29 C
Kediri
Saturday, December 3, 2022

Hujan Turun, Warga Waswas Lahannya Tergenang

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Debit air yang menggenangi area persawahan di Desa Cengkok, Tarokan kemarin sudah mulai surut. Meski demikian, para petani di sana belum sepenuhnya terbebas dari ancaman banjir. Pasalnya, tanggul jebol yang jadi pemicu luapan air bah belum ditambal. Saat hujan turun deras, warga pun langsung waswas.

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri kemarin, tanggul selebar dua meter dengan tinggi 2,5 meter yang jebol Sabtu (19/11) dini hari lalu belum diperbaiki hingga kemarin. Akibatnya, aliran air dari sungai pun masuk ke persawahan warga.

Kepala Dusun Beji, Desa Cengkok Sugianto mengungkapkan, selain dusunnya, Dusun Kedungdowo juga menjadi langganan banjir. Sebab, dua daerah itu berbatasan langsung dengan Kabupaten Nganjuk. Selain karena tingginya debit air sungai, menurut Sugianto banjir di daerahnya juga dipicu kondisi tangkis yang digerus tikus. “Tanahnya (tanggul, Red) digerong tikus, makanya kalau kena air deras langsung ambrol,” katanya.

Kejadian tangkis atau tanggul jebol yang memicu banjir itu menurut Sugianto bukan kali pertama. Melainkan terjadi hampir setiap tahun di titik yang berbeda. “Dulu pernah jebol diperbaiki, jebol lagi, diperbaiki lagi,” lanjutnya.

Meski air bah di sawah belum sepenuhnya surut, Sugianto bersyukur air bah di pemukiman warga mulai berkurang. Untuk mencegah terjadinya banjir susulan saat turun hujan deras, dia mengaku sudah mengajukan perbaikan tangkis dan pintu aliran air.

Baca Juga :  Masih Gunakan Rapid Antibodi di Stasiun
- Advertisement -

Di antaranya, meminta bantuan alat berat, sesek, hingga karung pasir untuk menambal dan menguatkan tangkis. Meski demikian, hingga kemarin bantuan yang diminta dari Pemkab Kediri itu belum kunjung turun.

Kapolsek Tarokan AKP Karyawan Hadi menambahkan, kemarin dirinya juga turun ke lapangan memantau kondisi terkini. Hasilnya, warga sudah mulai beraktivitas seperti biasa. “Saya sudah cek lokasi banjir. Keduanya sudah surut dan warga sudah beraktivitas seperti biasa” terangnya.

Meski sudah bisa beraktivitas, rupanya warga tetap waswas akan munculnya bencana susulan. Seperti diungkapkan oleh Sapuan, 52. Selain karena tangkis yang jebol, dia risau karena tangkis lain di dekat sawahnya sudah mulai retak-retak. Jika turun hujan deras, dia khawatir tangkis tersebut bisa jebol.

“Ini mbak sudah retak. Kalau hujan deras ini bisa longsor ke sawah dan longsor ke sungai” keluhnya.

Ia berharap tangkis yang sekarang jebol bisa segera diperbaiki. Sebab, Sapuan memprediksi bulan depan hujan akan semakin deras. Sehingga, rawan terjadi banjir susulan.

Sementara itu, selain mengakibatkan banjir di Desa Cengkok, Tarokan, hujan deras Sabtu lalu juga membuat tanaman jagung di Desa Turus, Gampengrejo gagal panen. Tanaman jagung yang baru berusia sekitar dua bulan itu mati setelah diguyur hujan deras bercampur angin.

Baca Juga :  Galih Akbar Febriawan, Gelandang Serang Persedikab Kediri

Seperti dikeluhkan oleh Supriyanto, 59. Dia mengeluhkan jagungnya yang mati sejak beberapa hari lalu. Melihat tanamannya mati sebelum sempat dipanen, dia hanya bisa pasrah. “Setelah ini akan ditanami padi. Biasanya akhir atau awal tahun,” terangnya.

Supriyanto menjelaskan, tanaman jagungnya mati karena saluran pembuangan atau drainase di sana tidak berfungsi maksimal. Akibatnya, air dari irigasi masuk ke sawah karena lokasi sawahnya yang berada di dataran rendah.

Beberapa kali diguyur hujan deras, tanaman jagung di lahan seluas 500 ru itu pun tak bertahan. “Rugi sekitar Rp 10 juta,” imbuhnya. Selain Supriyanto, Ali, 25, petani lain juga mengeluhkan hal serupa.

Pemilik tanaman jagung seluas 250 ru ini juga gagal panen. Akibatnya, dia harus merugi sekitar Rp 4 juta. “Banyak petani yang mengeluh mengalami kerugian. Musim tanam ini rata-rata tanaman mati. Kalau pun ada yang panen, itu hasilnya sedikit. Tetap rugi,” papar Ali.

Melihat kondisi sawahnya yang terendam, Ali dan para petani lain di sana memang tidak bisa berbuat banyak. Melainkan hanya bisa menunggu air habis terserap tanah. Berdasar pengalaman, hal tersebut membutuhkan waktu selama beberapa hari. Begitu hujan turun, sawahnya akan kembali tergenang.

