28.9 C
Kediri
Thursday, July 7, 2022

Jalan Dhoho

Jalan Dhoho di Kota Kediri masih “apa adanya”. Maksudnya, belum ada upaya yang signifikan untuk mengemasnya, mempermaknya, dan meng-upgrade-nya menjadi sebuah kawasan yang ikonik. Menarik. Dan eksotik. Padahal, dari sisi nama, dari sisi lokasi, dan dari sisi sejarah, Jalan Dhoho itu “sesuatu” banget. 

Sebatas yang saya ketahui (jika salah boleh dikoreksi), dari sisi nama, tidak bisa lepas dari aspek sejarah. “Dhoho” asalnya dari “Daha”. Dan “Daha” berasal kata “Dahanapura”, artinya “Kota Api”. Salah satu versi sejarah menyebutkan, bahwa awal mula Kediri sebagai pemukiman perkotaan dimulai ketika Raja Airlangga memindahkan pusat pemerintahan kerajaannya dari Kahuripan ke “Dahanapura”. Selanjutnya, “Dahanapura”  lebih dikenal sebagai “Daha”.

Jadi, dari sisi nama, “Daha” atau “Dhoho” sangat terkait dengan cikal-bakalnya Kediri. Pertanyaannya, apakah generasi muda Kediri sudah mengenal dan mengetahui sejarah dari nama “Dhoho” ini? Jika generasi muda lama-lama tidak tahu, dan akhirnya menjadi tidak peduli dengan sejarah itu, maka tidak mustahil jika nama “Dhoho” kelak hanya dikenal sebagai nama jalan saja.

Dari sisi lokasi, Jalan Dhoho seakan (setidaknya untuk saat ini) hanya menjadi episentrum perekonomian saja. Di sana banyak pertokoan berderet-deret. Ada hotel. Ada kantor-kantor perusahaan dan instansi pemerintah plus kantor perbankan. Jika pagi hari sebelum jam 06.00 berjejer para penjual aneka jajanan dan kuliner. Dan jika malam hari banyak penjual nasi pecel yang berderet-deret. Seakan hanya ada ini di Jalan Dhoho. 

Padahal, Jalan Dhoho sangat bisa untuk dijadikan sebagai episentrum budaya dan episentrum peradaban. Dulu, saya pernah menyusuri Jalan Dhoho. Kira-kira antara 15-20-an tahun lalu. Saat itu ada tetabuhan musik bambu dan nyanyian campur sari, dapat dinikmati di tepi pertigaan Jl Stasiun. 

Baca Juga :  Gara-gara Ngemong Putu

Saya juga melihat sejumlah seniman, baik pelukis, penyair dan musisi, juga ada pengrajin selalu mangkal dan meramaikan Jalan Dhoho. Dulu itu, kalau tidak salah, setiap malam Minggu saya mendengar teriakan anak-anak teater membaca puisi. Lalu ada para pengamen yang sangat profesional. Suara dan musikalitasnya keren. Juga ada pejalan kaki yang tiba-tiba berhenti, sekadar minta wajahnya dilukis oleh para pelukis jalanan.

Dengan adanya berbagai atraksi seni dan budaya di sepanjang Jalan Dhoho waktu itu, saya menyamakan Jalan Dhoho seperti Jalan Malioboro yang ada di Jogja. Tapi teman saya waktu itu menyebut mirip dengan Braga-nya Kota Bandung. 

Tapi, itu adalah kenangan Jalan Dhoho pada zaman dulu. Sekitar 15-20-an tahun lalu. Jika ini bisa dijaga, sebenarnya Jalan Dhoho bisa dijadikan sebagai episentrum budaya di Kediri. Sayangnya, Jalan Dhoho kini tak seperti dulu lagi. 

Jalan Dhoho sebenarnya juga bisa dijadikan sebagai episentrum peradaban. Di jalan tersebut, di awal abad ke-19, terdapat bisnis penerbitan yang kala itu terkenal di Pulau Jawa. Namanya: Boekhandel Tan Khoen Swie. Bahkan, ada yang menyebutnya sebagai cikal bakal penerbitan di Indonesia. 

Buku karya pujangga dan pengarang kenamaan asal berbagai kota di Jawa, pernah diterbitkan oleh perusahaan penerbitan milik Tan Khoen Swie itu. Misalnya, buku yang ditulis oleh Ronggowarsito dan Padmosusastro. Juga ada karya dari pujangga lainnya dari Surabaya dan Yogyakarta. Jika ditotal, jumlah buku yang pernah diterbitkan oleh perusahaan milik Tan Khoen Swie saat itu bisa mencapai 400-an judul. 

