Kepala Desa Ngablak Santoso mengungkapkan, jumlah warga yang mengajukan keberatan terhadap hasil pengukuran tanah terdampak tol masih bisa bertambah lagi. Sebab, suara-suara tentang respons hasil pengukuran masih banyak beredar.
Terkait sepuluh warga yang mengajukan keberatan ke BPN, menurut Santoso diketahui dari jumlah KK yang mengambil blangko di kelurahan. “Setiap orang yang akan mengajukan keberatan harus mengambil blangko (usulan keberatan, Red) di kelurahan,” kata Santoso.
Mengapa warga keberatan dengan hasil pengukuran tanah oleh satgas? Menurut Santoso ada beberapa sebab. Yang paling banyak mereka menyoal data yang tidak sinkron. Misalnya, tanaman warga tidak masuk dalam pendataan. Adapun yang mempermasalahkan ukuran luas tanah, menurut Santoso tidak ada.
Lebih jauh Santoso mengaku sudah memberi tahu warga agar mereka mengajukan keberatan secara tertulis. Sebab, pernyataan keberatan secara lisan tidak akan ditindaklanjuti oleh BPN. “Harapan kami tidak ada warga yang dirugikan,” lanjutnya.
Untuk diketahui, pengumuman hasil penghitungan satgas A dan satgas B di Desa Ngablak, Banyakan paling lama dibanding beberapa desa terdampak lainnya. Hal tersebut menurut Santoso karena lahan di desanya merupakan yang paling banyak terdampak tol Kediri-Kertosono. Luasnya mencapai 236.256,58 meter persegi.
Dengan lokasi yang luas, menurut Santoso petugas sering melakukan pengukuran dan pendataan ulang agar hasilnya valid. “Kalau untuk tanah waris, mudah-mudahan sudah selesai. Tidak ada lagi masalah,” katanya.
Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, progres di Desa Ngablak memang relatif lambat dibanding empat desa lain yang terdampak. Empat desa lain sudah lama mengumumkan hasil pendataan satgas. Bahkan, Desa Sendang, Banyakan dan Desa/Kecamatan Banyakan sudah selesai melakukan appraisal. Adapun Desa Maron, Kecamatan Banyakan dan Desa Bakalan, Kecamatan Grogol tinggal menunggu proses appraisal.
Terpisah, Sekretaris BPN Kabupaten Kediri Sapto Warsi yang dikonfirmasi tentang adanya warga Desa Ngablak, Banyakan yang mengajukan keberatan mengungkapkan, pihaknya akan segera menginventarisasi masalah yang dikeluhkan warga. “Nanti kami akan menyampaikan jawabannya ke tiap warga yang keberatan,” terangnya.
Sebelum menjawab keberatan tersebut, timnya akan kembali turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan. Hasil pengecekan lapangan itu akan jadi pertimbangan BPN dalam mengambil kebijakan.
Seperti diberitakan, dari lima desa terdampak tol Kediri-Kertosono, luas lahan terdampak paling kecil berada di Desa/Kecamatan Banyakan. Yakni hanya 2.207,52 meter persegi. Adapun Desa Maron seluas 48.901,40 meter persegi. Kemudian, Desa Bakalan, Kecamatan Grogol mencapai 86,955,34 meter persegi. Terakhir, Desa Sendang seluas 6.858,98 meter persegi. Editor : Anwar Bahar Basalamah