22.8 C
Kediri
Tuesday, June 28, 2022

Pembangunan?

 

Tidak tahu kenapa sejak di Kediri orang ramai membicarakan bandara dan jalan tol saya menjadi terusik untuk mencari maksud sebenarnya kata pembangunan. Apa sebenarnya arti pembangunan itu? Juga, untuk siapa pembangunan dilaksanakan?

Sepulang gowes ke arah Manyaran dan Tarokan orang ramai bicara indahnya pemandangan jalanan baru di kawasan bandara yang mulai dibangun itu. Seperti menjadi kawasan wisata baru. Kawasan itu ramai dikunjungi saat Sabtu dan Minggu. Yang sedang pacaran dan yang momong cucu semua kumpul jadi satu di area itu.

Hampir bersamaan, riuh rendah perbincangan bandara diperseru oleh topik jalan tol. Apalagi beberapa hari terakhir, beredar denah tol Kediri–Tulungagung di internet. Akhirnya, orang mulai ribut membincang jalan tol. Ada yang harap-harap cemas menghitung harga tanah. Bahkan ada yang bersemangat mengalkulasi uang yang didapat jika tanah dan rumahnya terkena pembebasan.

Yang lain gelisah karena harus pindah jika betul rumah di atas sepetak tanahnya itu mesti dilepasrelakan untuk jalan tol. Yang lain lagi sudah berharap jika memang desanya terdampak tol akan direlokasi di satu kawasan tertentu. Maksudnya agar secara sosiologis kesatuan masyarakatnya tetap terpelihara.

Saya menjadi ingat suatu saat dalam perbincangan santai dengan seseorang di Cilamaya, Karawang, Jawa Barat. Dia bilang bahwa dulunya ia tinggal di Jakarta. Tetapi karena pembangunan ia tergusur di Cilamaya ini. Saya menangkap kesan bahwa baginya pembangunan berarti malapetaka yang mendamparkan dia dari Jakarta ke pedalaman Karawang.

Di daerah lain saya juga memperoleh pemahaman tentang pembangunan dari seseorang buruh tani. Tersebab pembangunan ia mengeluh karena harus kerja bakti beberapa hari bikin gapura desa dan mengecat tembok pagar balai desa. Kerja bakti itu menjadikannya tidak bisa bekerja mencari nafkah beberapa hari. Arti pembangunan yang berhasil saya tangkap dari penuturannya tak lebih dari perintah lurah yang tak kuasa dibantah.

Baca Juga :  Local Hero

Atas nama pembangunan kritik dibungkam. Redaksi media massa diimbau tidak menulis berita yang berlawanan dengan pemerintah. Pentas baca puisi sering dicurigai. Pengajian adakalanya menghasilkan suasana gaduh gropyokan.

Lalu apa sebenarnya yang dimaksud pembangunan itu? Apakah pembangunan berarti  usaha menjadikan manusia itu baik? Padahal kebaikan setiap manusia itu ukurannya ada pada pikiran individu manusia itu sendiri. Apa karena ukurannya berbeda sesuai potensi individunya maka pembangunan itu adalah usaha mendorong aktualisasi potensi manusia? Ataukah pembangunan itu ingin menjadikan masyarakat yang baik? Yang baik tentu yang hanya disepakati anggotanya.

Memang terasa sulit membuat definisi kata pembangunan yang serba mencakup. Kesulitan itulah yang akhirnya untuk memudahkan mendefinisikan pembangunan maka dilakukan generalisasi yang dimungkinkan mudah mendapat persetujuan umum. Pembangunan diartikan sebagai usaha melakukan perubahan masyarakat ke arah pertumbuhan ekonomi dan sosial yang lebih menjamin kesejahteraan dalam arti luas. Definisi indah, tapi tak seindah praktiknya

Kita sering lalai, bahwa pembangunan itu ibarat pedang bermata dua. Bisa berarti berkah sekaligus musibah. Jalan tol yang rencananya dibangun menuju Kediri dan Tulungagung jelas akan menjadi musibah bagi orang yang penghasilannya digantungkan pada kegiatan tambal ban, jual bensin eceran, asongan di perempatan, warung makan di pinggiran jalan, panti pijat dan kafe plus karaoke serta lain-lain jenis usaha kecil yang biasanya hidup di jalanan.

Baca Juga :  Antara Asem dan Anjay

Berkah bagi mereka yang mobilitas bisnisnya tinggi karena pemangkasan waktu tempuh bisa berdampak positif penumpukan laba dari proses produksinya. Akumulasi laba ini akan cenderung menjadikan yang sudah kaya semakin kaya. Meminjam analisis Karl Marx (1818-1883), inilah benih persemaian kelas proletariat. Kelas sosial ini semakin lama semakin membesar. Sedang kelas borjuis semakin mengecil. Sehingga diibaratkan layaknya pulau kecil kapitalis yang dikelilingi samudera kemelaratan proletariat. Tentu Marx bisa salah. Tapi ada baiknya kita selalu mewaspadainya.

Bagi yang berkemungkinan mengartikan pembangunan adalah musibah, sebelum menjadi orang miskin baru segeralah merancang kegiatan ekonominya. Masa depan memang sulit diprediksi. Tetapi akan menjadi baik dalam kesulitan itu kita sudah punya rencana. Buatlah rencana berbasis kebiasaan (habit) masyarakat agraris sebagaimana kita yang hidup di lembah Brantas dan berdekatan dengan gunung Kelud ini. Kediri dikaruniai tanah subur yang setiap kali lahannya diperbarui dan dipersubur oleh abu Kelud.

Terkait kesuburan tanah itu, saya jadi ingat disertasi yang ditulis oleh dekan Fakultas Pertanian Universitas Kadiri Dr Widi Artini, MP yang penelitiannya di lakukan di Kediri. Memakai senjata intelektual teori Habitus-nya Pierre Bourdieu (1930-2002), di bagian akhir disertasi ia menyarankan bahwa masyarakat di wilayah Kediri ini sebaiknya melakukan intensifikasi lahan pekarangan. Terutama masyarakat di Kota Kediri. Setidaknya, lahan di sekitar rumah bisa ditanami berbagai tanaman yang bisa membantu memenuhi kebutuhan hariannya. Syukur-syukur bisa diintensifkan untuk tanaman komoditas yang tentu akan mendatangkan laba.(Penulis adalah dosen IAI Tribakti Kediri)

 

- Advertisement -

 

Tidak tahu kenapa sejak di Kediri orang ramai membicarakan bandara dan jalan tol saya menjadi terusik untuk mencari maksud sebenarnya kata pembangunan. Apa sebenarnya arti pembangunan itu? Juga, untuk siapa pembangunan dilaksanakan?

Sepulang gowes ke arah Manyaran dan Tarokan orang ramai bicara indahnya pemandangan jalanan baru di kawasan bandara yang mulai dibangun itu. Seperti menjadi kawasan wisata baru. Kawasan itu ramai dikunjungi saat Sabtu dan Minggu. Yang sedang pacaran dan yang momong cucu semua kumpul jadi satu di area itu.

Hampir bersamaan, riuh rendah perbincangan bandara diperseru oleh topik jalan tol. Apalagi beberapa hari terakhir, beredar denah tol Kediri–Tulungagung di internet. Akhirnya, orang mulai ribut membincang jalan tol. Ada yang harap-harap cemas menghitung harga tanah. Bahkan ada yang bersemangat mengalkulasi uang yang didapat jika tanah dan rumahnya terkena pembebasan.

Yang lain gelisah karena harus pindah jika betul rumah di atas sepetak tanahnya itu mesti dilepasrelakan untuk jalan tol. Yang lain lagi sudah berharap jika memang desanya terdampak tol akan direlokasi di satu kawasan tertentu. Maksudnya agar secara sosiologis kesatuan masyarakatnya tetap terpelihara.

Saya menjadi ingat suatu saat dalam perbincangan santai dengan seseorang di Cilamaya, Karawang, Jawa Barat. Dia bilang bahwa dulunya ia tinggal di Jakarta. Tetapi karena pembangunan ia tergusur di Cilamaya ini. Saya menangkap kesan bahwa baginya pembangunan berarti malapetaka yang mendamparkan dia dari Jakarta ke pedalaman Karawang.

Di daerah lain saya juga memperoleh pemahaman tentang pembangunan dari seseorang buruh tani. Tersebab pembangunan ia mengeluh karena harus kerja bakti beberapa hari bikin gapura desa dan mengecat tembok pagar balai desa. Kerja bakti itu menjadikannya tidak bisa bekerja mencari nafkah beberapa hari. Arti pembangunan yang berhasil saya tangkap dari penuturannya tak lebih dari perintah lurah yang tak kuasa dibantah.

Baca Juga :  Local Hero

Atas nama pembangunan kritik dibungkam. Redaksi media massa diimbau tidak menulis berita yang berlawanan dengan pemerintah. Pentas baca puisi sering dicurigai. Pengajian adakalanya menghasilkan suasana gaduh gropyokan.

Lalu apa sebenarnya yang dimaksud pembangunan itu? Apakah pembangunan berarti  usaha menjadikan manusia itu baik? Padahal kebaikan setiap manusia itu ukurannya ada pada pikiran individu manusia itu sendiri. Apa karena ukurannya berbeda sesuai potensi individunya maka pembangunan itu adalah usaha mendorong aktualisasi potensi manusia? Ataukah pembangunan itu ingin menjadikan masyarakat yang baik? Yang baik tentu yang hanya disepakati anggotanya.

Memang terasa sulit membuat definisi kata pembangunan yang serba mencakup. Kesulitan itulah yang akhirnya untuk memudahkan mendefinisikan pembangunan maka dilakukan generalisasi yang dimungkinkan mudah mendapat persetujuan umum. Pembangunan diartikan sebagai usaha melakukan perubahan masyarakat ke arah pertumbuhan ekonomi dan sosial yang lebih menjamin kesejahteraan dalam arti luas. Definisi indah, tapi tak seindah praktiknya

Kita sering lalai, bahwa pembangunan itu ibarat pedang bermata dua. Bisa berarti berkah sekaligus musibah. Jalan tol yang rencananya dibangun menuju Kediri dan Tulungagung jelas akan menjadi musibah bagi orang yang penghasilannya digantungkan pada kegiatan tambal ban, jual bensin eceran, asongan di perempatan, warung makan di pinggiran jalan, panti pijat dan kafe plus karaoke serta lain-lain jenis usaha kecil yang biasanya hidup di jalanan.

Baca Juga :  Jalur Padat Arus Balik Tarokan

Berkah bagi mereka yang mobilitas bisnisnya tinggi karena pemangkasan waktu tempuh bisa berdampak positif penumpukan laba dari proses produksinya. Akumulasi laba ini akan cenderung menjadikan yang sudah kaya semakin kaya. Meminjam analisis Karl Marx (1818-1883), inilah benih persemaian kelas proletariat. Kelas sosial ini semakin lama semakin membesar. Sedang kelas borjuis semakin mengecil. Sehingga diibaratkan layaknya pulau kecil kapitalis yang dikelilingi samudera kemelaratan proletariat. Tentu Marx bisa salah. Tapi ada baiknya kita selalu mewaspadainya.

Bagi yang berkemungkinan mengartikan pembangunan adalah musibah, sebelum menjadi orang miskin baru segeralah merancang kegiatan ekonominya. Masa depan memang sulit diprediksi. Tetapi akan menjadi baik dalam kesulitan itu kita sudah punya rencana. Buatlah rencana berbasis kebiasaan (habit) masyarakat agraris sebagaimana kita yang hidup di lembah Brantas dan berdekatan dengan gunung Kelud ini. Kediri dikaruniai tanah subur yang setiap kali lahannya diperbarui dan dipersubur oleh abu Kelud.

Terkait kesuburan tanah itu, saya jadi ingat disertasi yang ditulis oleh dekan Fakultas Pertanian Universitas Kadiri Dr Widi Artini, MP yang penelitiannya di lakukan di Kediri. Memakai senjata intelektual teori Habitus-nya Pierre Bourdieu (1930-2002), di bagian akhir disertasi ia menyarankan bahwa masyarakat di wilayah Kediri ini sebaiknya melakukan intensifikasi lahan pekarangan. Terutama masyarakat di Kota Kediri. Setidaknya, lahan di sekitar rumah bisa ditanami berbagai tanaman yang bisa membantu memenuhi kebutuhan hariannya. Syukur-syukur bisa diintensifkan untuk tanaman komoditas yang tentu akan mendatangkan laba.(Penulis adalah dosen IAI Tribakti Kediri)

 

Artikel Terkait

UAS dan Stigma

Kepala Daerah dan Donokrasi

Awal Ramadan Beda, Ikut Yang Mana?

Most Read


Artikel Terbaru

/