29 C
Kediri
Saturday, December 3, 2022

Gagal Panen, Petani Rugi Puluhan Juta

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Hujan deras yang mengakibatkan banjir di Desa Cengkok, Tarokan Sabtu (12/11) lalu membuat para petani merugi hingga puluhan juta rupiah. Pasalnya, dua kali tanaman mereka tak bisa dipanen setelah terendam air bah.

Seperti dikeluhkan oleh Sugianto, 43, warga setempat. Menurutnya, banjir memang menjadi langganan bagi petani di Desa Cengkok. Tetapi, tahun ini lebih parah. “Dua kali saya gagal panen. Apes,” keluhnya.

Oktober lalu Sugianto tidak bisa memanen tanaman melon miliknya dengan maksimal. Sebab, melon siap panen itu terendam air hingga harganya anjlok. Tanaman melon di lahan seperempat hektare biasanya bisa menghasilkan Rp 15 juta hingga Rp 20 juta.

Tetapi, panenan Oktober lalu dia hanya bisa mendapat uang Rp 7 juta hingga Rp 8 juta. “Padahal biaya tanam sangat mahal. Untuk pupuk dan pekerjanya,” lanjut Sugianto sembari menyebut jeleknya panenan melon juga dipicu serangan ulat dan manyang yang membuat buah melon panenannya banyak yang busuk.

Tak beruntung di tanaman melon, Sugianto langsung menanam padi dan berharap bisa mendapat hasil baik. Dia memajukan penyemaian bibit padi. Harapannya, saat hujan deras Januari nanti sudah selesai panen.

- Advertisement -

“Ternyata prediksinya salah. Hujannya maju satu bulan,” terang Sugianto lagi-lagi mengeluhkan bibit padi miliknya yang disemai terendam air. Bibit yang berada di dua hektare tanah miliknya itu pun urung ditanam karena rusak.

Baca Juga :  Pemuda asal Ngancar Simpan Pil Dobel L di Botol Obat Mag

Keluhan serupa diungkapkan oleh Didik yulianto,55. Petani Desa Cengkok itu mengeluhkan tanaman jagungnya yang terendam air selama empat hari. “Jagungnya jadi kurang bagus,” kata Didik.

Idealnya, lahan seluas seperempat hektare itu bisa menghasilkan panenan hingga dua ton. Tetapi, kini dia hanya bisa memanen 6-7 kuintal saja. Kerugiannya lebih besar lagi karena harga jagung sekarang sangat murah.

Sementara itu, Pemkab Kediri melakukan normalisasi sungai di Desa Ngablak, Banyakan agar mereka tidak lagi menjadi langganan banjir. Sungai di Dusun Jajar, Desa Ngablak yang menghubungkan dengan Desa Gondanglegi, Prambon, Kabupaten Nganjuk dikeruk agar saat hujan deras sawah warga di sekitarnya tak terendam.

“Lima hari yang lalu air sungai ini sempat tinggi. Tapi alhamdulillah sekarang sudah tidak banjir (meluap, Red),” kata Parmi, warga setempat. Perempuan  berusia 60 tahun itu mengaku lega melihat sungai di lingkungan mereka dikeruk. Dia berharap hal itu membuat daerahnya bisa bebas banjir.

Sayangnya, upaya pemerintah daerah untuk mengurangi bencana banjir kurang mendapat dukungan dari sebagian warga. Mereka tetap saja membuang sampah di sungai yang memicu pendangkalan.

“Yang buang bukan warga Jajar (Dusun Jajar, Desa Ngablak, Red),” lanjut perempuan yang sebagian rambutnya sudah beruban itu. Sampah-sampah di sungai menurutnya berasal dari warga luar Ngablak. Terutama warga yang baru pulang dari pasar nekat membuang sampah saat malam hari. Keberadaan sampah itu yang membuat sungai tersumbat dan meluap.

Baca Juga :  TRAL Nganjuk Punya Banyak Masalah, Apa Saja?

Terpisah Kepala Desa Ngablak Santoso mengaku siap menjaga sungai dari warga yang membuang sampah di sungai Jajar. “Kami sudah bersyukur Pemkab Nganjuk mau mengeruk sungai sehingga warga desa juga tidak lagi kena banjir. Kalau sekarang banyak yang buang sampah, kami akan pasang imbauan larangan buang sampah di sungai Jajar,” tandas Santoso.

Karena ada indikasi yang membuang warga dari luar desa, Santoso pun akan berkoordinasi dengan desa-desa tetangga. Termasuk berkoordinasi dengan Desa Gondanglegi, Kecamatan Prambon agar sama-sama menjaga sungai.

Santoso menjelaskan, proyek normalisasi sungai dikerjakan oleh dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (PUPR). Jika sudah ada proyeksi menggunakan dana desa (DD) pada 2023 untuk penanggulangan dan pencegahan bencana, Santoso siap menganggarkan kegiatan untuk pencegahan banjir.

Sayangnya, Plt Kepala Dinas PUPR Kabupaten Kediri Irwan Chandra Wahyu Purnama belum bisa dikonfirmasi terkait upaya pencegahan banjir. Pantauan koran ini, selain di Desa Ngablak, Kecamatan Banyakan, normalisasi di barat sungai juga dilakukan di Kecamatan Grogol. Yakni di Desa Gambyok yang masuk ke aliran sungai Kolokoso-Hadisingat.






