31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Marketing On Wednesday #49

Citayam Fashion Week

Awalnya anak-anak muda (ABG) ini hanya sering berkerumun dan nongkrong di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Lalu, mereka saling adu pakaian. Saling adu yang paling modis dan keren. Bahkan, lama-lama model pakaian mereka semakin nyentrik.

 

Lalu, satu per satu dari para ABG itu diwawancarai oleh salah seorang YouTuber. Jawaban-jawaban mereka yang terkesan polos dan apa adanya, ditambah lagi dengan model pakaian mereka yang khas dan nyentrik membuat eksistensi mereka menarik perhatian netizen.

 

Maka, eksistensi para ABG yang nongkrong di kawasan Sudirman itu dengan berbagai gaya pakaian mereka yang khas dan nyentrik, disebut sebagai “Citayam Fashion Week”. Mengacu pada “Paris Fashion Week” yang terkenal itu.

 

Bedanya, di “Paris Fashion Week” yang berlenggak-lenggok sambil menyeberangi jalan adalah para model professional. Sedangkan di “Citayam Fashion Week” para model yang berlenggak-lenggok sambil menyeberang jalan adalah para ABG yang masih polos, masih unyu-unyu, yang kebanyakan dari mereka berasal dari Citayam, salah satu kawasan penyangga Jakarta yang berada di pinggiran Kota Depok, yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor.

 

Saking viralnya fenomena “Citayam Fashion Week” ini sampai-sampai media dari Jepang ikut menyorotinya. Salah satu media fesyen asal Negeri Sakura, “Tokyo Fashion” dalam cuitannya di twitter membandingkan “Citayam Fashion Week” dengan pergelaran “Street Fashion Harajuku”.

Baca Juga :  Experiential Marketing

 

Jadi, “Citayam Fashion Week” sudah menjadi “brand” yang dikenal luas. Meski awalnya, fenomenanya tergolong tiba-tiba, tanpa direncanakan, atau digerakkan oleh satu pihak. Fenomena “Citayam Fashion Week” murni “social movement” pada awalnya.

 

Tapi, ketika sudah menjadi “brand” yang sangat terkenal, ceritanya bisa lain. Banyak pihak dengan kesiapan (modal) lebih tinggi mulai memanfaatkan momentum tersebut. “Citayam Fashion Week” ibarat “durian runtuh”. Maka, siapa pun yang paling siap mengambil dan memanfaatkan “durian runtuh” itu, pasti akan mengambil dan memanfaatkannya.

 

Satu per satu artis, selebgram, selebtok, semakin banyak yang nimbrung ketenaran “Citayam Fashion Week”. Termasuk sejumlah stasiun televisi dan juga para YouTuber.

 

Paula Verhoeven, isteri dari Baim Wong, dalam tayangan YouTube-nya terlihat sedang mencari rumah Bonge, salah satu ikon dan sosok penting dibalik “Citayam Fashion Week”. Bahkan, Paula berlenggak-lenggok bareng dengan Bonge di arena kawasan Sudirman itu.

 

Tak ketinggalan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ikut berlenggak-lenggok di lokasi “Citayam Fashion Week”.

 

Seakan tak mau ketinggalan momentum, Baim Wong mengajukan hak merek atas “Citayam Fashion Week” melalui salah satu perusahaannya, PT Tiger Wong ke Kementerian Hukum dan HAM. Dan ternyata bukan hanya Baim Wong yang berusaha mempatenkan “Citayam Fashion Week”. Tapi, Indigo Aditya Nugroho juga melakukan hal yang sama. Dia adalah seorang konten creator yang membuat konten melalui akun KutipanX-Media Network.

Baca Juga :  Brand Legend

 

Upaya Baim dan Aditya ini dikecam oleh netizen. Sebab, keduanya dianggap tidak punya hak atas “Citayam Fashion Week”. Mereka tidak ikut berkeringat dalam mengkreasi dan mempoles sedemikian rupa, dari aktivitas yang semula hanya berkerumun, hingga menjadi sebuah ajang yang disebut “Citayam Fashion Week”. Tak ayal, langkah Baim dan Aditya ini mendapatkan kritikan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. Dia meminta, agar pihak-pihak yang memiliki modal besar tidak memanfaatkan “Citayam Fashion Week” sebagai ladang uang bagi diri dan kelompoknya sendiri.

 

Dari fenomena “Citayam Fashion Week” ini, kita bisa mengambil setidaknya dua pelajaran. Pertama, bahwa “brand” itu bisa lahir dari sebuah aktivitas yang dilakukan secara rutin, spontan, melibatkan banyak orang, dan mengandung keunikan dan kekhasan tersendiri. Kedua, “Citayam Fashion Week” semakin membuktikan betapa dahsyatnya kekuatan dari “viral marketing”, yang mengandalkan audiens untuk menjadi promotornya. Mereka ini lah yang secara suka rela menyebarkannya ke orang lain. Kata kunci dari dua hal ini adalah “kreativitas”. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Awalnya anak-anak muda (ABG) ini hanya sering berkerumun dan nongkrong di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Dukuh Atas, Jakarta Pusat. Lalu, mereka saling adu pakaian. Saling adu yang paling modis dan keren. Bahkan, lama-lama model pakaian mereka semakin nyentrik.

