Sejumlah nama daerah di wilayah Kecamatan Kepung diduga masih berkaitan dengan istilah pada zaman kerajaan. Menjadi bukti sejarah dari toponimi suatu daerah.
Selama ini, bukti sejarah keberadaan peradaban masa lampau banyak diambil dari toponimi atau asal-usul sebuah tempat dari masa lalu. Hal ini yang menjadi salah satu dasar bagi sejarawan Agus Sunyoto dalam meneliti jejak peradaban yang ada di wilayah Kecamatan Kepung. Menurutnya, dari toponimi inilah bisa diambil sebuah gambaran masa lalu fungsi tempat tersebut.
Di Kecamatan Kepung, banyak nama daerah yang penamaannya mempunyai ciri khas. Artinya, nama daerah baik desa maupun dusun di kawasan ini tidak ada di tempat lain. Atau sebuah nama yang memang sejak zaman kerajaan telah ada. Yang paling dikenal selama ini adalah nama Paradah. Nama itu kini merujuk pada Dusun Bogorpradah di Desa Siman. “Daerah itu telah disebut pada prasasti,” ujar Agus Sunyoto.
Memang, selama ini dalam penelitiannya pada Kerajaan Kalingga di Kepung yang merujuk pada toponimi Desa Keling, dikuatkan oleh putusan pada Dinasti Tang abad 674 Masehi yang pernah datang ke Kalingga. Bahkan hingga saat ini catatan tersebut masih ada. Menyebut Ibu Kota Kalingga yang saat ini dikaitkan dengan daerah bernama Kepung.
Tak hanya Kepung, nama-nama desa dan dusun di sana, kata Agus menunjukkan lokasi adanya peradaban di masa lalu. Termasuk Desa Keling, Brumbung, dan Desa Damarwulan. “Brumbung dari kata Barumbung yang artinya saluran air atau pipa-pipa air. Sangat dimungkinkan di sana dahulu adalah saluran irigasi besar dan menjadi persediaan cadangan air,” ungkap Agus Sunyoto.
Sementara nama Damarwulan, dalam catatan Tiongkok, dijelaskan adanya seseorang yang bijaksana di daerah itu. Seseorang itu adalah pendeta yang dikenal dengan Janabadra yang tinggal di Jananabadra. Sementara dari bahasa sansekerta, kata itu sebagai orang yang sudah tercerahkan.
“Dia seperti cahaya rembulan atau rembulan yang bercahaya. Kemudian di Bahasa Jawa jadi Damarwulan,” tambahnya.
Janabadra juga disebut dalam Negarakertagama. Yakni catatan ketika Raja Hayam Wuruk melakukan sidrayatra ke Candi Palah atau saat ini Penataran. Saat itu Hayam Wuruk mendapat kabar Gajahmada sakit parah. Ketika hendak kembali ke Ibu Kota Trowulan, ia lewat jalan pintas melalui wilayahnya Janabadra itu.
“Jadi saat Majapahit pun daerah itu masih disebut Jananabadra. Itu ada dan disebutkan di Negarakertagama,” jelasnya.
Begitu juga daerah bernama Pleringan di Desa Krenceng. Kata Agus, nama dusun ini berasal dari kata Paliringan. “Paliringan itu ada menara pengawas. Jadi di sana itu untuk mengawasi. Lokasinya di sekitar Benteng kerajaan,” ungkapnya.
Seperti utusan dari Tiongkok yang menyebut bahwa Ibu Kota Kalingga dikelilingi benteng. Itu dari Balok Kayu besar. Saat ini kayu itu merupakan kayu jati. Di Kepung ada beberapa dusun bernama Jati. Ada di Desa Krenceng, Desa Kepung, dan Desa Damarwulan.
“Ada juga tempat kelompok pemimpin yang dinamakan Kecik. Jadi Kecik dahulu sebagai kediaman pemimpin dari negara bawahan,” jelas Agus.
Bahkan di Sumatra Barat itu kelompok pemimpin daerah itu hingga kini juga disebut Kecik. (din/fud/bersambung)
Editor : adi nugroho