Minggu, 24 Oct 2021
Radar Kediri
Home / Politik
icon featured
Politik

Belajar Darling di Kamar saat Pandemi

Ratusan Hamil Duluan

14 Oktober 2021, 10: 45: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

Belajar Darling di Kamar saat Pandemi

Belajar Darling (Ilustrasi: Afrizal Saiful Mahbub - Radar Kediri)

Share this      

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Ratusan pelajar di Kota Angin yang hamil duluan sebelum menikah memantik reaksi Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk. Disdik menganggap, banyaknya pelajar yang mengajukan dispensasi kawin di Pengadilan Agama (PA) Kabupaten Nganjuk karena hamil duluan disebabkan belajar daring. Dengan sistem belajar daring, remaja diwajibkan menggunakan smartphone di rumah. Ironisnya, usia mereka adalah usia yang sangat rawan. Akibatnya, siswa tidak hanya browsing materi pelajaran tetapi hal-hal yang berbau pornografi. Mereka menjadi belajar darling bukan belajar daring seperti yang diharapkan. “Inilah salah satu dampak negatif dari pembelajaran daring,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nganjuk Dr Sopingi AP MM kemarin.

Sebenarnya, sebelum pandemi Covid-19, smartphone adalah benda yang haram masuk sekolah. Dinas pendidikan sudah melarang siswa membawa handphone ke sekolah. Tujuannya siswa bisa fokus belajar di sekolah dan tidak menyebabkan kecemburuan sosial. Selain itu, smartphone ini seperti pisau bermata dua. Jika salah menggunakan akan merugikan orang yang memakainya. Sedangkan, usia pelajar masih belum siap secara mental menggunakan smartphone. “Tapi karena pandemi Covid-19 dan adanya kebijakan belajar daring dengan menggunakan smartphone maka mau tidak mau siswa akhirnya menggunakan handphone,” ujarnya.

Apesnya, kata mantan kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Nganjuk ini, orang tua juga kesulitan mengontrol anaknya saat menggunakan handphone. Karena harus bekerja untuk mencari nafkah. Sehingga, tidak tahu apa yang sedang dilakukan anaknya dengan handphonenya.

Baca juga: Pemkab Kediri Bekali Keterampilan Puluhan Korban Covid

Sayang, Sopingi mengaku belum mengetahui berapa siswi SMP yang hamil duluan selama pandemi Covid-19. Karena laporan tentang siswi SMP hamil dan memutuskan drop out (DO) selama pandemi Covid-19 belum masuk ke disdik.

Karena itulah, saat pembelajaran tatap muka (PTM) digelar lagi, Sopingi mengaku sangat senang. Guru dan orang tua menyambut antusias. Meski hanya PTM terbatas tetapi sudah menjadi angin segar bagi orang tua untuk melindungi buah hatinya.

Di PTM terbatas ini, disdik meminta semua sekolah mulai dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP) untuk memberikan penambahan materi akhlak. Untuk siswa yang beragama Islam, wajib memberikan laporan tentang kegiatan agama di rumah. Mulai dari mengaji hingga salat berjamaah. Buku laporan tersebut wajib ditandatangani ustad atau ustazah. “Penambahan materi akhlak ini untuk mengurangi dampak dari pengaruh negatif smartphone,” ujar Sopingi.

Sementara itu, Ketua Pengadilan Agama Kabupaten Nganjuk Abdul Hakim SAg SH MH melalui Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama Kabupaten Nganjuk M. Nafi’ SH MHI mengatakan, pengajuan dispensasi kawin didominasi adalah pelajar. Mereka masih aktif sekolah. Namun, karena hamil duluan akhirnya mengajukan dispensasi kawin agar bisa menikah. Sebab, usianya masih di bawah 19 tahun. Padahal, syarat minimal pernikahan, usia calon pengantin adalah 19 tahun. “Ini harus jadi perhatian kita semua agar angka pernikahan dini bisa ditekan,” ujarnya.

(rk/tar/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2021 PT. JawaPos Group Multimedia