25.4 C
Kediri
Saturday, December 3, 2022

Jika Nanti Menang, Pemkab Lantik PNS Penjabat Kades

Calon Kepala Desa Meninggal Tetap Ikuti Pilkades

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Desa/Kecamatan Ngadiluwih belangsung dalam suasana duka. Ini setelah satu dari dua calon yang akan bertanding meninggal dunia. Pemkab memastikan calon yang sudah meninggal itu tetap tidak bisa mundur.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Agus Cahyono melalui Kabid Pemerintahan Desa (Pemdes) di Henry Rustriandy menjelaskan, setelah peserta pilkadesa ditetapkan sebagai calon kepala desa maka tidak boleh mengundurkan diri. “Ya apapun alasannya. Termasuk meninggal dunia tidak boleh mundur,” kata Henry sembari menyebut aturan itu sesuai Perbup No. 28/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda Kediri 08/2015 tentang Pemilihan Kepala Desa.

Jika hanya ada dua calon seperti di Ngadiluwih, menurut Henry pilkades harus tetap dilanjutkan pada 7 Desember nanti. Bagaimana jika hasil pencoblosan memenangkan cakades yang meninggal? Menurut Henry pelantikan tetap akan dilakukan. “Nanti yang dilantik PNS dari Pemkab Kediri sebagai penjabat kepala desa,” bebernya.

Baca Juga :  Bandara Kediri: Target Rampung pada 2022

Jika yang menang cakades yang masih hidup, pelantikan bisa dilakukan bersama dengan cakades terpilih dari desa lainnya. Untuk diketahui, di Desa Ngadiluwih hanya ada dua calon yang maju. Yakni Agil Panca Yudha dan Akhiro Sudarmanto yang meninggal pada 29 Oktober lalu.

Ima, istri almarhum Sudarmanto mengatakan, sebelum meninggal suaminya tidak menunjukkan gejala sakit. Pria yang mencalonkan kades untuk ketiga kalinya itu disebut dalam kondisi sehat. “Beraktivitas seperti biasa. Pagi masih menerima tamu,” lanjut perempuan yang berprofesi sebagai dosen ini.

- Advertisement -

Terkait kelanjutan pencalonan suaminya, Ima mengaku sudah mengetahui jika prosesnya akan tetap berlanjut. Termasuk jika almarhum suaminya dinyatakan terpilih, dia juga mengaku sudah tahu mekanisme lebih jauh. “Nanti kalau yang jadi bapak, akan digantikan dengan Pj (penjabat kades, Red),” jelas Ima.

Baca Juga :  Kucurkan Rp 0,5 Miliar untuk Ruang Media Center

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, rumah almarhum Sudarmanto kemarin terlihat sepi. Di bagian depan terlihat ada dua banner besar tentang pencalonan pemilik Primagama Ngadiluwih itu. “Spanduk itu yang masang ya relawan pendukung bapak,” papar Ima sembari menyebut dalam pencalonan suaminya tidak pernah menggunakan politik uang.

Terpisah, Hartono, salah satu relawan pendukung Sudarmanto mengaku masih akan tetap mendukung Almarhum. “Kami akan tetap mendukung. Sesuai prinsip yang ada di spanduk yang dipasang, bahwa demokrasi itu di bangun! Bukan dibeli,” tegasnya.






Reporter: rekian
- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri-Pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Desa/Kecamatan Ngadiluwih belangsung dalam suasana duka. Ini setelah satu dari dua calon yang akan bertanding meninggal dunia. Pemkab memastikan calon yang sudah meninggal itu tetap tidak bisa mundur.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Agus Cahyono melalui Kabid Pemerintahan Desa (Pemdes) di Henry Rustriandy menjelaskan, setelah peserta pilkadesa ditetapkan sebagai calon kepala desa maka tidak boleh mengundurkan diri. “Ya apapun alasannya. Termasuk meninggal dunia tidak boleh mundur,” kata Henry sembari menyebut aturan itu sesuai Perbup No. 28/2016 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perda Kediri 08/2015 tentang Pemilihan Kepala Desa.

Jika hanya ada dua calon seperti di Ngadiluwih, menurut Henry pilkades harus tetap dilanjutkan pada 7 Desember nanti. Bagaimana jika hasil pencoblosan memenangkan cakades yang meninggal? Menurut Henry pelantikan tetap akan dilakukan. “Nanti yang dilantik PNS dari Pemkab Kediri sebagai penjabat kepala desa,” bebernya.

Baca Juga :  Akhirnya Persik Kediri Liburkan Pemain

Jika yang menang cakades yang masih hidup, pelantikan bisa dilakukan bersama dengan cakades terpilih dari desa lainnya. Untuk diketahui, di Desa Ngadiluwih hanya ada dua calon yang maju. Yakni Agil Panca Yudha dan Akhiro Sudarmanto yang meninggal pada 29 Oktober lalu.

Ima, istri almarhum Sudarmanto mengatakan, sebelum meninggal suaminya tidak menunjukkan gejala sakit. Pria yang mencalonkan kades untuk ketiga kalinya itu disebut dalam kondisi sehat. “Beraktivitas seperti biasa. Pagi masih menerima tamu,” lanjut perempuan yang berprofesi sebagai dosen ini.

Terkait kelanjutan pencalonan suaminya, Ima mengaku sudah mengetahui jika prosesnya akan tetap berlanjut. Termasuk jika almarhum suaminya dinyatakan terpilih, dia juga mengaku sudah tahu mekanisme lebih jauh. “Nanti kalau yang jadi bapak, akan digantikan dengan Pj (penjabat kades, Red),” jelas Ima.

Baca Juga :  Suami Kerja, Istri Main Gila

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, rumah almarhum Sudarmanto kemarin terlihat sepi. Di bagian depan terlihat ada dua banner besar tentang pencalonan pemilik Primagama Ngadiluwih itu. “Spanduk itu yang masang ya relawan pendukung bapak,” papar Ima sembari menyebut dalam pencalonan suaminya tidak pernah menggunakan politik uang.

Terpisah, Hartono, salah satu relawan pendukung Sudarmanto mengaku masih akan tetap mendukung Almarhum. “Kami akan tetap mendukung. Sesuai prinsip yang ada di spanduk yang dipasang, bahwa demokrasi itu di bangun! Bukan dibeli,” tegasnya.






Reporter: rekian

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/