Kepala Stasiun Geofisika Kelas III BMKG Sawahan-Nganjuk Sumber Harto mengungkapkan, cuaca ekstrem diprediksi akan terjadi hingga tahun baru. “Pemangku kebijakan harus mewaspadai potensi bencana yang terjadi,” pintanya.
Dia mencontohkan ancaman bencana angin kencang dan angin puting beliung. Untuk mencegah timbulnya korban jiwa, dia meminya agar pohon hijau yang terlalu rimbun bisa dipangkas. Sedangkan pohon tua yang besar bisa ditebang.
Selain bencana tersebut, ancaman tanah longsor juga harus diantisipasi. Terutama warga di pegunungan yang tinggal di area tanah retak. “Jika hujan deras lebih dari satu jam, sebaiknya mengungsi untuk mencari tempat aman,” pintanya sembari meminta masyarakat juga mewaspadai bencana banjir.
` Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Kalaksa BPBD) Kabupaten Kediri Edy Suprapto menuturkan, pihaknya sudah menyampaikan imbauan ancaman cuaca ekstrem ke masyarakat melalui camat. Menurutnya, dinamika atmosfer yang terjadi di wilayah Jawa Timur juga berpotensi terjadi di Kabupaten Kediri.
Termasuk tentang kondisi La Nina yang Desember ini berada di level sedang. “Pengaruh situasi itu cukup signifikan terhadap peningkatan curah hujan,” bebernya sembari menyinggung pola pertemuan angin yang dapat meningkatkan aktivitas dan konektivitas pertumbuhan awan hujan.
Apalagi, ditambah dengan aktifnya fenomena Madden Julian Oscillation (MJO)dan gelombang equatorial rossby di wilayah Jatim. Selebihnya, suhu muka laut di perairan Jatim juga masih hangat dengan anomali antara 0,5 sampai 2 derajat celsius. “Peristiwa ini bisa menyebabkan suplai air semakin banyak di atmosfer,” paparnya.
Untuk diketahui, selama dua hari terakhir mendung gelap bergelayut di langit Kediri Raya. Beberapa wilayah juga mulai diguyur hujan meski dalam intensitas sedang. Tren tersebut diprediksi masih akan terus terjadi hingga beberapa hari ke depan. Editor : Anwar Bahar Basalamah