25.3 C
Kediri
Saturday, January 28, 2023

Disatukan “Kecelakaan”, Dipisahkan Keadaan

- Advertisement -

Jenenge wong mabuk asmara, apa ae dadine indah. Sudrun sing cinta mati karo Mbok Ndewor langsung janji sehidup semati. Sapa sing ora ngleyang krungu rayuan maut ngono kuwi. Mbok Ndewor langsung pasrah diajak hoho hihe sampek hamil di luar nikah atau married by accident.

Singkat cerita, Mbok Ndewor yang telanjur hamil terpaksa menikah. Meski, saat itu gadis asal salah satu kelurahan di Kecamatan Pesantren itu baru berusia 18 tahun. Demikian pula Sudrun. “Sudah telanjur hamil, jadi terpaksa mengurus dispensasi nikah,” kata Mbok Ndewor menceritakan pernikahannya tiga tahun silam.

Mbok Ndewor yang saat itu sudah lulus sekolah tidak ambil pusing dengan pernikahan dini yang dilakoninya. Kemungkinan adanya gunjingan dari lingkungan sekitar juga tidak dipikirkan. Sing penting rabi.

Dan, sesuai kesepakatan dua keluarga, Sudrun yang sama-sama tinggal di Kecamatan Pesantren itu menikahi pujaan hatinya. Karena Mbok Ndewor memang sudah hamil duluan, beberapa bulan kemudian mereka langsung menimang bayi. “Awale ya bahagia. Dia kerja, aku di rumah mengurus anak,” lanjut perempuan yang Jumat (20/1) lalu berjilbab itu.

Baca Juga :  Kader Kesehatan Jayabaya, di Tengah Ancaman DBD dan Pandemi Korona

Demi berumah tangga dengan Sudrun, Mbok Ndewor yang awalnya masih serumah dengan orang tua, rela tinggal terpisah dengan mengontrak rumah. Seluruh kebutuhan rumah tangga dipenuhi dari gaji pria yang menjadi pekerja di gudang itu. Saat itulah masalah mulai bermunculan.

- Advertisement -

Sudrun dan Mbok Ndewor yang semula rukun jadi sering bertengkar. Pemicunya adalah pendapatan yang tak sesuai dengan jumlah pengeluaran. Belakangan pasangan suami istri ini menjadi banyak utang. “Sejak istri lahiran kebutuhan terus meningkat. Mana kerjaan lagi sepi, banyak yang dirumahkan,” keluh Sudrun.

Jika Mbok Ndewor mengeluhkan pendapatan suaminya yang kurang, Sudrun yang duduk terpisah dari istrinya itu menuding ibu satu anak itu berubah menjadi perempuan yang boros. Saat keluar rumah, yang dibeli bukan kebutuhan sehari-hari, tapi pernak-pernik untuk bayi. “Ya wajar sih beli mainan anak, tapi boros banget. Mana yang diminta harganya jutaan,” sungutnya.

Baca Juga :  Pamite Lembur Kerja, Jebule Nggolek Jaka

Puncaknya, ketika Ferdy dirumahkan dan kebutuhan meningkat. Utang mereka semakin menggunung. Belum lagi Sudrun dauber-uber oleh rentenir karena tak bisa bayar cicilan. “Buat mencukupi kebutuhan saya terpaksa berutang, mana kemauan dia kan banyak, dari pada pusing ya cari uang dengan berutang,” bebernya.

Rupanya, kondisi tersebut membuat Mbok Ndewor tak tahan. Dia memilih mengajukan perceraian. “Menikah juga karena terpaksa. Dia nggak mau diajak berhemat. Ya, sudahlah pasrah,” tandas Sudrun.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Kediri”. Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira
- Advertisement -

Jenenge wong mabuk asmara, apa ae dadine indah. Sudrun sing cinta mati karo Mbok Ndewor langsung janji sehidup semati. Sapa sing ora ngleyang krungu rayuan maut ngono kuwi. Mbok Ndewor langsung pasrah diajak hoho hihe sampek hamil di luar nikah atau married by accident.

Singkat cerita, Mbok Ndewor yang telanjur hamil terpaksa menikah. Meski, saat itu gadis asal salah satu kelurahan di Kecamatan Pesantren itu baru berusia 18 tahun. Demikian pula Sudrun. “Sudah telanjur hamil, jadi terpaksa mengurus dispensasi nikah,” kata Mbok Ndewor menceritakan pernikahannya tiga tahun silam.

Mbok Ndewor yang saat itu sudah lulus sekolah tidak ambil pusing dengan pernikahan dini yang dilakoninya. Kemungkinan adanya gunjingan dari lingkungan sekitar juga tidak dipikirkan. Sing penting rabi.

Dan, sesuai kesepakatan dua keluarga, Sudrun yang sama-sama tinggal di Kecamatan Pesantren itu menikahi pujaan hatinya. Karena Mbok Ndewor memang sudah hamil duluan, beberapa bulan kemudian mereka langsung menimang bayi. “Awale ya bahagia. Dia kerja, aku di rumah mengurus anak,” lanjut perempuan yang Jumat (20/1) lalu berjilbab itu.

Baca Juga :  Kader Kesehatan Jayabaya, di Tengah Ancaman DBD dan Pandemi Korona

Demi berumah tangga dengan Sudrun, Mbok Ndewor yang awalnya masih serumah dengan orang tua, rela tinggal terpisah dengan mengontrak rumah. Seluruh kebutuhan rumah tangga dipenuhi dari gaji pria yang menjadi pekerja di gudang itu. Saat itulah masalah mulai bermunculan.

Sudrun dan Mbok Ndewor yang semula rukun jadi sering bertengkar. Pemicunya adalah pendapatan yang tak sesuai dengan jumlah pengeluaran. Belakangan pasangan suami istri ini menjadi banyak utang. “Sejak istri lahiran kebutuhan terus meningkat. Mana kerjaan lagi sepi, banyak yang dirumahkan,” keluh Sudrun.

Jika Mbok Ndewor mengeluhkan pendapatan suaminya yang kurang, Sudrun yang duduk terpisah dari istrinya itu menuding ibu satu anak itu berubah menjadi perempuan yang boros. Saat keluar rumah, yang dibeli bukan kebutuhan sehari-hari, tapi pernak-pernik untuk bayi. “Ya wajar sih beli mainan anak, tapi boros banget. Mana yang diminta harganya jutaan,” sungutnya.

Baca Juga :  Nyabu, Ibu Rumah Tangga Asal Gampengrejo Ditangkap

Puncaknya, ketika Ferdy dirumahkan dan kebutuhan meningkat. Utang mereka semakin menggunung. Belum lagi Sudrun dauber-uber oleh rentenir karena tak bisa bayar cicilan. “Buat mencukupi kebutuhan saya terpaksa berutang, mana kemauan dia kan banyak, dari pada pusing ya cari uang dengan berutang,” bebernya.

Rupanya, kondisi tersebut membuat Mbok Ndewor tak tahan. Dia memilih mengajukan perceraian. “Menikah juga karena terpaksa. Dia nggak mau diajak berhemat. Ya, sudahlah pasrah,” tandas Sudrun.

 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram “Radar Kediri”. Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.






Reporter: Ilmidza Amalia Nadzira

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/