25 C
Kediri
Saturday, October 1, 2022

Marketing On Wednesday #57

Gen Z

- Advertisement -

Selama tiga hari (16-18 September 2022), kami bikin event khusus untuk generasi Z di Kediri Raya: “GenZVerse”. Maknanya: “Semesta generasi Z”. Event itu kami pusatkan di Convention Hall Simpang Lima Gumul, Kabupaten Kediri. Mereka yang ikut adalah para pelajar mulai dari SMP, hingga SMA/SMK dari Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Nganjuk, Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek.

Mengapa “generasi Z”? Karena kami ingin menjangkau generasi ini. “Generasi Z” adalah generasi yang pada tahun ini jumlahnya secara global sudah melebihi “generasi Y”. Dan di masa mendatang, “generasi Z” sangat strategis. Sekitar tiga tahun lagi (2025), mereka akan menjadi bagian terbesar dari angkatan kerja.

Dan saat ini, di atas planet ini, sesungguhnya telah hidup bersamaan lima generasi yang berbeda. Buku “Marketing 5.0, Teknologi untuk Kemanusiaaan” yang ditulis bersama-sama: Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan secara gamblang menjelaskan tentang kelima kelompok generasi itu.

Pertama, generasi “Baby Boomers”. Generasi yang lahir antara 1946 – 1964 ini sekarang berusia antara 58 – 76 tahun. Selama beberapa dekade, “baby boomers” telah menjadi fokus para pemasar. Mereka saat ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama. Dan kebanyakan mereka memegang peran eksekutif di perusahaan. Dengan menjalani hidup yang lebih sehat dan panjang, semakin banyak “baby boomers” yang menunda pensiun dan memperpanjang karir mereka jauh melampaui usia 65 tahun.

Kedua, “generasi X”. Generasi yang lahir pada 1965 – 1980 ini sekarang berusia antara 42 – 57. Generasi ini diapit oleh popularitas “baby boomers” dan “generasi Y”. Seringkali “generasi X” ini tidak dihiraukan oleh pemasar. Karena itu dijuluki “anak tengah yang terlupakan”.

- Advertisement -

Kelompok “generasi X” merasakan tahun 1970-an yang penuh gejolak, dan 1980-an yang penuh ketidakpastian. Dan itu terjadi selama masa kanak-kanak dan masa remaja mereka. Tetapi kemudian memasuki dunia kerja dalam situasi ekonomi yang lebih baik. Generasi ini juga memahami dengan baik konsep “teman” dan “keluarga”. Dan sebagai kelompok anak tengah, “generasi X” mengalami pergeseran teknologi yang cukup besar, yang membuat mereka lebih mudah beradaptasi.

Baca Juga :  ---- Ide ----

Saat ini, “generasi X” memegang peran kepemimpinan terbanyak dalam bisnis. Di sisi lain, banyak juga “generasi X” yang meninggalkan perusahaan tempat mereka bekerja saat berusia 40-an tahun, lalu membuka usaha sendiri, dan menjadi pengusaha sukses.

Ketiga, “generasi Y”. Generasi yang lahir pada 1981 – 1996 ini sekarang berusia 26 – 41 tahun. Kelompok ini paling sering dibicarakan dalam beberapa dekade terakhir. Mereka tumbuh dewasa di era milenium baru. Generasi ini juga sering disebut dengan “generasi milenial.” Sebagian besar “generasi Y” adalah anak dari “baby boomers”. Karena itu, mereka ini juga dikenal sebagai generasi “echo boomer”. Umumnya mereka lebih berpendidikan dan beragam dalam budaya, ketimbang generasi
sebelumnya.

“Generasi Y” juga merupakan generasi pertama yang sangat dikaitkan dengan penggunaan media sosial. Tidak seperti “generasi X” yang lebih dahulu menggunakan internet di tempat kerja karena alasan pekerjaan, “generasi Y” belajar tentang internet di usia yang jauh lebih muda.

Di media sosial, “generasi Y” sangat terbuka mengekspresikan diri dan sering membandingkan diri dengan teman sebaya mereka. Akibatnya, mereka sangat terpengaruh dengan apa yang dikatakan dan dibeli oleh teman sebaya mereka. Mereka lebih memercayai teman sebaya daripada merek-merek mapan. “Generasi Y” melakukan banyak riset dan pembelian daring, terutama dengan ponsel mereka.

Keempat, “generasi Z”. Generasi yang lahir pada 1997 – 2009 ini sekarang berumur antara 13 – 25 tahun. Mereka ini lahir ketika internet sudah menjadi arus utama. Karena itu dianggap sebagai generasi digital pertama. Karena tidak memiliki pengalaman hidup tanpa internet, mereka memandang teknologi digital sebagai bagian dari hidup sehari-hari yang sangat penting. Mereka selalu terhubung dengan internet melalui perangkat digital untuk belajar, berburu berita, berbelanja, dan berselancar di media sosial. Generasi ini menikmati konten secara terus-menerus melalui beberapa layar, meskipun sedang bersama orang lain. Akibatnya, mereka tidak melihat batasan antara dunia online dan offline.

Baca Juga :  GIIAS

“Generasi Z” merekam kehidupan sehari-hari mereka dalam bentuk foto dan video di media sosial. Bedanya dengan “generasi Y” yang cenderung lebih idealis, “generasi Z” lebih cenderung pragmatis. “Generasi Y” lebih suka menampilkan foto diri yang telah dipoles dan difilter demi citra pribadi. Sedangkan “generasi Z” lebih suka menampilkan versi diri mereka yang autentik dan apa adanya. Karena itu, generasi ini membenci merek yang menampilkan citra produk yang direkayasa dan muluk-muluk. Dan generasi ini ingin agar sebuah brand mampu menyampaikan konten, penawaran dan pengalaman dari pelanggan yang dipersonalisasi.

Kelima, “generasi Alfa”. Generasi yang lahir pada 2010 – 2025 ini adalah generasi yang dilahirkan oleh generasi “milenial”. Karena itu mereka menjadi anak-anak pertama abad 21 dan dijuluki sebagai digital natives (warga digital yang sesungguhnya). Sebutan “alfa” diberikan oleh Mark McCrindl.

“Generasi Alfa” sangat dipengaruhi oleh perilaku digital orang tuanya (“generasi Y” atau generasi “milenial”) dan kakaknya (“generasi Z”). Makanya, mereka aktif mengkonsumsi konten di perangkat seluler sejak masa kanak-kanak. Dan mereka mempunyai waktu menonton yang relatif lebih panjang daripada generasi sebelumnya.
“Generasi Alfa” saat ini memang belum memiliki daya beli yang tinggi. Tetapi mereka sudah mempunyai pengaruh yang kuat terhadap belanja orang tua. Menurut riset Google/Ipsos mengungkapkan bahwa 74 persen orang tua milenial (“generasi Y”) melibatkan anak-anak mereka (“generasi Alfa”) dalam keputusan terkait rumah tangga.

Nah, dengan mengetahui karakter lima kelompok generasi tersebut, kita bisa melakukan introspeksi terhadap produk kita. Apakah produk kita sudah menjangkau kelima generasi itu? Atau, produk kita hanya menyasar pada kelompok generasi tertentu? Ketika sudah mengetahui karakter berbagai kelompok generasi tersebut, apakah produk kita sudah menyesuaikan dengan berbagai karakter itu? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Selama tiga hari (16-18 September 2022), kami bikin event khusus untuk generasi Z di Kediri Raya: “GenZVerse”. Maknanya: “Semesta generasi Z”. Event itu kami pusatkan di Convention Hall Simpang Lima Gumul, Kabupaten Kediri. Mereka yang ikut adalah para pelajar mulai dari SMP, hingga SMA/SMK dari Kota Kediri, Kabupaten Kediri, Nganjuk, Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek.

Mengapa “generasi Z”? Karena kami ingin menjangkau generasi ini. “Generasi Z” adalah generasi yang pada tahun ini jumlahnya secara global sudah melebihi “generasi Y”. Dan di masa mendatang, “generasi Z” sangat strategis. Sekitar tiga tahun lagi (2025), mereka akan menjadi bagian terbesar dari angkatan kerja.

Dan saat ini, di atas planet ini, sesungguhnya telah hidup bersamaan lima generasi yang berbeda. Buku “Marketing 5.0, Teknologi untuk Kemanusiaaan” yang ditulis bersama-sama: Philip Kotler, Hermawan Kartajaya, dan Iwan Setiawan secara gamblang menjelaskan tentang kelima kelompok generasi itu.

Pertama, generasi “Baby Boomers”. Generasi yang lahir antara 1946 – 1964 ini sekarang berusia antara 58 – 76 tahun. Selama beberapa dekade, “baby boomers” telah menjadi fokus para pemasar. Mereka saat ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama. Dan kebanyakan mereka memegang peran eksekutif di perusahaan. Dengan menjalani hidup yang lebih sehat dan panjang, semakin banyak “baby boomers” yang menunda pensiun dan memperpanjang karir mereka jauh melampaui usia 65 tahun.

Kedua, “generasi X”. Generasi yang lahir pada 1965 – 1980 ini sekarang berusia antara 42 – 57. Generasi ini diapit oleh popularitas “baby boomers” dan “generasi Y”. Seringkali “generasi X” ini tidak dihiraukan oleh pemasar. Karena itu dijuluki “anak tengah yang terlupakan”.

Kelompok “generasi X” merasakan tahun 1970-an yang penuh gejolak, dan 1980-an yang penuh ketidakpastian. Dan itu terjadi selama masa kanak-kanak dan masa remaja mereka. Tetapi kemudian memasuki dunia kerja dalam situasi ekonomi yang lebih baik. Generasi ini juga memahami dengan baik konsep “teman” dan “keluarga”. Dan sebagai kelompok anak tengah, “generasi X” mengalami pergeseran teknologi yang cukup besar, yang membuat mereka lebih mudah beradaptasi.

