31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

Marketing On Wednesday #50

Berkah Guerrilla Marketing

Awalnya saya jalan-jalan menikmati Car Free Day di kawasan Bundaran HI, Minggu lalu (31/7/22). Kami terus berjalan kaki, hingga akhirnya sampai ke kawasan Dukuh Atas, di Jl Jenderal Sudirman. Itu lah lokasi yang disebut sebagai TKP-nya “Citayam Fashion Week”. Yang menarik, ketika kami berfoto-foto di lokasi itu, teman saya, dan juga anak saya wanti-wanti, agar kalau foto harus terlihat nama kedai kopi “Janji Jiwa”. Kata mereka, agar terlihat kalau foto itu benar-benar berada di lokasi “Citayam Fashion Week” (CFW).

Posisi kedai kopi “Janji Jiwa” memang berada persis di depan zebracross yang dipakai untuk catwalk oleh para ikon CFW: Jeje, Bonge, Roy, dan kawan-kawan mereka. Di media sosial (medsos) yang memperlihatkan Bonge dkk di arena CFW yang viral itu, memang kedai kopi “Janji Jiwa” selalu tersorot dan terlihat. Hal ini membuat “Janji Jiwa” mendapatkan publisitas iklan dan marketing secara gratis.”Janji Jiwa” juga sempat beberapa kali meramaikan CFW melalui konten TikTok yang diunggah oleh akun KutipanX.

Teman saya yang sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta menceritakan, bahwa tiga tahun lalu sebelum kedai “Janji Jiwa” berdiri, di lokasi tersebut masih menjadi lahan parkir hotel. Kemudian dibangun lah MRT. Lalu kawasan Dukuh Atas ditata. Lahan mati yang semula lahan parkir diubah menjadi kafe yang ramah pedestrian. Dan lama-lama tempat itu menjadi pusat nongkrong para ABG, yang mayoritasnya berasal dari Citayam. Kemudian jadi lah lokasi itu viral dan disebut dengan CFW.

Apakah “Janji Jiwa” numpang tenar CFW? Sebagai sebuah brand, “Janji Jiwa” cukup memiliki “brand awareness” yang tinggi. Mereka telah ditasbihkan sebagai start up kuliner kopi terbesar kedua di Indonesia setelah “Kopi Kenangan”.

Majalah Marketing dan Frontier Group telah memberikan penghargaan kepada dua brand di bawah naungan “Jiwa Group”, yaitu “Janji Jiwa” dan “Jiwa Toast” dalam ajang “Top Brand Award 2022”. Penghargaan bergengsi ini diberikan untuk merek-merek unggul dengan performa yang luar biasa di pasar Indonesia.

“Janji Jiwa” berhasil mendapatkan predikat sebagai merek paling banyak dipilih konsumen untuk kategori “kedai kopi”. Penghargaan ini menjadi penghargaan ke-3 kalinya yang diterima “Janji Jiwa” secara berturut-turut sejak 2020 dengan kategori yang sama.

Baca Juga :  Polres Bekuk Satu Mama Pur 

Sebagai brand kopi lokal di Indonesia, “Janji Jiwa” dinilai superior atau Top setelah sukses melampaui tiga parameter pengukuran “Top Brand”. Yang meliputi: “Top Mind of Share” sebagai merek yang paling dikenal konsumen, “Top of Market Share” sebagai merek yang paling banyak dibeli konsumen, dan “Top of Commitment Share” sebagai merek yang mampu menciptakan loyalitas konsumen.

Jadi, nggak sepenuhnya benar kalau “Janji Jiwa” dianggap numpang tenar CFW. Karena, sebelumnya “Janji Jiwa” sudah tenar lebih dulu. Bahwa kini “Janji Jiwa” semakin tenar karena CFW, dalam marketing, “Janji Jiwa” disebut mengalami berkah dari “guerilla marketing”.

“Guerrilla marketing” adalah teknik atau strategi marketing dimana sebuah brand menggunakan elemen kejutan atau interaksi tidak konvensional untuk mempromosikan produk atau layanannya. Istilah “guerrilla marketing” pertama kali dicetuskan di awal 1980 oleh Jay Conrad Levinson, yang kemudian menjadi judul bukunya: “Guerrilla Marketing”. Strategi marketing ini dapat dilakukan di dalam, di luar ruangan, atau melalui event atau eksperiential yang dimaksudkan untuk membuat publik berinteraksi dengan brand. Salah satu dari kelebihan “guerrilla marketing”, bisa mendapatkan banyak publisitas karena ketika viral, medsos dan berbagai jaringan berita dapat mengangkat ceritanya.

