24 C
Kediri
Tuesday, July 5, 2022

Marketing On Wednesday #43

Top Gun dan Srimulat 

Dalam dua bulan ini ada beberapa film yang menarik untuk ditonton. Selain “Doctor Strange in The Multiverse of Madness” dan “KKN di Desa Penari”, juga ada “Top Gun, Maverick” dan “Srimulat: Hil yang Mustahal, Babak Pertama”. Kali ini saya ingin membahas tentang dua film terakhir: “Top Gun” dan “Srimulat”.

 

Ketika menonton dua film itu, yang menarik perhatian saya adalah penontonnya. Mereka kebanyakan adalah para generasi Z, yang umurnya kira-kira ABG (pelajar) hingga mahasiswa. Bukan kah ketika Film “Top Gun” dulu ngetop, dan ketika Srimulat sedang jaya-jayanya dulu, mereka belum lahir? Kok mereka tertarik menonton “Top Gun” dan “Srimulat”? Apa yang membuat mereka tertarik menonton dua film “daur ulang” itu?

 

Iseng-iseng saya pun bertanya kepada para ABG dan mahasiswa yang saat itu sama-sama satu studio dengan saya, menyaksikan film “Top Gun” dan “Srimulat”. Khusus untuk “Top Gun”, dari jawaban mereka, ternyata daya tariknya ada pada sang bintang utama: Tom Cruise. Sedangkan untuk “Srimulat”, daya tariknya ada pada sang sutradara: Fajar Nugros.

 

Bisa jadi, para ABG alias generasi Z itu tak peduli dengan masa lalu dari dua film itu. Mereka ini tersihir oleh sosok “Tom Cruise” yang menjadi pemeran utama Film “Top Gun”, dan Fajar Nugros yang menjadi sutradara film “Srimulat”. Ini lah kekuatan dari personal branding.

 

Baca Juga :  (The Real) Crazy Rich 

Siapa yang tak kenal Tom Cruise? Dia adalah salah satu bintang film paling populer dalam sejarah Hollywood. Dia sudah menjalani karir panjang selama kurang lebih 40 tahun. Mengutip situs “The Numbers”, dari 39 film dimana Cruise menjadi pemeran utamanya, tercatat telah mengumpulkan pendapatan sebesar USD 10 miliar di box office global. Sebuah capaian yang tak mudah diraih oleh bintang film Hollywood lainnya.

 

Selain itu, Cruise juga dikenal sebagai bintang film yang sangat total ketika memerankan adegan-adegan dalam filmnya. Dia bisa membawa dirinya menjadi semacam pahlawan super di dunia nyata. Dia melakukan aksi dan adegan berbahaya sendiri, tak mau digantikan stuntman. Misalnya, menjadi pilot pesawat, hingga meloncat dari gedung tinggi. Kisah-kisah Cruise yang sering memerankan sendiri adegan-adegan berbahaya itu beberapa kali sempat viral di media sosial. Dan kita tahu, dunia media sosial, saat ini didominasi oleh generasi Z (baca tulisan saya sebelumnya: Gen Z). Ini lah yang sedikit-banyak ikut membentuk personal branding dari sosok Cruise. Maka, para Gen Z pun sangat mengenal sosok Cruise yang saat ini berumur 60-an tahun itu. Dan meski umurnya masuk kepala 6, tapi wajahnya, bentuk tubuhnya, dan kelincahannya, masih memukau ketika tampil di film. Sekali lagi, ini juga yang menambah nilai plus untuk personal brandingnya, dari sisi penampilan.

 

Bagaimana dengan Fajar Nugros? Dia termasuk sutradara yang sering bikin film yang menyasar para generasi milenial dan generasi Z. Dia dikenal spesialis bikin film drama dan komedi. Selain “Srimulat”, tahun ini dia juga mengeluarkan film dengan segmen anak muda berjudul: “Balada Si Roy”. Film ini dibintangi oleh para aktor yang menjadi idola remaja. Sebelumnya, film Fajar yang juga populer di kalangan ABG dan remaja adalah “Yo Wis Ben 2” dengan bintang utama Bayu Ska dan “Cinta Brontosaurus” dengan bintang utama Raditya Dika. Di kalangan ABG atau pun remaja, siapa yang tak kenal dengan Bayu Ska dan Raditya Dika? Di media sosial, keduanya punya followers cukup banyak. Maka, personal branding yang terbangun dari sosok Fajar Nugros adalah dianggap sebagai sutradara spesialis film-film yang disukai ABG dan remaja. Dengan personal branding yang kuat, maka bikin karya apa saja, berpotensi besar untuk sukses.

Baca Juga :  Customer Intimacy

 

Maka, di sini lah pentingnya membangun personal branding. Dan untuk membangun personal branding, tidak bisa instan. Butuh waktu. Butuh konsistensi. Butuh ketekunan dan keuletan. Butuh integritas dan juga butuh komitmen yang tinggi.