 

Lalu, satu per satu dari para ABG itu diwawancarai oleh salah seorang YouTuber. Jawaban-jawaban mereka yang terkesan polos dan apa adanya, ditambah lagi dengan model pakaian mereka yang khas dan nyentrik membuat eksistensi mereka menarik perhatian netizen.

 

Maka, eksistensi para ABG yang nongkrong di kawasan Sudirman itu dengan berbagai gaya pakaian mereka yang khas dan nyentrik, disebut sebagai “Citayam Fashion Week”. Mengacu pada “Paris Fashion Week” yang terkenal itu.

 

Bedanya, di “Paris Fashion Week” yang berlenggak-lenggok sambil menyeberangi jalan adalah para model professional. Sedangkan di “Citayam Fashion Week” para model yang berlenggak-lenggok sambil menyeberang jalan adalah para ABG yang masih polos, masih unyu-unyu, yang kebanyakan dari mereka berasal dari Citayam, salah satu kawasan penyangga Jakarta yang berada di pinggiran Kota Depok, yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor.

 

Saking viralnya fenomena “Citayam Fashion Week” ini sampai-sampai media dari Jepang ikut menyorotinya. Salah satu media fesyen asal Negeri Sakura, “Tokyo Fashion” dalam cuitannya di twitter membandingkan “Citayam Fashion Week” dengan pergelaran “Street Fashion Harajuku”.

Baca Juga :  Bunuh Bayi di Kepung: Cekik dan Buang karena Malu

 

Jadi, “Citayam Fashion Week” sudah menjadi “brand” yang dikenal luas. Meski awalnya, fenomenanya tergolong tiba-tiba, tanpa direncanakan, atau digerakkan oleh satu pihak. Fenomena “Citayam Fashion Week” murni “social movement” pada awalnya.

 

Tapi, ketika sudah menjadi “brand” yang sangat terkenal, ceritanya bisa lain. Banyak pihak dengan kesiapan (modal) lebih tinggi mulai memanfaatkan momentum tersebut. “Citayam Fashion Week” ibarat “durian runtuh”. Maka, siapa pun yang paling siap mengambil dan memanfaatkan “durian runtuh” itu, pasti akan mengambil dan memanfaatkannya.

 

Satu per satu artis, selebgram, selebtok, semakin banyak yang nimbrung ketenaran “Citayam Fashion Week”. Termasuk sejumlah stasiun televisi dan juga para YouTuber.

 

Paula Verhoeven, isteri dari Baim Wong, dalam tayangan YouTube-nya terlihat sedang mencari rumah Bonge, salah satu ikon dan sosok penting dibalik “Citayam Fashion Week”. Bahkan, Paula berlenggak-lenggok bareng dengan Bonge di arena kawasan Sudirman itu.

 

Tak ketinggalan, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ikut berlenggak-lenggok di lokasi “Citayam Fashion Week”.

 

Seakan tak mau ketinggalan momentum, Baim Wong mengajukan hak merek atas “Citayam Fashion Week” melalui salah satu perusahaannya, PT Tiger Wong ke Kementerian Hukum dan HAM. Dan ternyata bukan hanya Baim Wong yang berusaha mempatenkan “Citayam Fashion Week”. Tapi, Indigo Aditya Nugroho juga melakukan hal yang sama. Dia adalah seorang konten creator yang membuat konten melalui akun KutipanX-Media Network.

Baca Juga :  Experiential Marketing

 

Upaya Baim dan Aditya ini dikecam oleh netizen. Sebab, keduanya dianggap tidak punya hak atas “Citayam Fashion Week”. Mereka tidak ikut berkeringat dalam mengkreasi dan mempoles sedemikian rupa, dari aktivitas yang semula hanya berkerumun, hingga menjadi sebuah ajang yang disebut “Citayam Fashion Week”. Tak ayal, langkah Baim dan Aditya ini mendapatkan kritikan dari Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno. Dia meminta, agar pihak-pihak yang memiliki modal besar tidak memanfaatkan “Citayam Fashion Week” sebagai ladang uang bagi diri dan kelompoknya sendiri.

 

Dari fenomena “Citayam Fashion Week” ini, kita bisa mengambil setidaknya dua pelajaran. Pertama, bahwa “brand” itu bisa lahir dari sebuah aktivitas yang dilakukan secara rutin, spontan, melibatkan banyak orang, dan mengandung keunikan dan kekhasan tersendiri. Kedua, “Citayam Fashion Week” semakin membuktikan betapa dahsyatnya kekuatan dari “viral marketing”, yang mengandalkan audiens untuk menjadi promotornya. Mereka ini lah yang secara suka rela menyebarkannya ke orang lain. Kata kunci dari dua hal ini adalah “kreativitas”. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

GIIAS

Berkah Guerrilla Marketing

Manajemen Risiko

Vespa

Ronaldinho

Most Read


Artikel Terbaru

/