26.7 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

(The Real) Crazy Rich 

Seorang kawan bertanya kepada saya, “Apakah para crazy rich yang suka pamer kekayaan dan kemewahan di medsos (media sosial) itu termasuk personal branding?” Saya menjawab, “iya”.

Personal Branding menurut Peter Montoya: “Is the art of attracting and keeping more clients by actively shaping public perception”. Yakni sebuah seni dalam menarik dan memelihara lebih banyak klien dengan cara membentuk persepsi publik secara aktif.  

Jadi, para crazy rich itu ketika memamerkan harta, kekayaan, dan gaya hidupnya yang mewah di medsos, sejatinya sedang berupaya menarik perhatian, dan memelihara lebih banyak klien dengan cara membentuk persepsi publik secara aktif. Persepsi apa yang ingin dibentuk? Bahwa mereka adalah orang yang kaya-raya. Bahwa mereka adalah “sultan”. Bahwa mereka layak disebut sebagai “crazy rich”. 

Bagaimana dengan crazy rich yang akhirnya ditangkap polisi, ditahan dan ditetapkan tersangka dalam kasus penipuan trading lewat aplikasi Binomo dan Quotex? Seperti yang dialami Indra Kenz, crazy rich asal Medan dan Doni Salmanan, crazy rich asal Bandung baru-baru ini?

Itu lah mengapa, menurut saya, harus dibedakan antara “crazy rich” dengan “the real crazy rich”.  Disebut  “the real crazy rich” jika aset dan  kekayaannya bener-bener bisa dicek jumlahnya. 

Sebetulnya, sebelum marak “crazy rich” seperti sekarang ini, sudah ada para crazy rich.  Siapa saja mereka? Sebut saja misalnya Steve Jobs. Apakah dia seorang crazy rich? Iya. Bahkan “the real crazy rich” karena aset dan kekayaannya benar-benar bisa dicek. Tapi, apakah dia membranding dirinya sebagai crazy rich? Tidak. Personal branding dari seorang Steve Jobs adalah sebagai inovator.

Bil Gates juga “the real crazy rich”. Tapi personal branding-nya adalah pintar, dermawan, insightful, dan sederhana. 

Begitu pula Amancio Ortega. Dia adalah pemilik Inditex Group yang brand-nya kita banyak yang tahu. Di antaranya Zara, Pull&Bear, Bershka, Massimo Dutti, dan Stradivarius. Dia ini jelas-jelas “the real crazy rich”. Tapi, dia sangat menghindari untuk tampil di publik. 

Baca Juga :  Brand Legend

Mark Zuckerberg yang juga “the real crazy rich” tak pernah membranding dirinya sebagai “crazy rich”. Sebaliknya, dia membranding dirinya sebagai sosok yang sederhana. Mamakai kaos oblong yang sama setiap hari. Tidak kelihatan mewahnya. Padahal, kalau dicermati, kaos abu-abunya yang selama ini menjadi ciri khasnya, adalah custom design dari desainer Brunello Cucinelli seharga USD 300. 

Di Indonesia, Michael Bambang Hartono tercatat memiliki kekayaan lebih dari Rp 522 Triliun. Ini data hartanya tahun 2019. Saat ini, harta milik bos perusahaan Djarum dan Bank BCA itu dipastikan meningkat. Tapi, dia hidup sangat sederhana. Sama sekali tak pernah menampakkan sisi-sisi kemewahannya. Bahkan, dia suka makan di pinggir jalan. 

Suatu ketika, di tahun 2019, ada salah satu netizen yang memergoki Michael Bambang sedang makan tahu pong di pinggir jalan, di kawasan Karangsaru Semarang. Lalu, si netizen itu mempostingnya di twitter-nya. Kala itu sempat viral. Jadi, Michael Bambang diviralkan oleh orang lain. Bukan diviralkan oleh dirinya sendiri. Itu pun yang diviralkan bukan sisi kemewahannya. Tapi kesederhanaannya. Ternyata, tahu pong itu adalah langganan Michael Bambang. 

Jadi, apa yang dilakukan para crazy rich yang suka memamerkan harta, kekayaan dan kemewahannya di medsos itu, memang termasuk personal branding. Tapi, sebenarnya bukan benar-benar personal branding dalam arti ideal. Sebab, masih menurut Peter Montoya, ada delapan konsep utama yang membentuk personal branding (8 laws of personal branding).

Pertama, “the law of specialization” (spesialisasi). Personal brand yang kuat memiliki ciri khas dalam spesialisasi yang tepat. Dan fokus pada suatu kekuatan, keahlian atau pencapaian tertentu dalam diri individu.  Kedua, “the law of leadership” (kepemimpinan). Orang dengan personal brand yang dilengkapi kredibilitas dan kekuasaan, dipandang sebagai pemimpin di bidang yang dikuasainya. 