 

Kata Philip Kotler, brand yang kuat harus mendatangkan citra, ekspektasi, dan janji tentang performa. Ini lah yang membuat orang begitu mudahnya tergaet dan terhipnotis oleh brand yang kuat. Ini juga berlaku pada personal branding. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Dalam dua bulan ini ada beberapa film yang menarik untuk ditonton. Selain “Doctor Strange in The Multiverse of Madness” dan “KKN di Desa Penari”, juga ada “Top Gun, Maverick” dan “Srimulat: Hil yang Mustahal, Babak Pertama”. Kali ini saya ingin membahas tentang dua film terakhir: “Top Gun” dan “Srimulat”.

 

Ketika menonton dua film itu, yang menarik perhatian saya adalah penontonnya. Mereka kebanyakan adalah para generasi Z, yang umurnya kira-kira ABG (pelajar) hingga mahasiswa. Bukan kah ketika Film “Top Gun” dulu ngetop, dan ketika Srimulat sedang jaya-jayanya dulu, mereka belum lahir? Kok mereka tertarik menonton “Top Gun” dan “Srimulat”? Apa yang membuat mereka tertarik menonton dua film “daur ulang” itu?

 

Iseng-iseng saya pun bertanya kepada para ABG dan mahasiswa yang saat itu sama-sama satu studio dengan saya, menyaksikan film “Top Gun” dan “Srimulat”. Khusus untuk “Top Gun”, dari jawaban mereka, ternyata daya tariknya ada pada sang bintang utama: Tom Cruise. Sedangkan untuk “Srimulat”, daya tariknya ada pada sang sutradara: Fajar Nugros.

 

Bisa jadi, para ABG alias generasi Z itu tak peduli dengan masa lalu dari dua film itu. Mereka ini tersihir oleh sosok “Tom Cruise” yang menjadi pemeran utama Film “Top Gun”, dan Fajar Nugros yang menjadi sutradara film “Srimulat”. Ini lah kekuatan dari personal branding.

 

Baca Juga :  - Asumsi -

Siapa yang tak kenal Tom Cruise? Dia adalah salah satu bintang film paling populer dalam sejarah Hollywood. Dia sudah menjalani karir panjang selama kurang lebih 40 tahun. Mengutip situs “The Numbers”, dari 39 film dimana Cruise menjadi pemeran utamanya, tercatat telah mengumpulkan pendapatan sebesar USD 10 miliar di box office global. Sebuah capaian yang tak mudah diraih oleh bintang film Hollywood lainnya.

 

Selain itu, Cruise juga dikenal sebagai bintang film yang sangat total ketika memerankan adegan-adegan dalam filmnya. Dia bisa membawa dirinya menjadi semacam pahlawan super di dunia nyata. Dia melakukan aksi dan adegan berbahaya sendiri, tak mau digantikan stuntman. Misalnya, menjadi pilot pesawat, hingga meloncat dari gedung tinggi. Kisah-kisah Cruise yang sering memerankan sendiri adegan-adegan berbahaya itu beberapa kali sempat viral di media sosial. Dan kita tahu, dunia media sosial, saat ini didominasi oleh generasi Z (baca tulisan saya sebelumnya: Gen Z). Ini lah yang sedikit-banyak ikut membentuk personal branding dari sosok Cruise. Maka, para Gen Z pun sangat mengenal sosok Cruise yang saat ini berumur 60-an tahun itu. Dan meski umurnya masuk kepala 6, tapi wajahnya, bentuk tubuhnya, dan kelincahannya, masih memukau ketika tampil di film. Sekali lagi, ini juga yang menambah nilai plus untuk personal brandingnya, dari sisi penampilan.

 

Bagaimana dengan Fajar Nugros? Dia termasuk sutradara yang sering bikin film yang menyasar para generasi milenial dan generasi Z. Dia dikenal spesialis bikin film drama dan komedi. Selain “Srimulat”, tahun ini dia juga mengeluarkan film dengan segmen anak muda berjudul: “Balada Si Roy”. Film ini dibintangi oleh para aktor yang menjadi idola remaja. Sebelumnya, film Fajar yang juga populer di kalangan ABG dan remaja adalah “Yo Wis Ben 2” dengan bintang utama Bayu Ska dan “Cinta Brontosaurus” dengan bintang utama Raditya Dika. Di kalangan ABG atau pun remaja, siapa yang tak kenal dengan Bayu Ska dan Raditya Dika? Di media sosial, keduanya punya followers cukup banyak. Maka, personal branding yang terbangun dari sosok Fajar Nugros adalah dianggap sebagai sutradara spesialis film-film yang disukai ABG dan remaja. Dengan personal branding yang kuat, maka bikin karya apa saja, berpotensi besar untuk sukses.

Baca Juga :  Rumus Sukses

 

Maka, di sini lah pentingnya membangun personal branding. Dan untuk membangun personal branding, tidak bisa instan. Butuh waktu. Butuh konsistensi. Butuh ketekunan dan keuletan. Butuh integritas dan juga butuh komitmen yang tinggi.

 

Kata Philip Kotler, brand yang kuat harus mendatangkan citra, ekspektasi, dan janji tentang performa. Ini lah yang membuat orang begitu mudahnya tergaet dan terhipnotis oleh brand yang kuat. Ini juga berlaku pada personal branding. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

Holywings

Momentum

Gen Z 

Social Marketing

—Jumud—

Most Read


Artikel Terbaru

/