Dalam kasus CFW, elemen kejutan atau interaksi yang terjadi adalah atraksi menarik dari para ABG yang secara rutin nongkrong dan mejeng di kawasan Sudirman tadi. Atraksi yang menarik itu bisa dilihat dari cara mereka berdandan dan berpakaian yang unik dan fashionable. Bisa juga dilihat dari omongan mereka yang lugu, polos, apa adanya, dan lucu ketika diwawancarai salah seorang youtuber, kemudian diupload di medsos, kemudian viral, lalu menjadi CFW itu. Nah, “Janji Jiwa” yang lokasinya tepat berada di lokasi CFW, ikut mendapatkan banyak publisitas ketika CFW menjadi viral.

Salah satu brand global yang pernah mendapat berkah dari “guerrilla marketing” adalah “Burger King”.

Suatu ketika, “Burger King” mempromosikan menu sarapan mereka di akun instagram-nya. Pada bagian kolom komentar, ada salah satu customer yang menceritakan, bahwa pacarnya membutuhkan waktu yang lebih lama hanya untuk memesan menu makanan “drive in” di “Burger King”. Komentar ini langsung ditanggapi oleh pacar si customer tadi. Keduanya terlibat saling membalas komentar. Entah bagaimana awalnya, ketika pasangan itu saling berbalas komentar, mereka terlibat pertengkaran. Keduanya saling menyerang dengan komentar-komentar yang menyudutkan. Hingga akhirnya, keduanya memilih untuk memutuskan hubungan. Dan kata “putus” itu tertulis di kolom komentar tersebut.

Baca Juga :  Ngecek Toko Bablas Ngecek Bodi

Pertengkaran pasangan ini pun menarik perhatian netizen. Para komentator atau customer yang lain banyak membicarakan keributan ini. Mereka merasa tak habis pikir, dan tidak percaya, telah menyaksikan pasangan yang memutuskan berpisah di instagram-nya “Burger King”.

Kisah ini pun sempat menjadi headline di Amerika beberapa waktu lalu. Dan setiap kali orang membicarakan tentang peristiwa itu, dan setiap kali media memberitakan tentang peristiwa itu, nama “Burger King” selalu terbawa dan terekspos.

Contoh lainnya, seperti yang pernah dilakukan UNICEF, organisasi di bawah naungan PBB yang mendedikasikan diri untuk anak-anak. Suatu ketika, UNICEF menggunakan teknik “guerrilla marketing” untuk menarik perhatian publik, sekaligus menggugah kesadaran dan kepedulian publik tentang adanya realita kurangnya akses air bersih di beberapa negara.

Cara yang dilakukan UNICEF, dengan menjual air kotor di dalam “vending machine” (mesin penjual otomatis), lalu ditempatkan lah mesin itu di tengah-tengah Kota New York. Di dalam “vending machine” itu dijual tujuh rasa air yang berbeda. Yaitu: Hepatitis, Disentri, Malaria, Kolera, Typhus, Demam Berdarah, dan Salmonella. Itu semua adalah nama-nama bakteri, virus dan penyakit.

Maka, atraksi yang dibikin UNICEF ini sukses menarik perhatian warga New York. Atraksi ini pun menjadi pembicaraan luas dan diekspos sejumlah media. Tentu saja, tidak ada orang yang mau membeli air kotor di dalam “vending machine” itu. Tapi, dari cara ini, banyak orang yang akhirnya tergugah, kemudian tergerak untuk memberikan donasi. Strategi dari UNICEF yang menggunakan teknik “guerrilla marketing” ini kemudian diberitakan di saluran berita di seluruh dunia. Sehingga semakin membantu menyebarkan kesadaran dan meningkatkan angka donasi yang diterima.