Ketiga, “the law of personality” (kepribadian). Personal brand yang baik harus didasari oleh kepribadian individu yang apa adanya, mengakui dan menerima ketidaksempurnaan dalam dirinya. Konsep ini menjelaskan, bahwa individu harus memiliki kepribadian yang baik. Keempat, “the law of distinctiveness” (perbedaan).  Personal brand yang efektif, harus berbeda dibandingkan dengan lainnya. Memiliki kesan yang berbeda di antara yang lain dalam bidang yang sama dapat menjadikan personal brand yang dibentuk menonjol dan lebih diingat di benak masyarakat. 

Baca Juga :  ---- Ide ----

Kelima, “the law of visibility” (kenampakan). Untuk menciptakan personal brand, kegiatan personal brand harus dilakukan dan terlihat secara konsisten, terus menerus, sampai akhirnya berhasil terbentuk persepsi di benak masyarakat. Konsep ini menunjukkan bahwa “visibility” lebih penting dari kemampuan yang dimiliki seseorang. Jika seseorang dengan kemampuan sangat unggul dan menarik, tapi tidak dipamerkan dan dipromosikan ke publik, personal brand dirinya tidak akan terbentuk. 

Keenam, “the law of unity” (kesatuan). Realitas yang sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari seseorang, harus sesuai dengan nilai dan perilaku yang dibentuk dalam personal brand-nya. Bersikap dalam kepura-puraan, akan bisa merusak personal brand. Dulu, pernah ada motivator yang dikenal sangat bijak dengan nasehat-nasehatnya, tapi dalam kehidipan nyatanya, dia tidak mengakui anak kandungnya. Maka, dalam sekejap, personal brandnya pun hancur. 

Ketujuh, “the law of persistence” (keteguhan). Membentuk personal brand tidak bisa instan. Butuh waktu lama. Maka, individu harus memperhatikan trend dan harus tetap teguh dengan personal brand awal yang dibentuk, tanpa pernah meragukan dan berniat untuk mengubahnya. 

Kedelapan, “the law of goodwill” (nama baik). Seseorang akan dipersepsikan oleh publik dengan personal brand yang baik, dan bisa bertahan lama, jika sebagai pribadi memiliki nilai atau pun ide yang bermanfaat kepada khalayak umum. 

Nah, dengan perspektif personal brand ala Montoya ini, coba kita nilai para “crazy rich” yang selama ini suka memamerkan harta, kekayaan dan kemewahannya? Rasanya, dari delapan kaidah di atas, kebanyakan mereka hanya memenuhi kaidah yang kelima saja: Visibility. Kenampakan. Alias, bisanya hanya pamer. Dan ini bisa sangat menyesatkan. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Seorang kawan bertanya kepada saya, “Apakah para crazy rich yang suka pamer kekayaan dan kemewahan di medsos (media sosial) itu termasuk personal branding?” Saya menjawab, “iya”.

Personal Branding menurut Peter Montoya: “Is the art of attracting and keeping more clients by actively shaping public perception”. Yakni sebuah seni dalam menarik dan memelihara lebih banyak klien dengan cara membentuk persepsi publik secara aktif.  

Jadi, para crazy rich itu ketika memamerkan harta, kekayaan, dan gaya hidupnya yang mewah di medsos, sejatinya sedang berupaya menarik perhatian, dan memelihara lebih banyak klien dengan cara membentuk persepsi publik secara aktif. Persepsi apa yang ingin dibentuk? Bahwa mereka adalah orang yang kaya-raya. Bahwa mereka adalah “sultan”. Bahwa mereka layak disebut sebagai “crazy rich”. 

Bagaimana dengan crazy rich yang akhirnya ditangkap polisi, ditahan dan ditetapkan tersangka dalam kasus penipuan trading lewat aplikasi Binomo dan Quotex? Seperti yang dialami Indra Kenz, crazy rich asal Medan dan Doni Salmanan, crazy rich asal Bandung baru-baru ini?

Itu lah mengapa, menurut saya, harus dibedakan antara “crazy rich” dengan “the real crazy rich”.  Disebut  “the real crazy rich” jika aset dan  kekayaannya bener-bener bisa dicek jumlahnya. 

Sebetulnya, sebelum marak “crazy rich” seperti sekarang ini, sudah ada para crazy rich.  Siapa saja mereka? Sebut saja misalnya Steve Jobs. Apakah dia seorang crazy rich? Iya. Bahkan “the real crazy rich” karena aset dan kekayaannya benar-benar bisa dicek. Tapi, apakah dia membranding dirinya sebagai crazy rich? Tidak. Personal branding dari seorang Steve Jobs adalah sebagai inovator.

Bil Gates juga “the real crazy rich”. Tapi personal branding-nya adalah pintar, dermawan, insightful, dan sederhana. 

Begitu pula Amancio Ortega. Dia adalah pemilik Inditex Group yang brand-nya kita banyak yang tahu. Di antaranya Zara, Pull&Bear, Bershka, Massimo Dutti, dan Stradivarius. Dia ini jelas-jelas “the real crazy rich”. Tapi, dia sangat menghindari untuk tampil di publik. 

