KABUPATEN, JP Radar Kediri-Hujan deras disertai angin kencang masih akan mengintai warga Kediri Raya. Berdasar ramalan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri, hujan di atas normal di musim kemarau basah hingga hari ini (22/8).
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas III Dhoho Kediri Lukman Soleh melalui Ketua Tim Kerja Meteorologi Publik Satria Kridha Nugraha mengatakan, Agustus ini curah hujan berada di angka 21-50 milimeter (mm) per bulan.
Padahal, pada musim kemarau yang normal, curah hujan kurang dari 20 mm. “Artinya dalam satu bulan ini masih tetap ada hujan. Salah satu contohnya beberapa hari terakhir,” kata Satria.
Fenomena tersebut menurut Satria terjadi karena sirkulasi rendah di wilayah barat Sumatera. Selain itu, ada pula gelombang atmosfer Osilasi Madden-Julian (OMJ). Hal tersebut menghambat pergerakan angin monsun atau angin Australia. Akibatnya, pertumbuhan awan hujan di wilayah Jawa dan Sumatera meningkat.
“(Angin) Monsun Australia ini merupakan penyebab terjadinya kemarau di wilayah Jawa,” lanjut Satria tentang terjadinya fenomena kemarau basah karena pergerakan angin monsun yang terhambat.
Lebih jauh Satria menyebut puncak hujan pada Agustus ini sudah terjadi pada Selasa (19/8) dan Rabu (20/8) lalu. Adapun untuk kemarin akan tetap terjadi hujan meski tidak selebat sebelumnya.
Meski beberapa kali hujan deras melanda Kediri Raya, Satria memastikan Agustus ini merupakan musim kemarau. Untuk kepastian musim penghujan pihaknya masih menunggu informasi dari BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur di Malang.
Jika dilihat dari predisksi curah hujan bulanan, pada September-Oktober mendatang akan terjadi peralihan musim. “Karena curah hujan 150 mm per bulan,” terangnya sembari menyebut bahwa musim hujan tahun ini diperkirakan tidak seperti tahun lalu yang terjadi fenomena La Nina.
Untuk diketahui, hujan deras yang disertai angin kencang yang mengguyur Kediri Raya pada Rabu (20/8) sore lalu membawa bencana. Sejumlah pohon tumbang di beberapa titik hingga menutup akses jalan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri Stefanus Djoko Sukrisno menyebut, pohon tumbang terjadi di Jalan Desa Wonojoyo, Gurah. Pohon flamboyan berdiameter sekitar 50 sentimeter dan pohon melinjo tumbang menutup sebagian jalan.
Kondisi serupa juga terjadi di Desa Blabak, Kecamatan Kandat. Pohon sono roboh dan menimpa rumah milik Nyoni, warga di RT 02 RW II. Akibatnya, atap rumah mengalami kerusakan kategori sedang.
Selanjutnya, di Desa Tugurejo, Ngasem, atap teras galvalum di rumah warga tertiup angin dan jatuh ke jalan. Material sempat menimpa kabel PLN hingga mengganggu akses lalu lintas. “Kami berkoordinasi dengan PLN untuk penanganan kabel listrik yang terdampak,” jelas Djoko.
Tak hanya di Kabupaten Kediri, bencana pohon tumbang juga terjadi di Kota Kediri. Sedikitnya ada sepuluh lokasi pohon tumbang di Kecamatan Pesantren. Di antaranya, di Jl Raya Bawang, Pasar Centong, Jl Anggrek. Kemudian di Jl Sumur Bandung, Jl Kelapa, hingga di beberapa ruas jalan di Kelurahan Tempurejo.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Kediri Joko Ariyanto menyebut, pohon yang tumbang memiliki ukuran beragam. “Antara 25 sampai 50 sentimeter,” ungkap Joko tentang pohon mangga, randu, dan jati yang tumbang itu.
Beberapa pohon tumbang juga mengenai rumah hingga merusak kanopi. Bahkan, pohon tumbang juga menimpa mobil dan truk warga hingga menimbulkan kerugian jutaan rupiah. “Meski sekarang musim kemarau, hujan dengan intensitas tinggi disertai angin kencang masih berpotensi terjadi,” papar Joko meminta masyarakat berhati-hati.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira