25 C
Kediri
Saturday, October 1, 2022

Marketing On Wednesday #56

Humas dan PENCILS

- Advertisement -

Kali ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) kecewa dengan kinerja kantor Imigrasi. Tepatnya Direktorat Jenderal Imigrasi, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Pada rapat terbatas dengan agenda membahas visa on arrival dan KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas) dengan para menterinya di Istana Merdeka (9/9/2022), presiden sampai meminta kepada Menteri Hukum dan HAM untuk tidak segan-segan mencopot Dirjen Imigrasi, jika tak mampu memperbaiki layanan keimigrasian.

Kata presiden, dia banyak menerima keluhan soal pengurusan KITAS dan pemberian visa. Keluhan ini, lanjut Jokowi, datang dari investor, turis maupun warga negara asing yang akan masuk ke Indonesia. Ini karena Imigrasi menurut Jokowi masih menerapkan gaya lama. Auranya, kata dia, masih “mengatur” dan “mengontrol”. Jokowi minta agar gaya lama itu diubah. Dari “mengatur” dan “mengontrol”, menjadi “memudahkan” dan “melayani”.

Jika “Imigrasi” diibaratkan sebuah produk, di mata presiden “brand image”-nya sedang tidak bagus. Terutama dalam hal pengurusan visa dan KITAS.

“Brand image” itu sangat terkait dengan aktivitas public relation (PR) atau humas (hubungan masyarakat).

Pertanyaannya, apakah kinerja bagian PR (humas) dari Kantor Imigrasi kurang bekerja secara semestinya dalam membangun “image” yang positif tentang keimigrasian, wabil khusus dalam hal pengurusan visa dan KITAS?

- Advertisement -

Aktivitas atau kinerja humas, menurut Kotler harus mencakup tujuh aspek, yang disingkat: P.E.N.C.I.L.S. Yakni: Publications, Events, News, Community Involvement, Identity Tools, Lobbying, dan Social Investment.

Publications atau publikasi, adalah bagaimana sebuah produk dipublikasikan. Apakah yang dipublikasikan itu sering tentang “good news” atau “bad news”? Tugas humas adalah, bagaimana agar berbagai informasi tentang produknya itu lebih sering tentang “good news”. Di era sekarang ini, tugas humas semakin berat. Karena mereka tidak hanya memantau publikasi di media massa mainstream. Tapi juga harus memantau publikasi di media sosial.

Baca Juga :  Jalan Berlubang 3 Meter di Ngasem Akhirnya Mulai Diperbaiki

Events adalah kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh sebuah produk. Jika ingin “brand image” dari produk itu positif, maka semua aktivitas atau kegiatan yang dilakukan harus bermuara pada kesan atau penilaian yang positif. Sebab, “brand image” sangat dipengaruhi oleh aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh produk.

News berkaitan dengan publikasi. News adalah materi yang dipublikasikan.

Community Involvement adalah keterlibatan komunitas. Ini merupakan strategi melakukan kontak sosial dengan kelompok masyarakat tertentu, bertujuan menimbulkan dan menjaga hubungan baik antara satu sama lain. Keberadaan komunitas, bisa sangat menguntungkan bagi pembangunan “brand image”. Anda bisa melihat, betapa loyalnya dan betapa cintanya pengguna motor Harley-Davidson (HD), melalui klub yang mereka ikuti: Harley-Davidson Club Indonesia (HDCI). Komunitas ini sudah terbentuk hampir merata di seluruh kota di Indonesia.

Identity Tools adalah alat bantu identitas. Sebuah produk harus bisa menciptakan tentakel (alat bantu) bagi siapa saja untuk mengidentifikasi produknya. Tentu saja, alat bantu itu harus bisa mengarahkan pada penilaian atau kesan yang positif. Di era sekarang, identity tools bisa berupa review. Contohnya, jika Anda akan menginap di sebuah hotel, sebelum Anda booking hotel itu, bisa jadi Anda lebih dulu melihat review dari orang-orang yang sudah lebih dulu menginap di hotel tersebut. Ini contoh paling gampang memahami identity tools.

Baca Juga :  Royal Wedding RK Atok dan Meylisa Zara Berlangsung Meriah

Lobbying adalah pelobian. Dalam perjalanannya, sebuah produk bisa jadi akan mengalami insiden. Mungkin akan ada konsumen yang komplain karena tidak puas dengan produk. Ketika hal ini dialami sebuah produk, maka perlu dilakukan mitigasi yang cepat, tepat dan taktis. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah lobbying. Yakni melobi konsumen, atau pihak-pihak yang merasa dirugikan. Lobbying adalah perpaduan antara skill dan seni. Dan ini harus dipunyai oleh bagian humas.

Social Investment adalah investasi sosial. Namanya saja investasi. Butuh waktu agak lama. Hasilnya tidak bisa dirasakan secara instan. Yang diinvestasikan dalam hal ini adalah “nama baik” atau segala “porto folio” atau “track record” yang baik. Ini pekerjaan humas. Dan ini yang akan membentuk social investment.

Nah, kembali pada kasus kantor Imigrasi yang dikritik presiden. Bisa jadi, itu karena tujuh aspek tadi belum maksimal dilakukan oleh Imigrasi. Jika pun ada yang diterapkan dari tujuh aspek itu, bisa jadi masih dilakukan secara parsial. Belum menyeluruh dan komprehensif. Sehingga, “brand image” tentang Imigrasi masih kurang bagus. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

 

 

 

 

 

 

- Advertisement -

Kali ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) kecewa dengan kinerja kantor Imigrasi. Tepatnya Direktorat Jenderal Imigrasi, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham). Pada rapat terbatas dengan agenda membahas visa on arrival dan KITAS (Kartu Izin Tinggal Terbatas) dengan para menterinya di Istana Merdeka (9/9/2022), presiden sampai meminta kepada Menteri Hukum dan HAM untuk tidak segan-segan mencopot Dirjen Imigrasi, jika tak mampu memperbaiki layanan keimigrasian.

Kata presiden, dia banyak menerima keluhan soal pengurusan KITAS dan pemberian visa. Keluhan ini, lanjut Jokowi, datang dari investor, turis maupun warga negara asing yang akan masuk ke Indonesia. Ini karena Imigrasi menurut Jokowi masih menerapkan gaya lama. Auranya, kata dia, masih “mengatur” dan “mengontrol”. Jokowi minta agar gaya lama itu diubah. Dari “mengatur” dan “mengontrol”, menjadi “memudahkan” dan “melayani”.

Jika “Imigrasi” diibaratkan sebuah produk, di mata presiden “brand image”-nya sedang tidak bagus. Terutama dalam hal pengurusan visa dan KITAS.

“Brand image” itu sangat terkait dengan aktivitas public relation (PR) atau humas (hubungan masyarakat).

Pertanyaannya, apakah kinerja bagian PR (humas) dari Kantor Imigrasi kurang bekerja secara semestinya dalam membangun “image” yang positif tentang keimigrasian, wabil khusus dalam hal pengurusan visa dan KITAS?

Aktivitas atau kinerja humas, menurut Kotler harus mencakup tujuh aspek, yang disingkat: P.E.N.C.I.L.S. Yakni: Publications, Events, News, Community Involvement, Identity Tools, Lobbying, dan Social Investment.

Publications atau publikasi, adalah bagaimana sebuah produk dipublikasikan. Apakah yang dipublikasikan itu sering tentang “good news” atau “bad news”? Tugas humas adalah, bagaimana agar berbagai informasi tentang produknya itu lebih sering tentang “good news”. Di era sekarang ini, tugas humas semakin berat. Karena mereka tidak hanya memantau publikasi di media massa mainstream. Tapi juga harus memantau publikasi di media sosial.

Baca Juga :  Jalan Berlubang 3 Meter di Ngasem Akhirnya Mulai Diperbaiki

Events adalah kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh sebuah produk. Jika ingin “brand image” dari produk itu positif, maka semua aktivitas atau kegiatan yang dilakukan harus bermuara pada kesan atau penilaian yang positif. Sebab, “brand image” sangat dipengaruhi oleh aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh produk.

News berkaitan dengan publikasi. News adalah materi yang dipublikasikan.

Community Involvement adalah keterlibatan komunitas. Ini merupakan strategi melakukan kontak sosial dengan kelompok masyarakat tertentu, bertujuan menimbulkan dan menjaga hubungan baik antara satu sama lain. Keberadaan komunitas, bisa sangat menguntungkan bagi pembangunan “brand image”. Anda bisa melihat, betapa loyalnya dan betapa cintanya pengguna motor Harley-Davidson (HD), melalui klub yang mereka ikuti: Harley-Davidson Club Indonesia (HDCI). Komunitas ini sudah terbentuk hampir merata di seluruh kota di Indonesia.

Identity Tools adalah alat bantu identitas. Sebuah produk harus bisa menciptakan tentakel (alat bantu) bagi siapa saja untuk mengidentifikasi produknya. Tentu saja, alat bantu itu harus bisa mengarahkan pada penilaian atau kesan yang positif. Di era sekarang, identity tools bisa berupa review. Contohnya, jika Anda akan menginap di sebuah hotel, sebelum Anda booking hotel itu, bisa jadi Anda lebih dulu melihat review dari orang-orang yang sudah lebih dulu menginap di hotel tersebut. Ini contoh paling gampang memahami identity tools.

Baca Juga :  GIIAS dan Inovasi 

Lobbying adalah pelobian. Dalam perjalanannya, sebuah produk bisa jadi akan mengalami insiden. Mungkin akan ada konsumen yang komplain karena tidak puas dengan produk. Ketika hal ini dialami sebuah produk, maka perlu dilakukan mitigasi yang cepat, tepat dan taktis. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah lobbying. Yakni melobi konsumen, atau pihak-pihak yang merasa dirugikan. Lobbying adalah perpaduan antara skill dan seni. Dan ini harus dipunyai oleh bagian humas.

Social Investment adalah investasi sosial. Namanya saja investasi. Butuh waktu agak lama. Hasilnya tidak bisa dirasakan secara instan. Yang diinvestasikan dalam hal ini adalah “nama baik” atau segala “porto folio” atau “track record” yang baik. Ini pekerjaan humas. Dan ini yang akan membentuk social investment.

Nah, kembali pada kasus kantor Imigrasi yang dikritik presiden. Bisa jadi, itu karena tujuh aspek tadi belum maksimal dilakukan oleh Imigrasi. Jika pun ada yang diterapkan dari tujuh aspek itu, bisa jadi masih dilakukan secara parsial. Belum menyeluruh dan komprehensif. Sehingga, “brand image” tentang Imigrasi masih kurang bagus. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

 

 

 

 

 

 

Artikel Terkait

Tato Elektronik

Gen Z

iPhone

Sari Roti

GIIAS dan Inovasi 

Most Read

Ampas Kopi Itu Bisa Jadi Uang

Megengan Pandemi

Tiga Makam di Puncak Bukit Maskumambang


Artikel Terbaru

/