Jadi, untuk mendapatkan berkah dari “guerrilla marketing”, bisa melalui dua cara. Pertama, terjadi secara natural alias tidak sengaja didesain. Ini seperti yang dialami “Janji Jiwa” dan “Burger King”. Dan kedua, terjadi karena sengaja didesain. Seperti yang dilakukan UNICEF. Anda mau mencobanya? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Awalnya saya jalan-jalan menikmati Car Free Day di kawasan Bundaran HI, Minggu lalu (31/7/22). Kami terus berjalan kaki, hingga akhirnya sampai ke kawasan Dukuh Atas, di Jl Jenderal Sudirman. Itu lah lokasi yang disebut sebagai TKP-nya “Citayam Fashion Week”. Yang menarik, ketika kami berfoto-foto di lokasi itu, teman saya, dan juga anak saya wanti-wanti, agar kalau foto harus terlihat nama kedai kopi “Janji Jiwa”. Kata mereka, agar terlihat kalau foto itu benar-benar berada di lokasi “Citayam Fashion Week” (CFW).

Posisi kedai kopi “Janji Jiwa” memang berada persis di depan zebracross yang dipakai untuk catwalk oleh para ikon CFW: Jeje, Bonge, Roy, dan kawan-kawan mereka. Di media sosial (medsos) yang memperlihatkan Bonge dkk di arena CFW yang viral itu, memang kedai kopi “Janji Jiwa” selalu tersorot dan terlihat. Hal ini membuat “Janji Jiwa” mendapatkan publisitas iklan dan marketing secara gratis.”Janji Jiwa” juga sempat beberapa kali meramaikan CFW melalui konten TikTok yang diunggah oleh akun KutipanX.

Teman saya yang sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta menceritakan, bahwa tiga tahun lalu sebelum kedai “Janji Jiwa” berdiri, di lokasi tersebut masih menjadi lahan parkir hotel. Kemudian dibangun lah MRT. Lalu kawasan Dukuh Atas ditata. Lahan mati yang semula lahan parkir diubah menjadi kafe yang ramah pedestrian. Dan lama-lama tempat itu menjadi pusat nongkrong para ABG, yang mayoritasnya berasal dari Citayam. Kemudian jadi lah lokasi itu viral dan disebut dengan CFW.

Apakah “Janji Jiwa” numpang tenar CFW? Sebagai sebuah brand, “Janji Jiwa” cukup memiliki “brand awareness” yang tinggi. Mereka telah ditasbihkan sebagai start up kuliner kopi terbesar kedua di Indonesia setelah “Kopi Kenangan”.

Majalah Marketing dan Frontier Group telah memberikan penghargaan kepada dua brand di bawah naungan “Jiwa Group”, yaitu “Janji Jiwa” dan “Jiwa Toast” dalam ajang “Top Brand Award 2022”. Penghargaan bergengsi ini diberikan untuk merek-merek unggul dengan performa yang luar biasa di pasar Indonesia.

“Janji Jiwa” berhasil mendapatkan predikat sebagai merek paling banyak dipilih konsumen untuk kategori “kedai kopi”. Penghargaan ini menjadi penghargaan ke-3 kalinya yang diterima “Janji Jiwa” secara berturut-turut sejak 2020 dengan kategori yang sama.

Baca Juga :  Experiential Marketing

Sebagai brand kopi lokal di Indonesia, “Janji Jiwa” dinilai superior atau Top setelah sukses melampaui tiga parameter pengukuran “Top Brand”. Yang meliputi: “Top Mind of Share” sebagai merek yang paling dikenal konsumen, “Top of Market Share” sebagai merek yang paling banyak dibeli konsumen, dan “Top of Commitment Share” sebagai merek yang mampu menciptakan loyalitas konsumen.

Jadi, nggak sepenuhnya benar kalau “Janji Jiwa” dianggap numpang tenar CFW. Karena, sebelumnya “Janji Jiwa” sudah tenar lebih dulu. Bahwa kini “Janji Jiwa” semakin tenar karena CFW, dalam marketing, “Janji Jiwa” disebut mengalami berkah dari “guerilla marketing”.

“Guerrilla marketing” adalah teknik atau strategi marketing dimana sebuah brand menggunakan elemen kejutan atau interaksi tidak konvensional untuk mempromosikan produk atau layanannya. Istilah “guerrilla marketing” pertama kali dicetuskan di awal 1980 oleh Jay Conrad Levinson, yang kemudian menjadi judul bukunya: “Guerrilla Marketing”. Strategi marketing ini dapat dilakukan di dalam, di luar ruangan, atau melalui event atau eksperiential yang dimaksudkan untuk membuat publik berinteraksi dengan brand. Salah satu dari kelebihan “guerrilla marketing”, bisa mendapatkan banyak publisitas karena ketika viral, medsos dan berbagai jaringan berita dapat mengangkat ceritanya.

Dalam kasus CFW, elemen kejutan atau interaksi yang terjadi adalah atraksi menarik dari para ABG yang secara rutin nongkrong dan mejeng di kawasan Sudirman tadi. Atraksi yang menarik itu bisa dilihat dari cara mereka berdandan dan berpakaian yang unik dan fashionable. Bisa juga dilihat dari omongan mereka yang lugu, polos, apa adanya, dan lucu ketika diwawancarai salah seorang youtuber, kemudian diupload di medsos, kemudian viral, lalu menjadi CFW itu. Nah, “Janji Jiwa” yang lokasinya tepat berada di lokasi CFW, ikut mendapatkan banyak publisitas ketika CFW menjadi viral.

Salah satu brand global yang pernah mendapat berkah dari “guerrilla marketing” adalah “Burger King”.

Suatu ketika, “Burger King” mempromosikan menu sarapan mereka di akun instagram-nya. Pada bagian kolom komentar, ada salah satu customer yang menceritakan, bahwa pacarnya membutuhkan waktu yang lebih lama hanya untuk memesan menu makanan “drive in” di “Burger King”. Komentar ini langsung ditanggapi oleh pacar si customer tadi. Keduanya terlibat saling membalas komentar. Entah bagaimana awalnya, ketika pasangan itu saling berbalas komentar, mereka terlibat pertengkaran. Keduanya saling menyerang dengan komentar-komentar yang menyudutkan. Hingga akhirnya, keduanya memilih untuk memutuskan hubungan. Dan kata “putus” itu tertulis di kolom komentar tersebut.

Baca Juga :  Ngaku Cuma ‘Jual’ 3 Perempuan

Pertengkaran pasangan ini pun menarik perhatian netizen. Para komentator atau customer yang lain banyak membicarakan keributan ini. Mereka merasa tak habis pikir, dan tidak percaya, telah menyaksikan pasangan yang memutuskan berpisah di instagram-nya “Burger King”.

Kisah ini pun sempat menjadi headline di Amerika beberapa waktu lalu. Dan setiap kali orang membicarakan tentang peristiwa itu, dan setiap kali media memberitakan tentang peristiwa itu, nama “Burger King” selalu terbawa dan terekspos.

Contoh lainnya, seperti yang pernah dilakukan UNICEF, organisasi di bawah naungan PBB yang mendedikasikan diri untuk anak-anak. Suatu ketika, UNICEF menggunakan teknik “guerrilla marketing” untuk menarik perhatian publik, sekaligus menggugah kesadaran dan kepedulian publik tentang adanya realita kurangnya akses air bersih di beberapa negara.

Cara yang dilakukan UNICEF, dengan menjual air kotor di dalam “vending machine” (mesin penjual otomatis), lalu ditempatkan lah mesin itu di tengah-tengah Kota New York. Di dalam “vending machine” itu dijual tujuh rasa air yang berbeda. Yaitu: Hepatitis, Disentri, Malaria, Kolera, Typhus, Demam Berdarah, dan Salmonella. Itu semua adalah nama-nama bakteri, virus dan penyakit.

Maka, atraksi yang dibikin UNICEF ini sukses menarik perhatian warga New York. Atraksi ini pun menjadi pembicaraan luas dan diekspos sejumlah media. Tentu saja, tidak ada orang yang mau membeli air kotor di dalam “vending machine” itu. Tapi, dari cara ini, banyak orang yang akhirnya tergugah, kemudian tergerak untuk memberikan donasi. Strategi dari UNICEF yang menggunakan teknik “guerrilla marketing” ini kemudian diberitakan di saluran berita di seluruh dunia. Sehingga semakin membantu menyebarkan kesadaran dan meningkatkan angka donasi yang diterima.

Jadi, untuk mendapatkan berkah dari “guerrilla marketing”, bisa melalui dua cara. Pertama, terjadi secara natural alias tidak sengaja didesain. Ini seperti yang dialami “Janji Jiwa” dan “Burger King”. Dan kedua, terjadi karena sengaja didesain. Seperti yang dilakukan UNICEF. Anda mau mencobanya? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

GIIAS

Citayam Fashion Week

Manajemen Risiko

Vespa

Ronaldinho

Most Read


Artikel Terbaru

/