurutnya, dari tiga jenis barang yang dipasok supplier, kualitas telur yang tergolong jelek. “Kalau untuk berasnya bagus. Premium. Kacang-kacangan juga bagus,” katanya.     

          Ditemui di warungnya pada Jumat (14/1) lalu, perempuan yang juga ikut diperiksa oleh penyidik Kejari Kota Kediri ini menjelaskan, saat dirinya mengambil telur di supplier BPNT tahun 2019 lalu, dia mendapat telur dengan kualitas grade A. Adapun sejak 2020 dan 2021 lalu, kualitas telurnya lebih jelek.

Baca juga: Hari Ini Warga Bedrek Terima Pembayaran Tanah

          Indikasinya, telur yang dibagikan dicampur antara kulit yang berwarna cokelat dan putih. Di pasaran, harga telur ayam warna ini lebih murah. “Dikemas di plastik gampang pecah. Juga mudah busuk,” lanjutnya sembari menyebut hal itu sudah dijelaskan ke penyidik korps adhyaksa.

          Mengapa dia tetap mengambil barang ke pemasok tersebut? Perempuan yang berusia sekitar 40 tahun itu mengaku hanya menurut instruksi dari pendamping BPNT. “Ya saya juga manut saja. Saat didatangi dari pihak pendamping disuruh ambil barang ke tiga supplier pilihan dari dinsos,” tuturnya.

          Perempuan yang sudah ditunjuk menjadi e-warong selama tiga tahun itu

Menjelaskan, sosialisasi pengambilan barang ke tiga pemasok tersebut dilakukan pada awal 2020. Yakni, sekitar bulan Maret. Saat itu, pengelola e-warong sering diajak rapat oleh pendamping dan supplier.

          Rapat koordinasi dengan pendamping dan supplier semakin intens dilakukan jelang pencairan BPNT. Rapat dilakukan secara bergiliran di rumah pengelola e-warong.

          Dalam kesempatan tersebut, supplier juga sempat menunjukkan barang yang akan mereka jual. Saat itu, Su mengaku sudah sempat komplain karena kualitas telur yang dijual bukan grade A seperti tahun 2019 silam. “Mereka mengatakan akan mengganti dengan kualitas bagus saat penyaluran,” papar perempuan yang diperiksa penyidik pada November 2021 silam.

          Tetapi, saat penyaluran ternyata kualitas telur yang dibagikan tetap bukan yang terbaik. Adapun untuk beras dan kacang-kacangan kualitasnya bagus. Dia mengaku cukup puas dengan kualitas yang bagus dan tidak pernah dikeluhkan penerima BPNT.

          Sementara itu, sejak kasus dugaan korupsi BPNT diusut Kejari Kota Kediri, Su menyebut pada penyaluran terakhir Desember 2021 lalu pengelola e-warong tidak lagi diwajibkan mengambil pada tiga supplier. Melainkan dibebaskan kulakan ke supplier manapun. “Saya kembali ambil telur ke supplier lama (2019, Red). Kualitasnya bagus,” beber Su.

          Terpisah, Kasi Intelijen Kejari Kota Kediri Hary Rachmat menyebut, minggu ini pihaknya melanjutkan pemeriksaan saksi. Total ada enam saksi yang dipanggil untuk diperiksa kembali di tahap penyidikan.

          Selain melanjutkan pemeriksaan saksi, jaksa asal Sumatera ini menegaskan, penyidik juga melanjutkan pendataan barang bukti. “Selanjutnya akan kami lakukan langkah penyitaan,” urainya lewat WhatsApp. (ica/ut) 

(rk/rq/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia