29 C
Kediri
Saturday, December 3, 2022

Marketing On Wednesday #66

Jurus Nasdem

- Advertisement -

Saya termasuk yang masih penasaran, dengan manuver Partai Nasional Demokrat (Nasdem), yang mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden mereka pada Pemilu Presiden 2024.

Penasaran, karena Anies bukan lah kader Nasdem. Penasaran, karena partai-partai politik lain masih belum ada yang terang-terangan mendeklarasikan jagonya. Dan penasaran, karena Nasdem adalah partai politik anggota koalisi pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, dan selama ini Anies dikesankan sebagai sosok yang “bukan pilihannya” Joko Widodo.

Di tengah rasa penasaran itu, saya pun menebak-nebak manuver Nasdem tersebut. Jika diibaratkan dalam sebuah pertempuran, mungkin yang dilakukan Nasdem ini bisa diidentikkan dengan strategi menyerang.

Menurut Sun-Tzu, ahli perang China, kemenangan akan lebih dimungkinkan apabila posisinya menyerang. Sebaliknya, kalau pasif, dan hanya menunggu, maka kemenangan itu jauh lebih kecil probabilitasnya.

Mengambil inisiatif menyerang, menurut Sun-Tzu, membuat kita berada di roda kemudi. Kita yang memegang kendali.

- Advertisement -

Jika posisi Anda menyerang, maka akan memberikan banyak keuntungan secara psikologis. Pasar akan melihat Anda, sebagai pemimpin, karena keleluasaan Anda bergerak. Pasar melihat Anda sebagai penentu, dan tidak jarang sebagai pencipta tren. Ada pepatah bijak: “Kita tidak akan tahu, betapa derasnya hujan yang turun, kalau kita tidak mau keluar, dan merasakan sendiri hujan yang turun”. Ini adalah sebagai motivasi, untuk selalu mencoba dan mengambil inisiatif terlebih dahulu. Dan ini rupanya yang dilakukan Nasdem.

Baca Juga :  Gantikan Muzer Zaidib, Mujiono Come Back

Sun-Tzu berpendapat, satu-satunya jalan untuk mengukur kekuatan lawan yang sesungguhnya adalah dengan menyerangnya langsung dan terlibat dalam pertempuran langsung, baru kita bisa menilai reaksi dan strateginya. Selain itu, kita juga baru bisa menilai logistik dan persiapannya.

Setidaknya ada tiga jenis serangan yang diformulasikan Sun-Tzu. Pertama, serangan langsung. Istilahnya: “head-on-attack”. Serangan ini secara taktis menguntungkan Anda, apabila Anda punya keunggulan yang sangat banyak dibanding kompetitor.

Kedua, serangan tidak langsung. Artinya, bukan pertempuran terbuka, tetapi lebih kepada adu cerdik. Misalnya, Anda lebih banyak membuat jebakan-jebakan terhadap kompetitor Anda. Tidak jarang, Anda meminjam tangan orang lain untuk melemahkan musuh Anda. Ketika kompetitor lemah dan lengah, Anda baru menyerangnya langsung.

Yang ketiga, adalah serangan gerilya. Dimana taktik Anda adalah mengempesi kekuatan kompetitor sedikit demi sedikit. Anda menciptakan sejumlah serangan kecil-kecil, di kantong musuh yang lemah. Ketika kekuatan musuh berkurang jauh, baru lah Anda melakukan serangan langsung.

Baca Juga :  Social Marketing

Nah, jika memang yang dilakukan Nasdem itu bisa diibaratkan sebagai menjalankan strategi menyerang ala Sun-Tzu, kira-kira jenis serangan yang manakah yang saat ini sedang dijalankan? Mungkin yang paling mendekati adalah jenis serangan yang kedua. Yakni, jenis “serangan tidak langsung”. Lebih pada adu cerdik. Adu cerdik dengan pemerintah, dimana Nasdem berada dalam ekosistem partai politik pendukung kekuasaan. Dalam hal ini, Nasdem meminjam tangan orang lain, yakni menggunakan Anies sebagai simbol perlawanan dalam melancarkan “strategi menyerangnya” itu.

Bisa juga ditafsiri, dengan manuvernya itu, Nasdem sedang berancang-ancang untuk berhadap-hadapan dengan partai-partai politik pendukung pemerintah pada 2024 nanti.

Dalam dunia bisnis, wabil khusus dalam konteks marketing, saya selalu menekankan kepada tim marketing saya, bahwa mereka harus punya intuisi untuk bertempur, menyerang, tanggap membalas dan bereaksi. Tetapi yang terpenting, selalu menyadari posisinya untuk bertahan. Bukan kah ada pameo yang mengatakan, bahwa dunia bisnis memang sesungguhnya merupakan medan laga pertempuran? Secara territorial, kemampuan menyerang adalah bukti kepiawaian seorang jenderal pemasaran. Jadi, Nasdem dibawah Surya Paloh, sedang memainkan strategi menyerang? Dan sedang memainkan jurus marketing politik? Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Saya termasuk yang masih penasaran, dengan manuver Partai Nasional Demokrat (Nasdem), yang mendeklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden mereka pada Pemilu Presiden 2024.

Penasaran, karena Anies bukan lah kader Nasdem. Penasaran, karena partai-partai politik lain masih belum ada yang terang-terangan mendeklarasikan jagonya. Dan penasaran, karena Nasdem adalah partai politik anggota koalisi pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo, dan selama ini Anies dikesankan sebagai sosok yang “bukan pilihannya” Joko Widodo.

Di tengah rasa penasaran itu, saya pun menebak-nebak manuver Nasdem tersebut. Jika diibaratkan dalam sebuah pertempuran, mungkin yang dilakukan Nasdem ini bisa diidentikkan dengan strategi menyerang.

Menurut Sun-Tzu, ahli perang China, kemenangan akan lebih dimungkinkan apabila posisinya menyerang. Sebaliknya, kalau pasif, dan hanya menunggu, maka kemenangan itu jauh lebih kecil probabilitasnya.

Mengambil inisiatif menyerang, menurut Sun-Tzu, membuat kita berada di roda kemudi. Kita yang memegang kendali.

Jika posisi Anda menyerang, maka akan memberikan banyak keuntungan secara psikologis. Pasar akan melihat Anda, sebagai pemimpin, karena keleluasaan Anda bergerak. Pasar melihat Anda sebagai penentu, dan tidak jarang sebagai pencipta tren. Ada pepatah bijak: “Kita tidak akan tahu, betapa derasnya hujan yang turun, kalau kita tidak mau keluar, dan merasakan sendiri hujan yang turun”. Ini adalah sebagai motivasi, untuk selalu mencoba dan mengambil inisiatif terlebih dahulu. Dan ini rupanya yang dilakukan Nasdem.

Baca Juga :  GIIAS

Sun-Tzu berpendapat, satu-satunya jalan untuk mengukur kekuatan lawan yang sesungguhnya adalah dengan menyerangnya langsung dan terlibat dalam pertempuran langsung, baru kita bisa menilai reaksi dan strateginya. Selain itu, kita juga baru bisa menilai logistik dan persiapannya.

Setidaknya ada tiga jenis serangan yang diformulasikan Sun-Tzu. Pertama, serangan langsung. Istilahnya: “head-on-attack”. Serangan ini secara taktis menguntungkan Anda, apabila Anda punya keunggulan yang sangat banyak dibanding kompetitor.

Kedua, serangan tidak langsung. Artinya, bukan pertempuran terbuka, tetapi lebih kepada adu cerdik. Misalnya, Anda lebih banyak membuat jebakan-jebakan terhadap kompetitor Anda. Tidak jarang, Anda meminjam tangan orang lain untuk melemahkan musuh Anda. Ketika kompetitor lemah dan lengah, Anda baru menyerangnya langsung.

Yang ketiga, adalah serangan gerilya. Dimana taktik Anda adalah mengempesi kekuatan kompetitor sedikit demi sedikit. Anda menciptakan sejumlah serangan kecil-kecil, di kantong musuh yang lemah. Ketika kekuatan musuh berkurang jauh, baru lah Anda melakukan serangan langsung.

Baca Juga :  Gantikan Muzer Zaidib, Mujiono Come Back

Nah, jika memang yang dilakukan Nasdem itu bisa diibaratkan sebagai menjalankan strategi menyerang ala Sun-Tzu, kira-kira jenis serangan yang manakah yang saat ini sedang dijalankan? Mungkin yang paling mendekati adalah jenis serangan yang kedua. Yakni, jenis “serangan tidak langsung”. Lebih pada adu cerdik. Adu cerdik dengan pemerintah, dimana Nasdem berada dalam ekosistem partai politik pendukung kekuasaan. Dalam hal ini, Nasdem meminjam tangan orang lain, yakni menggunakan Anies sebagai simbol perlawanan dalam melancarkan “strategi menyerangnya” itu.

Bisa juga ditafsiri, dengan manuvernya itu, Nasdem sedang berancang-ancang untuk berhadap-hadapan dengan partai-partai politik pendukung pemerintah pada 2024 nanti.

Dalam dunia bisnis, wabil khusus dalam konteks marketing, saya selalu menekankan kepada tim marketing saya, bahwa mereka harus punya intuisi untuk bertempur, menyerang, tanggap membalas dan bereaksi. Tetapi yang terpenting, selalu menyadari posisinya untuk bertahan. Bukan kah ada pameo yang mengatakan, bahwa dunia bisnis memang sesungguhnya merupakan medan laga pertempuran? Secara territorial, kemampuan menyerang adalah bukti kepiawaian seorang jenderal pemasaran. Jadi, Nasdem dibawah Surya Paloh, sedang memainkan strategi menyerang? Dan sedang memainkan jurus marketing politik? Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

Super Air Jet

Sawit

Ekosistem Digital dan Kolaborasi

Jokowi dan IKN

Most Read


Artikel Terbaru

/