Sabtu, 28 May 2022
Radar Kediri
Home / Politik
icon featured
Politik

Awas, DB di Kediri Mulai Melonjak

07 Desember 2021, 10: 00: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

Awas, DB di Kediri Mulai Melonjak

Share this      

KOTA, JP Radar Kediri- Musim hujan membuat nyamuk mudah berkembang biak. Kondisi itu memberi dampak bagi kesehatan warga, terutama terkait serangan deman berdarah dengue (DBD). Dua bulan terakhir kasus penyakit ini mengalami peningkatan.

Eskalasi mulai terlihat pada Oktober. Di bulan itu ada enam kasus DBD. Kemudian November lalu menjadi 14 kasus.

“Dibanding tahun lalu trennya juga tinggi,” kata Kasi Pencegahan dan Penularan Penyakit Menular (P2P) Dinas Kesehatan Hendik Suprianto. Meskipun kasunya naik tapi tidak ada korban jiwa.

Baca juga: Butuh Puluhan Miliar untuk Akses Tol Kediri Kertosono

Musim hujan ikut menjadi faktor yang menyebabkan nyamuk mudah membiak. Karena itu Hendik mengimbau agar warga terus menjaga kebersihan lingkungan. Terutama lokasi yang bisa menyebabkan nyamuk aedes aegypti berkembang biak. Seperti di tempat fasilitas umum, sekolah, perkantoran, hingga tempat ibadah. Selain itu, kasus ini demam berdarah ini juga banyak ditemukan di lokasi yang padat penduduk.

“Sekolah sudah mulai menjalani tatap muka terbatas. Jika tempat belajar tidak dibersihkan bisa menjadi potensi munculnya kasus baru,” ungkap pria berkacamata itu.

Rumah kosong yang tidak ditinggali juga punya potensi yang sama. Biasanya, nyamuk akan bersarang di air hujan yang tergenang di lantai atau di barang bekas seperti kaleng, gelas, atau plastik.

“Memang harus dibersihkan. Gerakan pemberantasan sarang nyamuk tetap harus digalakkan,” ungkap Hendik.

Sementara itu, hingga November, kasus terbanyak berada di Kecamatan Pesantren. Jumlahnya sebanyak 39 kasus. Sedangkan di Kecamatan Mojoroto ada 23 kasus. Dan, paling rendah jumlahnya 14 kasus di Kecamatan Kota.

Untuk diketahui, sejak adanya wabah korona, kasus DB di Kota Kediri mengalami penurunan. Ada dugaan, warga enggan ke puskesmas karena takut tertular virus korona. Bahkan kasus kematian pada 2020 lalu hanya satu kasus.

Sementara itu, dalam kurun lima tahun terakhir, kasus tertinggi terjadi 2016 lalu mencapai 338 kasus dengan angka kematian satu orang. Lalu, pada 2017 menurun menjadi 155 kasus dengan kematian nihil. Pada 2018, ada 215 kasus dengan kematian hanya satu kasus. Kematian tertinggi pada 2019, dari 223 kasus, korban jiwanya ada tiga kasus.(rq/fud)

 

(rk/rq/die/JPR)

 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
Facebook Twitter Instagram YouTube
©2022 PT. JawaPos Group Multimedia