Baca Juga :  Akuntabilitas Kota Kediri: Dulu Hanya Bekerja, Kini Berbasis Kinerja

Dulu, Panitia Pelestarian dan Pengembangan Budaya dan Wisata Kediri pernah menelusuri buku-buku yang diterbitkan percetakan Tan Khoen Swie. Menurut hasil penelusuran tersebut, buku-buku yang dicetak saat itu tergolong komplet dan multidisipliner. Bidang yang diterbitkan beragam. Mulai dari filsafat Jawa, pengetahuan olah rasa, pengetahuan tentang rahasia wanita, pengobatan tradisional, sejarah, dunia binatang, dan lain-lain. 

Bahasa yang digunakan buku-buku itu juga tak melulu menggunakan bahasa Melayu dan berhuruf latin. Namun, ada juga buku berbahasa Jawa berhuruf latin, serta buku berbahasa Jawa berhuruf Jawa. 

Saya tidak tahu persis, bagaimana kabar dari Panitia Pelestarian dan Pengembangan Budaya dan Wisata Kediri saat ini. Apakah masih ada badan atau lembaga itu? Sejauh mana hasil penelusuran mereka terhadap eksistensi sejarah dari buku-buku yang pernah diterbitkan Tan Khoen Swie? Akan sangat baik menurut saya jika hasil kerja dari panitia itu didokumentasikan dan ditindaklanjuti. Khususnya tentang penelusuran buku-buku yang pernah dicetak  oleh penerbit Tak Khoen Swie. 

Apalagi, jejak dari penerbitan Tan Khoen Swie masih ada hingga kini. Yang kini menjadi sebuah toko (Toko Surabaya) di Jalan Dhoho.  Maka, dari sisi ini, Jalan Dhoho sebenarnya bisa menjadi embrio menuju episentrum peradaban. Simbol dari peradaban salah satunya adalah buku. Dan di Jalan Dhoho, dulu pernah ada penerbit yang mencetak dan menerbitkan buku-buku yang secara langsung maupun tidak langsung telah menyumbang kemajuan bagi peradaban di tanah air, khususnya di bumi Joyoboyo (Kediri). Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Jalan Dhoho di Kota Kediri masih “apa adanya”. Maksudnya, belum ada upaya yang signifikan untuk mengemasnya, mempermaknya, dan meng-upgrade-nya menjadi sebuah kawasan yang ikonik. Menarik. Dan eksotik. Padahal, dari sisi nama, dari sisi lokasi, dan dari sisi sejarah, Jalan Dhoho itu “sesuatu” banget. 

Sebatas yang saya ketahui (jika salah boleh dikoreksi), dari sisi nama, tidak bisa lepas dari aspek sejarah. “Dhoho” asalnya dari “Daha”. Dan “Daha” berasal kata “Dahanapura”, artinya “Kota Api”. Salah satu versi sejarah menyebutkan, bahwa awal mula Kediri sebagai pemukiman perkotaan dimulai ketika Raja Airlangga memindahkan pusat pemerintahan kerajaannya dari Kahuripan ke “Dahanapura”. Selanjutnya, “Dahanapura”  lebih dikenal sebagai “Daha”.

Jadi, dari sisi nama, “Daha” atau “Dhoho” sangat terkait dengan cikal-bakalnya Kediri. Pertanyaannya, apakah generasi muda Kediri sudah mengenal dan mengetahui sejarah dari nama “Dhoho” ini? Jika generasi muda lama-lama tidak tahu, dan akhirnya menjadi tidak peduli dengan sejarah itu, maka tidak mustahil jika nama “Dhoho” kelak hanya dikenal sebagai nama jalan saja.

Dari sisi lokasi, Jalan Dhoho seakan (setidaknya untuk saat ini) hanya menjadi episentrum perekonomian saja. Di sana banyak pertokoan berderet-deret. Ada hotel. Ada kantor-kantor perusahaan dan instansi pemerintah plus kantor perbankan. Jika pagi hari sebelum jam 06.00 berjejer para penjual aneka jajanan dan kuliner. Dan jika malam hari banyak penjual nasi pecel yang berderet-deret. Seakan hanya ada ini di Jalan Dhoho. 