Baca Juga :  GIIAS

Saat ini, “generasi X” memegang peran kepemimpinan terbanyak dalam bisnis. Di sisi lain, banyak juga “generasi X” yang meninggalkan perusahaan tempat mereka bekerja saat berusia 40-an tahun, lalu membuka usaha sendiri, dan menjadi pengusaha sukses.

Ketiga, “generasi Y”. Generasi yang lahir pada 1981 – 1996 ini sekarang berusia 26 – 41 tahun. Kelompok ini paling sering dibicarakan dalam beberapa dekade terakhir. Mereka tumbuh dewasa di era milenium baru. Generasi ini juga sering disebut dengan “generasi milenial.” Sebagian besar “generasi Y” adalah anak dari “baby boomers”. Karena itu, mereka ini juga dikenal sebagai generasi “echo boomer”. Umumnya mereka lebih berpendidikan dan beragam dalam budaya, ketimbang generasi
sebelumnya.

“Generasi Y” juga merupakan generasi pertama yang sangat dikaitkan dengan penggunaan media sosial. Tidak seperti “generasi X” yang lebih dahulu menggunakan internet di tempat kerja karena alasan pekerjaan, “generasi Y” belajar tentang internet di usia yang jauh lebih muda.

Di media sosial, “generasi Y” sangat terbuka mengekspresikan diri dan sering membandingkan diri dengan teman sebaya mereka. Akibatnya, mereka sangat terpengaruh dengan apa yang dikatakan dan dibeli oleh teman sebaya mereka. Mereka lebih memercayai teman sebaya daripada merek-merek mapan. “Generasi Y” melakukan banyak riset dan pembelian daring, terutama dengan ponsel mereka.

Keempat, “generasi Z”. Generasi yang lahir pada 1997 – 2009 ini sekarang berumur antara 13 – 25 tahun. Mereka ini lahir ketika internet sudah menjadi arus utama. Karena itu dianggap sebagai generasi digital pertama. Karena tidak memiliki pengalaman hidup tanpa internet, mereka memandang teknologi digital sebagai bagian dari hidup sehari-hari yang sangat penting. Mereka selalu terhubung dengan internet melalui perangkat digital untuk belajar, berburu berita, berbelanja, dan berselancar di media sosial. Generasi ini menikmati konten secara terus-menerus melalui beberapa layar, meskipun sedang bersama orang lain. Akibatnya, mereka tidak melihat batasan antara dunia online dan offline.

Baca Juga :  ---- Ide ----

“Generasi Z” merekam kehidupan sehari-hari mereka dalam bentuk foto dan video di media sosial. Bedanya dengan “generasi Y” yang cenderung lebih idealis, “generasi Z” lebih cenderung pragmatis. “Generasi Y” lebih suka menampilkan foto diri yang telah dipoles dan difilter demi citra pribadi. Sedangkan “generasi Z” lebih suka menampilkan versi diri mereka yang autentik dan apa adanya. Karena itu, generasi ini membenci merek yang menampilkan citra produk yang direkayasa dan muluk-muluk. Dan generasi ini ingin agar sebuah brand mampu menyampaikan konten, penawaran dan pengalaman dari pelanggan yang dipersonalisasi.

Kelima, “generasi Alfa”. Generasi yang lahir pada 2010 – 2025 ini adalah generasi yang dilahirkan oleh generasi “milenial”. Karena itu mereka menjadi anak-anak pertama abad 21 dan dijuluki sebagai digital natives (warga digital yang sesungguhnya). Sebutan “alfa” diberikan oleh Mark McCrindl.

“Generasi Alfa” sangat dipengaruhi oleh perilaku digital orang tuanya (“generasi Y” atau generasi “milenial”) dan kakaknya (“generasi Z”). Makanya, mereka aktif mengkonsumsi konten di perangkat seluler sejak masa kanak-kanak. Dan mereka mempunyai waktu menonton yang relatif lebih panjang daripada generasi sebelumnya.
“Generasi Alfa” saat ini memang belum memiliki daya beli yang tinggi. Tetapi mereka sudah mempunyai pengaruh yang kuat terhadap belanja orang tua. Menurut riset Google/Ipsos mengungkapkan bahwa 74 persen orang tua milenial (“generasi Y”) melibatkan anak-anak mereka (“generasi Alfa”) dalam keputusan terkait rumah tangga.

Nah, dengan mengetahui karakter lima kelompok generasi tersebut, kita bisa melakukan introspeksi terhadap produk kita. Apakah produk kita sudah menjangkau kelima generasi itu? Atau, produk kita hanya menyasar pada kelompok generasi tertentu? Ketika sudah mengetahui karakter berbagai kelompok generasi tersebut, apakah produk kita sudah menyesuaikan dengan berbagai karakter itu? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

Tato Elektronik

Humas dan PENCILS

iPhone

Sari Roti

GIIAS dan Inovasi 

Most Read

Ampas Kopi Itu Bisa Jadi Uang

Megengan Pandemi

Tiga Makam di Puncak Bukit Maskumambang


Artikel Terbaru

/