NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Jumlah pasangan yang menikah muda di Kabupaten Nganjuk masih relatif banyak. Selama 11 bulan terakhir, setidaknya ada 558 pasangan membina biduk rumah tangga di usia dini.
Ratusan pasangan tersebut merupakan remaja dengan usia di bawah 21 tahun. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) Nganjuk Widyasti Sidhartini yang dikonfirmasi tentang banyaknya jumlah pasangan muda yang menikah mengatakan, pihaknya sudah berupaya melakukan pengendalian. “Tahun ini sudah turun signifikan dibanding tahun lalu,” ujar Widyasti.
Perempuan yang sebelumnya menjabat staf ahli ini menjelaskan, dengan total pernikahan sebanyak 7.135, berarti persentase pernikahan dini sebesar 7,82 persen. Jumlah tersebut jauh di bawah persentase pernikahan dini 2019 lalu sebesar 10,69 persen atau 932 pernikahan dini dari total 8.720 pernikahan.
BKKBN Provinsi Jatim, jelas Widyasti, menargetkan agar pernikahan dini tidak lebih dari 9,98 persen. “Untuk Nganjuk masih di bawah itu. Tapi kami tetap berusaha mencegah pernikahan dini,” lanjutnya.
Perempuan yang juga pernah menjabat kepala dinas pendidikan ini menjelaskan, pernikahan dini terjadi karena banyak faktor. Selain faktor ekonomi, juga minimnya pengetahuan anak-anak tersebut. Penyebab lainnya adalah pergaulan yang salah.
Melihat faktor risiko tersebut, dinas PPKB berupaya melakukan pendekatan kepada keluarga. “Kami mempunyai beberapa program. Salah satunya bina keluarga remaja (BKR),” terang perempuan berjilbab itu.
Kader PPKB, jelas Wid, mendekati keluarga yang memiliki anak remaja. Mereka diberi beberapa pengetahuan. Di antaranya, terkait kesehatan reproduksi, generasi berencana, dan pengetahuan terkait perencanaan keluarga.
Untuk menekan jumlah pernikahan dini, Wid menjelaskan dinas PPKB juga melakukan pendekatan kepada remaja melalui pusat informasi dan konseling remaja (PIK-R) hingga Generasi Berencana (GenRe). “Program-program ini oleh anak-anak sendiri. Konselornya juga anak-anak sesama pelajar,” bebernya.
Dengan pendekatan dari berbagai sisi, Wid berharap di Nganjuk ke depan tidak ada lagi pernikahan dini. Sebab, remaja sudah mengetahui dengan mendalam risiko yang akan menimpa mereka jika nekat berumah tangga tanpa perencanaan yang matang.
Editor : adi nugroho