Padahal, Jalan Dhoho sangat bisa untuk dijadikan sebagai episentrum budaya dan episentrum peradaban. Dulu, saya pernah menyusuri Jalan Dhoho. Kira-kira antara 15-20-an tahun lalu. Saat itu ada tetabuhan musik bambu dan nyanyian campur sari, dapat dinikmati di tepi pertigaan Jl Stasiun. 

Baca Juga :  Menunggu Ending ‘Jembatan Brawijaya’

Saya juga melihat sejumlah seniman, baik pelukis, penyair dan musisi, juga ada pengrajin selalu mangkal dan meramaikan Jalan Dhoho. Dulu itu, kalau tidak salah, setiap malam Minggu saya mendengar teriakan anak-anak teater membaca puisi. Lalu ada para pengamen yang sangat profesional. Suara dan musikalitasnya keren. Juga ada pejalan kaki yang tiba-tiba berhenti, sekadar minta wajahnya dilukis oleh para pelukis jalanan.

Dengan adanya berbagai atraksi seni dan budaya di sepanjang Jalan Dhoho waktu itu, saya menyamakan Jalan Dhoho seperti Jalan Malioboro yang ada di Jogja. Tapi teman saya waktu itu menyebut mirip dengan Braga-nya Kota Bandung. 

Tapi, itu adalah kenangan Jalan Dhoho pada zaman dulu. Sekitar 15-20-an tahun lalu. Jika ini bisa dijaga, sebenarnya Jalan Dhoho bisa dijadikan sebagai episentrum budaya di Kediri. Sayangnya, Jalan Dhoho kini tak seperti dulu lagi. 

Jalan Dhoho sebenarnya juga bisa dijadikan sebagai episentrum peradaban. Di jalan tersebut, di awal abad ke-19, terdapat bisnis penerbitan yang kala itu terkenal di Pulau Jawa. Namanya: Boekhandel Tan Khoen Swie. Bahkan, ada yang menyebutnya sebagai cikal bakal penerbitan di Indonesia. 

Buku karya pujangga dan pengarang kenamaan asal berbagai kota di Jawa, pernah diterbitkan oleh perusahaan penerbitan milik Tan Khoen Swie itu. Misalnya, buku yang ditulis oleh Ronggowarsito dan Padmosusastro. Juga ada karya dari pujangga lainnya dari Surabaya dan Yogyakarta. Jika ditotal, jumlah buku yang pernah diterbitkan oleh perusahaan milik Tan Khoen Swie saat itu bisa mencapai 400-an judul. 

Baca Juga :  Kado Terindah

Dulu, Panitia Pelestarian dan Pengembangan Budaya dan Wisata Kediri pernah menelusuri buku-buku yang diterbitkan percetakan Tan Khoen Swie. Menurut hasil penelusuran tersebut, buku-buku yang dicetak saat itu tergolong komplet dan multidisipliner. Bidang yang diterbitkan beragam. Mulai dari filsafat Jawa, pengetahuan olah rasa, pengetahuan tentang rahasia wanita, pengobatan tradisional, sejarah, dunia binatang, dan lain-lain. 

Bahasa yang digunakan buku-buku itu juga tak melulu menggunakan bahasa Melayu dan berhuruf latin. Namun, ada juga buku berbahasa Jawa berhuruf latin, serta buku berbahasa Jawa berhuruf Jawa. 

Saya tidak tahu persis, bagaimana kabar dari Panitia Pelestarian dan Pengembangan Budaya dan Wisata Kediri saat ini. Apakah masih ada badan atau lembaga itu? Sejauh mana hasil penelusuran mereka terhadap eksistensi sejarah dari buku-buku yang pernah diterbitkan Tan Khoen Swie? Akan sangat baik menurut saya jika hasil kerja dari panitia itu didokumentasikan dan ditindaklanjuti. Khususnya tentang penelusuran buku-buku yang pernah dicetak  oleh penerbit Tak Khoen Swie. 

Apalagi, jejak dari penerbitan Tan Khoen Swie masih ada hingga kini. Yang kini menjadi sebuah toko (Toko Surabaya) di Jalan Dhoho.  Maka, dari sisi ini, Jalan Dhoho sebenarnya bisa menjadi embrio menuju episentrum peradaban. Simbol dari peradaban salah satunya adalah buku. Dan di Jalan Dhoho, dulu pernah ada penerbit yang mencetak dan menerbitkan buku-buku yang secara langsung maupun tidak langsung telah menyumbang kemajuan bagi peradaban di tanah air, khususnya di bumi Joyoboyo (Kediri). Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

UAS dan Stigma

Kepala Daerah dan Donokrasi

Most Read


Artikel Terbaru

/