Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Wanita-wanita Rentan di Kediri yang Meretas Asa di Panti Rehabilitasi

Ayu Ismawati • Rabu, 21 Agustus 2024 | 17:16 WIB
JAGA KEBUGARAN: Penghuni Panti RSBKW mengikuti senam pagi dipimpin instruktur dari Dinas Sosial Kota Kediri, Selasa (20/8) kemarin. Puluhan wanita rentan sosial ekonomi mendapat berbagai pelatihan sel
JAGA KEBUGARAN: Penghuni Panti RSBKW mengikuti senam pagi dipimpin instruktur dari Dinas Sosial Kota Kediri, Selasa (20/8) kemarin. Puluhan wanita rentan sosial ekonomi mendapat berbagai pelatihan sel

JP Radar Kediri- Mila seakan tak memedulikan bisingnya deru kendaraan yang melintas di Jalan Semeru. Wanita 47 tahun ini dengan asyiknya duduk di teras, di depan kamar. Tempatnya tinggal selama ini, di Panti Rehabilitasi Sosial Bina Karya Wanita (RSBKW).

Panti rehabilitasi milik Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur yang berada di Kelurahan Tamanan, Kecamatan Kota.

Sesekali dia tersenyum kecil. Atau tertawa renyah. Tergelak menyaksikan tingkah polah rekan-rekannya sesama penghuni panti.

“Saya tak punya siapa-siapa di rumah. Suami baru meninggal. Kalau di sini kan ramai,” ucap Mila.

“Di sini bisa belajar keterampilan. Banyak teman juga. Saya aja berasa muda terus karena kebanyakan temannya anak-anak muda di sini,” lanjutnya, sembari terus menyimak ucapan seorang petugas dinsos.

Bagi perempuan-perempuan ini, panti rehabilitasi yang mereka tempati tersebut sudah seperti rumah kedua. Tempat mereka memulihkan dan menempa diri. Sebelum kembali berbaur dengan masyarakat sebagai sosok yang baru. Yang lebih baik dari sebelumnya.

Seperti hari itu misalnya. Wanita berjilbab ini menyimak kegiatan bimbingan sosial-masyarakat dari Dinas Sosial Kota Kediri.

Menjadi selingan kegiatan utama berupa bimbingan karakter, rohani, hingga pemberian keterampilan.

Tapi, jangan salah kira dulu, Mila-dan juga wanita-wanita yang berkegiatan ini-bukanlah seorang pekerja seks komersial yang terjaring razia.

Mereka hanya perempuan yang lebih rentan secara sosial dan ekonomi. Wanita yang rentan termarjinalisasi. Setidaknya bila dibanding wanita-wanita lain.

“Yang ada di sini tak selalu pekerja seks komersial,” terang Kepala UPT RSBKW Kediri Budiharjo.

Para wanita di panti rehabilitasi ini, menurut Budiharjo, berasal dari berbagai latar belakang. Yang punya satu tujuan sama. Menjadi perempuan yang bisa berdikari di tengah keterbatasan kondisi.

Para wanita yang masuk kelompok rentan sosial-ekonomi ini kebanyakan berusia muda. Tapi, ada pula yang berstatus janda, yang menjadi tulang punggung keluarga.       

“Di sini kami siapkan dulu keterampilan dan mentalnya sebelum kembali ke masyarakat dan berkarya,” jelas Budiharjo.

Meski dijuluki panti rehab, suasana di tempat ini jauh dari kata menegangkan atau menakutkan. Justru suasana cair terpancar dari berbagai aktivitas.

Tak jarang para penerima manfaat-sebutan untuk penghuni panti-bersenda gurau dengan para pekerja sosial (peksos). Sekadar duduk melingkar di bawah pohon sembari menikmati segelas es di siang hari yang terik jadi aktivitas yang lumrah ditemui.   

“Kalau WRSE (wanita rentan sosial ekonomi) cenderung lebih mudah pendampingannya. Gerbang kami buka pun tetap aman. Beda kalau WTS (wanita tuna susila). Sampai kabur-kabur manjat pagar pun pernah,” kata Sukmono, salah seorang pekerja sosial.

Kebetulan, tahun ini belum ada wanita tuna susila yang menjadi penghuninya. Yang, menurut pengakuan Suknomo, lebih sulit untuk diberi pembinaan.

“Mereka cenderung selalu cari cara untuk keluar dari sini. Entah pakai pihak germo atau dari luar yang membantu. Itu biasa terjadi,” ujar pria yang telah puluhan tahun menjadi peksos ini.

Tak jarang pula para peksos mendapat intimidasi dari si germo yang ingin mengambil kembali anak buahnya. Di kondisi seperti itu, baginya sudah menjadi tugas mereka untuk pintar-pintar menyampaikan argumentasi.

“Yang berusaha kabur juga banyak. Seringnya lompat pagar di waktu-waktu lengahnya pengawasan. Seperti waktu salat Maghrib,” lanjutnya, menceritakan suka duka mendampingi seorang PSK.

Mengonfrontasi germo yang datang untuk mengambil lagi seorang PSK pun jadi tugasnya. Para muncikari itu kerap menunjukkan upaya dengan berbagai cara. Seperti, mengaku sebagai keluarga hingga melibatkan perangkat desa.

“Pernah alasan katanya kasihan, nanti mau dibina sendiri. Ya nggak mungkinlah. Mana ada dia mau ngambil terus direhab? Yang jelas mau dipekerjakan lagi,” bebernya.

 Padahal, tujuan penampungan itu tak lepas dari upaya rehabilitasi. Terutama bagi perempuan tuna susila. Mulai dari penanaman karakter, pelatihan keterampilan, hingga pendampingan kesehatan.  

“Yang juga sering kami temui dari WTS di sini itu penyakit IMS (infeksi menular seksual, Red). Itu juga kami dampingi untuk pengobatannya. Di luar itu, semua juga kita ajak untuk tes VCT (deteksi HIV AIDS, Red),” pungkasnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #Panti #Wanita Rentan #dinas sosial #rehabilitasi #jawa pos