Baca Juga :  Marketing By Fear

Mark Zuckerberg yang juga “the real crazy rich” tak pernah membranding dirinya sebagai “crazy rich”. Sebaliknya, dia membranding dirinya sebagai sosok yang sederhana. Mamakai kaos oblong yang sama setiap hari. Tidak kelihatan mewahnya. Padahal, kalau dicermati, kaos abu-abunya yang selama ini menjadi ciri khasnya, adalah custom design dari desainer Brunello Cucinelli seharga USD 300. 

Di Indonesia, Michael Bambang Hartono tercatat memiliki kekayaan lebih dari Rp 522 Triliun. Ini data hartanya tahun 2019. Saat ini, harta milik bos perusahaan Djarum dan Bank BCA itu dipastikan meningkat. Tapi, dia hidup sangat sederhana. Sama sekali tak pernah menampakkan sisi-sisi kemewahannya. Bahkan, dia suka makan di pinggir jalan. 

Suatu ketika, di tahun 2019, ada salah satu netizen yang memergoki Michael Bambang sedang makan tahu pong di pinggir jalan, di kawasan Karangsaru Semarang. Lalu, si netizen itu mempostingnya di twitter-nya. Kala itu sempat viral. Jadi, Michael Bambang diviralkan oleh orang lain. Bukan diviralkan oleh dirinya sendiri. Itu pun yang diviralkan bukan sisi kemewahannya. Tapi kesederhanaannya. Ternyata, tahu pong itu adalah langganan Michael Bambang. 

Jadi, apa yang dilakukan para crazy rich yang suka memamerkan harta, kekayaan dan kemewahannya di medsos itu, memang termasuk personal branding. Tapi, sebenarnya bukan benar-benar personal branding dalam arti ideal. Sebab, masih menurut Peter Montoya, ada delapan konsep utama yang membentuk personal branding (8 laws of personal branding).

Pertama, “the law of specialization” (spesialisasi). Personal brand yang kuat memiliki ciri khas dalam spesialisasi yang tepat. Dan fokus pada suatu kekuatan, keahlian atau pencapaian tertentu dalam diri individu.  Kedua, “the law of leadership” (kepemimpinan). Orang dengan personal brand yang dilengkapi kredibilitas dan kekuasaan, dipandang sebagai pemimpin di bidang yang dikuasainya. 

Ketiga, “the law of personality” (kepribadian). Personal brand yang baik harus didasari oleh kepribadian individu yang apa adanya, mengakui dan menerima ketidaksempurnaan dalam dirinya. Konsep ini menjelaskan, bahwa individu harus memiliki kepribadian yang baik. Keempat, “the law of distinctiveness” (perbedaan).  Personal brand yang efektif, harus berbeda dibandingkan dengan lainnya. Memiliki kesan yang berbeda di antara yang lain dalam bidang yang sama dapat menjadikan personal brand yang dibentuk menonjol dan lebih diingat di benak masyarakat. 

Baca Juga :  Mengail di Air Keruh

Kelima, “the law of visibility” (kenampakan). Untuk menciptakan personal brand, kegiatan personal brand harus dilakukan dan terlihat secara konsisten, terus menerus, sampai akhirnya berhasil terbentuk persepsi di benak masyarakat. Konsep ini menunjukkan bahwa “visibility” lebih penting dari kemampuan yang dimiliki seseorang. Jika seseorang dengan kemampuan sangat unggul dan menarik, tapi tidak dipamerkan dan dipromosikan ke publik, personal brand dirinya tidak akan terbentuk. 

Keenam, “the law of unity” (kesatuan). Realitas yang sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari seseorang, harus sesuai dengan nilai dan perilaku yang dibentuk dalam personal brand-nya. Bersikap dalam kepura-puraan, akan bisa merusak personal brand. Dulu, pernah ada motivator yang dikenal sangat bijak dengan nasehat-nasehatnya, tapi dalam kehidipan nyatanya, dia tidak mengakui anak kandungnya. Maka, dalam sekejap, personal brandnya pun hancur. 

Ketujuh, “the law of persistence” (keteguhan). Membentuk personal brand tidak bisa instan. Butuh waktu lama. Maka, individu harus memperhatikan trend dan harus tetap teguh dengan personal brand awal yang dibentuk, tanpa pernah meragukan dan berniat untuk mengubahnya. 

Kedelapan, “the law of goodwill” (nama baik). Seseorang akan dipersepsikan oleh publik dengan personal brand yang baik, dan bisa bertahan lama, jika sebagai pribadi memiliki nilai atau pun ide yang bermanfaat kepada khalayak umum. 

Nah, dengan perspektif personal brand ala Montoya ini, coba kita nilai para “crazy rich” yang selama ini suka memamerkan harta, kekayaan dan kemewahannya? Rasanya, dari delapan kaidah di atas, kebanyakan mereka hanya memenuhi kaidah yang kelima saja: Visibility. Kenampakan. Alias, bisanya hanya pamer. Dan ini bisa sangat menyesatkan. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

Holywings

Momentum

Top Gun dan Srimulat 

Gen Z 

Social Marketing

Most Read


Artikel Terbaru

/