Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Satu Bulan Pascabencana Tanah Longsor di Dusun Selopuro, Ngetos

adi nugroho • Senin, 15 Maret 2021 | 17:46 WIB
satu-bulan-pascabencana-tanah-longsor-di-dusun-selopuro-ngetos
satu-bulan-pascabencana-tanah-longsor-di-dusun-selopuro-ngetos


Genap satu bulan bencana tanah longsor melanda Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos. Pemukiman di RT 01/VI yang dulu diisi 57 kepala keluarga (KK)itu kini sepi. Tak ubahnya kampung mati.


Lokasi bekas bencana tanah longsor di Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos terbengkalai. Material sisa longsor terhampar luas. Ditambah lagi dengan pemandangan rumah yang rusak. Menguras hati.


Lebih dari 40 rumah berdiri di area yang dinyatakan sebagai zona rawan tersebut. Dari puluhan rumah tersebut, belasan terdampak longsor langsung. Sembilan rumah tidak lagi terlihat. Tertutup lumpur bercampur tanah dan bebatuan.


Rumah warga yang masih berdiri namun mengalami kerusakan parah pun tidak sedikit di sana. Kerusakannya bervariasi. Namun mayoritas material longsor menghantam tembok dan atap rumah warga. Dinding ambrol. Atap beserta kayunya roboh.


Tidak semua harta benda dapat diselamatkan. Mayoritas rusak karena terjangan longsor pada malam peringatan Hari Kasih Sayang atau Valentine itu. 14 Februari lalu. “Paling hanya pakaian-pakaian saja yang tertinggal di sini,” ujar Sodik, 65, salah seorang warga setempat.


Kakek yang gemar bertopi itu menyebut sudah tidak ada warga yang masuk ke zona larangan. Terlebih untuk ditempati. Sekadar dikunjungi manusia pun jarang sejak masa tanggap darurat bencana dihentikan akhir Februari lalu.


Pemukiman itu pun seperti “mati suri”. Tidak ada lagi kehidupan di sana. Terlebih saluran listrik sengaja diputus. Belum disambungkan kembali. Kebijakan yang diambil pemdes setempat itu salah satunya agar tidak ada pengungsi kembali ke rumah.


Kalau pun ada hanya orang yang memotong jalur untuk melihat ladang atau mengecek kondisi saja. Itu pun hanya beberapa menit. Maksimal satu-dua jam. Seperti yang dilakukan Sodik. Ia mengaku dimintai tolong saudaranya untuk mengecek kondisi rumah.


“Ambil pakaian bersih di lemari. Tapi posisinya susah dijangkau,” celetuknya sembari mengintip letak lemari yang tertimpa dinding dan atap rumah. “Harus berdua ini. Kalau sendirian tidak bisa,” sambung Sodik.


Barang berharga yang masih bisa diselamatkan mayoritas sudah diamankan pemilik masing-masing. Hanya menyisakan pakaian dan perabotan yang rusak. Namun, itu tak menjadikan kecil hati orang-orang tidak bertanggungjawab.


Beberapa hari lalu menurut Sodik ada rumah salah satu korban yang diobrak-abrik. Dugaannya orang yang bermaksud menjarah. Pasalnya, beberapa pakaian yang ada di dalam lemari ditemukan berserakan di lantai. “Pemiliknya di pengungsian. Kok ya tega orang seperti itu,” sesalnya.


Untuk mencegah hal serupa terjadi, ia bersama beberapa warga lainnya rutin berjaga di jalan masuk ke lokasi. Harapannya, tidak ada warga luar daerah yang mencoba berniat jahat di sana.


Setidaknya sudah dua minggu lebih warga mengadakan ronda. “Untuk keamanan dan keselamatannya juga,” tandas pria yang lama merantau ke Jakarta tersebut.


Sementara itu, Kades Ngetos Warno membenarkan jika aliran listrik di lokasi tersebut masih diputus. Ia juga mengamini melarang warganya untuk beraktivitas di lokasi tersebut. Terlebih untuk kembali menempati rumahnya.


 “Sudah ditutup dengan garis polisi juga di sana. Kami sengaja membatasi akses masuk ke lokasi tersebut. Untuk kepentingan bersama,” pungkas Warno.


 


Sebulan Pascalongsor


-Sebanyak 57 KK warga RT 01/VI Dusun Selopuro, Desa/Kecamatan Ngetos korban longsor mengontrak rumah atau hidup menumpang di rumah kerabat


-Warga hanya kembali ke rumah lama untuk mengambil barang yang bisa dipakai


-Warga berjaga di akses masuk lokasi longsor untuk mencegah upaya penjarahan


-Pemdes belum mencabut garis polisi untuk mencegah warga menempati kembali rumah mereka

Editor : adi nugroho
#bencana #kabar nganjuk #radar nganjuk