“Kalau kerja di luar perawat mungkin bisa. Tapi ya itu, eman sama ijazahnya.” Kalimat itu diucapkan oleh AA, seorang perawat di salah satu klinik di Kabupaten Kediri. Sang perawat mengatakan itu setelah ditanya alasan tetap bertahan bekerja menjadi perawat dengan gaji kecil. Sementara ada pekerjaan lain yang menawarkan upah lebih menggiurkan.
Ya, AA-dan banyak perawat lain-hanya bergaji tak sampai senilai upah minimum kabupaten (UMK). Dalam sebulan dia dibayar Rp 1,3 juta. Padahal ketetapan UMK Kediri mencapai Rp 2,24 juta.
“Rata-rata perawat yang bekerja di klinik bayarannya ya sekitar itu,” aku perawat yang baru lulus pendidikan ini.
Tak adil memang. Toh, AA dan ratusan perawat yang senasib memilih diam. Sebab, mereka masih membutuhkan pekerjaan itu. Untuk mendapatkan uang sekaligus pengalaman.
Karena itulah kendati bergaji jauh di bawah UMK, AA enggan bersuara. Lebih memilih untuk diam. Karena hal tersebut tidak hanya dialami oleh dirinya. Namun juga ratusan perawat yang berada di Kabupaten dan Kota Kediri.
Ada alasan lain mengapa AA dan banyak perawat lain memilih diam dengan keadaan yang mereka terima. Salah satunya adalah karena mereka membutuhkan pekerjaan di klinik tersebut.
“Karena di rumah sakit besar tidak selalu membuka lowongan untuk banyak perawat tiap tahunnya,” akunya.
Untuk menghibur diri, AA menyebut jika pekerjaannya di klinik dilakukan untuk pengabdian sekaligus mencari pengalaman. Semakin banyak punya pengalaman bekerja di klinik, para perawat tersebut memiliki kesempatan lebih besar ketika melamar di rumah sakit.
Fenomena mengenaskan ini dibenarkan oleh Ketua DPD Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Kediri Edy Wiyono. Menurutnya, upah kecil bagi perawat yang bekerja di klinik sudah menjadi rahasia umum. Masalah upah kecil itu sudah terjadi sejak lama. Meskipun PPNI Kabupaten Kediri juga telah melakukan perpanjian dengan beberapa pemilik klinik, namun hasilnya nihil. Dengan dalih jika tak semua perputaran keuangan di klinik bagus.
“Para perawat juga masih menganggap itu adalah hal yang wajar karena mereka masih mencari pengalaman,” ujarnya.
Meskipun demikian, Edy berharap masalah upah kecil tidak terjadi di masa yang akan datang. Karena dengan beban kerja yang berat, upah di bawah UMK adalah hal yang bisa menambah beban bagi perawat.
“Kami terus usahakan agar para perawat bisa mendapat upah yang semestinya,” ungkapnya.
Dihubungi di kesempatan terpisah, Sekretaris DPD PPNI Kota Kediri Sucipto juga menerangkan jika upah kecil dirasakan pula oleh perawat di Kota Kediri. Mereka mendapat gaji di bawah UMK.
“Biasanya terjadi di klinik kecil. Alhamdullilah kalau di rumah sakit semua dibayar di atas UMK,” ujarnya.
Sama seperti di kabupaten, Sucipto menyebut jika sudah ada perjanjian dengan klinik dan rumah sakit di Kota Kediri. Perjanjian tersebut mengharuskan jika para perawat harus mendapat upah sekitar Rp 3 juta. Namun sayangnya, perjanjian tersebut hanya bisa dipenuhi oleh rumah sakit.
“Para perawat boleh melapor tapi sampai saat ini tidak ada yang melapor,” sambungnya.
Enggannya perawat melapor adalah karena mereka merasa masih membutuhkan pekerjaan tersebut. Alasannya juga sama seperti kolega mereka di Kabupaten Kediri. Para perawat di Kota Kediri juga masih membutuhkan pekerjaan di klinik untuk menambah pengalaman kerja.
“Mereka di klinik cuman jadi batu loncatan saja. Tidak ada yang lama,” tutupnya.
Bertahannya para perawat bekerja meskipun bergaji di bawah standar bisa dimaklumi. Sebab, serapan kerja masih rendah. Sementara, lulusan yang keluar setiap tahunnya tergolong melimpah.
Baik di Kabupaten ataupun Kota Kediri jumlah lulusan sekolah keperawatan-baik itu yang diploma-3 maupun strata-1-sangat banyak. Jauh melebihi lowongan kerja (loker) yang tersedia. Alhasil para perawat harus memilih untuk mencari pekerjaan non-perawat atau berpindah ke luar daerah.
Sucipto membenarkan hal tersebut. Pria yang juga dosen di salah satu kampus keperawatan itu menyebut jika jumlah lulusan dan loker perawat di Kota Kediri tidak sebanding.
Sucipto mencatat, ada tujuh kampus yang memiliki jurusan keperawatan di Kota Kediri. Setiap tahunnya mereka meluluskan sekitar 300 mahasiswa keperawatan. Sedangkan untuk loker perawat yang tersedia jumlahnya tak ada setengahnya.
Padahal di Kota Kediri ada delapan rumah sakit dan sekitar 20 klinik. Sayangnya, jumlah tersebut tetap tidak bisa menampung seluruh lulusan.
“Karena di tiap tahunnya jumlah mahasiswa perawat selalu naik. Sedangkan jumlah pekerjaannya cenderung tetap,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Lalu bagaimana dengan para mahasiswa perawat yang tidak mendapat pekerjaan? Menanggapi pertanyaan itu, Sucipto menyebut jika ada pilihan bagi para lulusan perawat. Yaitu mencari pekerjaan di luar pekerjaan perawat atau menjadi perawat di luar daerah Kota Kediri.
Untuk pilihan pertama, Sucipto menyebut jika banyak lulusan perawat yang enggan melakukannya. Namun untuk pilihan kedua, Sucipto menyebut jika pilihan tersebut masih banyak dilakukan.
Bahkan PPNI Kota Kediri telah bekerjasama dengan beberapa negara untuk mengirim tenaga kesehatannya. Adalah Jepang dan Jerman yang paling banyak menerima perawat dari Kota Kediri. Setiap tahunnya ada 20 sampai 50 perawat yang diberangkatkan di kedua negara itu.
“Di sana juga mereka bisa mendapat bayaran yang lebih daripada cukup,” pungkasnya.
Ketua PPNI Kabupaten Kediri Edy Wiyono juga menyebut jika banyak lulusan perawat yang susah mendapat pekerjaan sebagai perawat. Padahal, menurut Edy, ada 11 rumah sakit dan 57 klinik kesehatan di Kabupaten Kediri. Namun sayang, lulusan yang terlalu banyak membuat banyak perawat yang tersingkir.
“Setiap tahunnya jumlahnya selalu tidak imbang antara lulusan dan lowongan pekerjaan,” ujarnya.
Agar para perawat tetap mendapat pekerjaan, banyak dari mereka yang memilih untuk bekerja di luar dunia kesehatan. Mulai dari usaha mandiri hingga bekerja di kantor swasta.
“Banyak yang cari pekerjaan lain dulu sambil nunggu ada lowongan kerja di rumah sakit,” tutupnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. Editor : Anwar Bahar Basalamah