Reporter: rekian
- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Hujan deras yang mengakibatkan banjir di Desa Cengkok, Tarokan Sabtu (12/11) lalu membuat para petani merugi hingga puluhan juta rupiah. Pasalnya, dua kali tanaman mereka tak bisa dipanen setelah terendam air bah.

Seperti dikeluhkan oleh Sugianto, 43, warga setempat. Menurutnya, banjir memang menjadi langganan bagi petani di Desa Cengkok. Tetapi, tahun ini lebih parah. “Dua kali saya gagal panen. Apes,” keluhnya.

Oktober lalu Sugianto tidak bisa memanen tanaman melon miliknya dengan maksimal. Sebab, melon siap panen itu terendam air hingga harganya anjlok. Tanaman melon di lahan seperempat hektare biasanya bisa menghasilkan Rp 15 juta hingga Rp 20 juta.

Tetapi, panenan Oktober lalu dia hanya bisa mendapat uang Rp 7 juta hingga Rp 8 juta. “Padahal biaya tanam sangat mahal. Untuk pupuk dan pekerjanya,” lanjut Sugianto sembari menyebut jeleknya panenan melon juga dipicu serangan ulat dan manyang yang membuat buah melon panenannya banyak yang busuk.

Tak beruntung di tanaman melon, Sugianto langsung menanam padi dan berharap bisa mendapat hasil baik. Dia memajukan penyemaian bibit padi. Harapannya, saat hujan deras Januari nanti sudah selesai panen.

“Ternyata prediksinya salah. Hujannya maju satu bulan,” terang Sugianto lagi-lagi mengeluhkan bibit padi miliknya yang disemai terendam air. Bibit yang berada di dua hektare tanah miliknya itu pun urung ditanam karena rusak.

Baca Juga :  Pangkas Dahan Pohon, Cegah Gangguan Listrik

Keluhan serupa diungkapkan oleh Didik yulianto,55. Petani Desa Cengkok itu mengeluhkan tanaman jagungnya yang terendam air selama empat hari. “Jagungnya jadi kurang bagus,” kata Didik.

Idealnya, lahan seluas seperempat hektare itu bisa menghasilkan panenan hingga dua ton. Tetapi, kini dia hanya bisa memanen 6-7 kuintal saja. Kerugiannya lebih besar lagi karena harga jagung sekarang sangat murah.

Sementara itu, Pemkab Kediri melakukan normalisasi sungai di Desa Ngablak, Banyakan agar mereka tidak lagi menjadi langganan banjir. Sungai di Dusun Jajar, Desa Ngablak yang menghubungkan dengan Desa Gondanglegi, Prambon, Kabupaten Nganjuk dikeruk agar saat hujan deras sawah warga di sekitarnya tak terendam.

“Lima hari yang lalu air sungai ini sempat tinggi. Tapi alhamdulillah sekarang sudah tidak banjir (meluap, Red),” kata Parmi, warga setempat. Perempuan  berusia 60 tahun itu mengaku lega melihat sungai di lingkungan mereka dikeruk. Dia berharap hal itu membuat daerahnya bisa bebas banjir.

Sayangnya, upaya pemerintah daerah untuk mengurangi bencana banjir kurang mendapat dukungan dari sebagian warga. Mereka tetap saja membuang sampah di sungai yang memicu pendangkalan.

“Yang buang bukan warga Jajar (Dusun Jajar, Desa Ngablak, Red),” lanjut perempuan yang sebagian rambutnya sudah beruban itu. Sampah-sampah di sungai menurutnya berasal dari warga luar Ngablak. Terutama warga yang baru pulang dari pasar nekat membuang sampah saat malam hari. Keberadaan sampah itu yang membuat sungai tersumbat dan meluap.

Baca Juga :  Pemuda asal Ngancar Simpan Pil Dobel L di Botol Obat Mag

Terpisah Kepala Desa Ngablak Santoso mengaku siap menjaga sungai dari warga yang membuang sampah di sungai Jajar. “Kami sudah bersyukur Pemkab Nganjuk mau mengeruk sungai sehingga warga desa juga tidak lagi kena banjir. Kalau sekarang banyak yang buang sampah, kami akan pasang imbauan larangan buang sampah di sungai Jajar,” tandas Santoso.

Karena ada indikasi yang membuang warga dari luar desa, Santoso pun akan berkoordinasi dengan desa-desa tetangga. Termasuk berkoordinasi dengan Desa Gondanglegi, Kecamatan Prambon agar sama-sama menjaga sungai.

Santoso menjelaskan, proyek normalisasi sungai dikerjakan oleh dinas pekerjaan umum dan penataan ruang (PUPR). Jika sudah ada proyeksi menggunakan dana desa (DD) pada 2023 untuk penanggulangan dan pencegahan bencana, Santoso siap menganggarkan kegiatan untuk pencegahan banjir.

Sayangnya, Plt Kepala Dinas PUPR Kabupaten Kediri Irwan Chandra Wahyu Purnama belum bisa dikonfirmasi terkait upaya pencegahan banjir. Pantauan koran ini, selain di Desa Ngablak, Kecamatan Banyakan, normalisasi di barat sungai juga dilakukan di Kecamatan Grogol. Yakni di Desa Gambyok yang masuk ke aliran sungai Kolokoso-Hadisingat.






Reporter: rekian

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/