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Debit air yang menggenangi area persawahan di Desa Cengkok, Tarokan kemarin sudah mulai surut. Meski demikian, para petani di sana belum sepenuhnya terbebas dari ancaman banjir. Pasalnya, tanggul jebol yang jadi pemicu luapan air bah belum ditambal. Saat hujan turun deras, warga pun langsung waswas.

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri kemarin, tanggul selebar dua meter dengan tinggi 2,5 meter yang jebol Sabtu (19/11) dini hari lalu belum diperbaiki hingga kemarin. Akibatnya, aliran air dari sungai pun masuk ke persawahan warga.

Kepala Dusun Beji, Desa Cengkok Sugianto mengungkapkan, selain dusunnya, Dusun Kedungdowo juga menjadi langganan banjir. Sebab, dua daerah itu berbatasan langsung dengan Kabupaten Nganjuk. Selain karena tingginya debit air sungai, menurut Sugianto banjir di daerahnya juga dipicu kondisi tangkis yang digerus tikus. “Tanahnya (tanggul, Red) digerong tikus, makanya kalau kena air deras langsung ambrol,” katanya.

Kejadian tangkis atau tanggul jebol yang memicu banjir itu menurut Sugianto bukan kali pertama. Melainkan terjadi hampir setiap tahun di titik yang berbeda. “Dulu pernah jebol diperbaiki, jebol lagi, diperbaiki lagi,” lanjutnya.

Meski air bah di sawah belum sepenuhnya surut, Sugianto bersyukur air bah di pemukiman warga mulai berkurang. Untuk mencegah terjadinya banjir susulan saat turun hujan deras, dia mengaku sudah mengajukan perbaikan tangkis dan pintu aliran air.

Baca Juga :  Kota Angin Turun Level, PTM Bisa Full

Di antaranya, meminta bantuan alat berat, sesek, hingga karung pasir untuk menambal dan menguatkan tangkis. Meski demikian, hingga kemarin bantuan yang diminta dari Pemkab Kediri itu belum kunjung turun.

Kapolsek Tarokan AKP Karyawan Hadi menambahkan, kemarin dirinya juga turun ke lapangan memantau kondisi terkini. Hasilnya, warga sudah mulai beraktivitas seperti biasa. “Saya sudah cek lokasi banjir. Keduanya sudah surut dan warga sudah beraktivitas seperti biasa” terangnya.

Meski sudah bisa beraktivitas, rupanya warga tetap waswas akan munculnya bencana susulan. Seperti diungkapkan oleh Sapuan, 52. Selain karena tangkis yang jebol, dia risau karena tangkis lain di dekat sawahnya sudah mulai retak-retak. Jika turun hujan deras, dia khawatir tangkis tersebut bisa jebol.

“Ini mbak sudah retak. Kalau hujan deras ini bisa longsor ke sawah dan longsor ke sungai” keluhnya.

Ia berharap tangkis yang sekarang jebol bisa segera diperbaiki. Sebab, Sapuan memprediksi bulan depan hujan akan semakin deras. Sehingga, rawan terjadi banjir susulan.

Sementara itu, selain mengakibatkan banjir di Desa Cengkok, Tarokan, hujan deras Sabtu lalu juga membuat tanaman jagung di Desa Turus, Gampengrejo gagal panen. Tanaman jagung yang baru berusia sekitar dua bulan itu mati setelah diguyur hujan deras bercampur angin.

Baca Juga :  Sungai Bodor Meluap, Dua Desa Tergenang

Seperti dikeluhkan oleh Supriyanto, 59. Dia mengeluhkan jagungnya yang mati sejak beberapa hari lalu. Melihat tanamannya mati sebelum sempat dipanen, dia hanya bisa pasrah. “Setelah ini akan ditanami padi. Biasanya akhir atau awal tahun,” terangnya.

Supriyanto menjelaskan, tanaman jagungnya mati karena saluran pembuangan atau drainase di sana tidak berfungsi maksimal. Akibatnya, air dari irigasi masuk ke sawah karena lokasi sawahnya yang berada di dataran rendah.

Beberapa kali diguyur hujan deras, tanaman jagung di lahan seluas 500 ru itu pun tak bertahan. “Rugi sekitar Rp 10 juta,” imbuhnya. Selain Supriyanto, Ali, 25, petani lain juga mengeluhkan hal serupa.

Pemilik tanaman jagung seluas 250 ru ini juga gagal panen. Akibatnya, dia harus merugi sekitar Rp 4 juta. “Banyak petani yang mengeluh mengalami kerugian. Musim tanam ini rata-rata tanaman mati. Kalau pun ada yang panen, itu hasilnya sedikit. Tetap rugi,” papar Ali.

Melihat kondisi sawahnya yang terendam, Ali dan para petani lain di sana memang tidak bisa berbuat banyak. Melainkan hanya bisa menunggu air habis terserap tanah. Berdasar pengalaman, hal tersebut membutuhkan waktu selama beberapa hari. Begitu hujan turun, sawahnya akan kembali tergenang.

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/