23.5 C
Kediri
Saturday, July 2, 2022

-Pamenang-

Akhirnya mulai mengerucut untuk nama ibu kota Kabupaten Kediri. Saat ini yang diusulkan adalah: “Pamenang”. Nama ini sedang dibahas di DPRD Kabupaten Kediri, untuk selanjutnya diusulkan ke pusat, lalu disahkan.

Tapi, kalangan budayawan dan sejarawan di Kediri, ada yang mempersoalkan nama “Pamenang”. Ini tercermin dalam diskusi bertema: “Menimbang Ibu Kota Kabupaten Kediri” yang digelar Jawa Pos Radar Kediri di Ruang Pamenang, Pemkab Kediri, Selasa pekan lalu (22/3).

Salah satu yang mempersoalkan nama “Pamenang” adalah Ketua Pemerhati Sejarah Kediri (Pasak), Novi Bachrul Munib. Menurut Novi, kata “Pamenang” tidak ada dalam bahasa Jawa Kuno. Meskipun “Menang” sudah dipakai nama sebuah desa di Kediri, tapi dari sisi etimologi Jawa Kuno, nama “Menang” tidak ada. Apalagi nama “Pamenang”. Justru yang ada adalah kata “Wenang” yang berarti berkuasa.

Jadi, menurut Novi, jika memang nama “Pamenang” yang digunakan, maka harus ada akar etimologinya, maupun akar sejarahnya. Ini mengacu pada Permendagri 30 tahun 2012, yang menyebutkan bahwa nama ibu kota kabupaten harus melihat faktor sejarah, budaya, adat-istiadat dan adanya tempat yang sama di daerah tersebut. Sehingga, berdasarkan ini, nama “Pamenang” menurut Novi rawan untuk dipersoalkan.

Baca Juga :  Penjual Kopi di Kediri Pikat Pembeli Dengan Bermain Sulap

Saya sebenarnya suka dengan nama “Pamenang” yang bisa diartikan menang. Nama ini menurut saya mengandung spirit dan semangat yang tinggi. Coba saja kita bayangkan, ketika ada yang bertanya, apa nama ibu kota Kabupaten Kediri? Lalu dijawab “Pamenang”. Maka, akan terasa bersemangat yang bertanya maupun yang menjawabnya.

Bahwa ternyata ada yang mempersoalkan nama “Pamenang”, seperti yang dimasalahkan Novi di atas, menurut saya, bisa dikompromikan. Bukankah sejarah itu bisa dikompromikan? Dan bukankah sejarah itu adalah kesepakatan?

Ketika nanti nama ibu kota Kabupaten Kediri sudah ditetapkan dan disahkan, maka langkah selanjutnya adalah menyosialisasikan nama ibu kota tersebut. Dan menjadikannya sebagai “brand” baru atau ikon baru dari Kabupaten Kediri.

Di satu sisi,  “Pamenang” bagus dari segi nama dan arti juga bagus dari sisi makna. Tapi, yang perlu diingat, dibalik sebuah nama atau brand, itu mengandung konsekuensi. Menurut Philip Kotler, kekuatan utama dari sebuah brand harus didasarkan pada performa. Awalnya brand dibangun melalui publisitas dan iklan. Tapi, untuk selanjutnya dipertahankan oleh performa.  Dan masih menurut Kotler, brand merupakan janji nilai. Jadi, ada janji yang harus dipenuhi dibalik sebuah brand.

Baca Juga :  Rumah Kurasi

Makanya, ketika nanti ibu kota Kabupaten Kediri benar-benar ditetapkan dan disahkan namanya menjadi “Pamenang”, maka performa Kabupaten Kediri harus benar-benar dijaga. Menyesuaikan dengan arti dan makna dari “Pamenang”.  Harus bisa menjadi pemenang di segala bidang, di segala lini. Kabupaten Kediri punya kesebelasan Persedikab, harus “menangan” kalau bertanding. Minimal, harus lebih banyak menangnya ketimbang kalahnya. Pendeknya, berlaga di pertandingan apapun, bersaing di kompetisi apapun, Kabupaten Kediri harus menang. Setidaknya ojok ngisin-ngisini. Dan jangan sampai kabotan jeneng. Yak apa dulur? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Akhirnya mulai mengerucut untuk nama ibu kota Kabupaten Kediri. Saat ini yang diusulkan adalah: “Pamenang”. Nama ini sedang dibahas di DPRD Kabupaten Kediri, untuk selanjutnya diusulkan ke pusat, lalu disahkan.

Tapi, kalangan budayawan dan sejarawan di Kediri, ada yang mempersoalkan nama “Pamenang”. Ini tercermin dalam diskusi bertema: “Menimbang Ibu Kota Kabupaten Kediri” yang digelar Jawa Pos Radar Kediri di Ruang Pamenang, Pemkab Kediri, Selasa pekan lalu (22/3).

Salah satu yang mempersoalkan nama “Pamenang” adalah Ketua Pemerhati Sejarah Kediri (Pasak), Novi Bachrul Munib. Menurut Novi, kata “Pamenang” tidak ada dalam bahasa Jawa Kuno. Meskipun “Menang” sudah dipakai nama sebuah desa di Kediri, tapi dari sisi etimologi Jawa Kuno, nama “Menang” tidak ada. Apalagi nama “Pamenang”. Justru yang ada adalah kata “Wenang” yang berarti berkuasa.

Jadi, menurut Novi, jika memang nama “Pamenang” yang digunakan, maka harus ada akar etimologinya, maupun akar sejarahnya. Ini mengacu pada Permendagri 30 tahun 2012, yang menyebutkan bahwa nama ibu kota kabupaten harus melihat faktor sejarah, budaya, adat-istiadat dan adanya tempat yang sama di daerah tersebut. Sehingga, berdasarkan ini, nama “Pamenang” menurut Novi rawan untuk dipersoalkan.

Baca Juga :  Inovasi Milik Warga Desa

Saya sebenarnya suka dengan nama “Pamenang” yang bisa diartikan menang. Nama ini menurut saya mengandung spirit dan semangat yang tinggi. Coba saja kita bayangkan, ketika ada yang bertanya, apa nama ibu kota Kabupaten Kediri? Lalu dijawab “Pamenang”. Maka, akan terasa bersemangat yang bertanya maupun yang menjawabnya.

Bahwa ternyata ada yang mempersoalkan nama “Pamenang”, seperti yang dimasalahkan Novi di atas, menurut saya, bisa dikompromikan. Bukankah sejarah itu bisa dikompromikan? Dan bukankah sejarah itu adalah kesepakatan?

Ketika nanti nama ibu kota Kabupaten Kediri sudah ditetapkan dan disahkan, maka langkah selanjutnya adalah menyosialisasikan nama ibu kota tersebut. Dan menjadikannya sebagai “brand” baru atau ikon baru dari Kabupaten Kediri.

Di satu sisi,  “Pamenang” bagus dari segi nama dan arti juga bagus dari sisi makna. Tapi, yang perlu diingat, dibalik sebuah nama atau brand, itu mengandung konsekuensi. Menurut Philip Kotler, kekuatan utama dari sebuah brand harus didasarkan pada performa. Awalnya brand dibangun melalui publisitas dan iklan. Tapi, untuk selanjutnya dipertahankan oleh performa.  Dan masih menurut Kotler, brand merupakan janji nilai. Jadi, ada janji yang harus dipenuhi dibalik sebuah brand.

Baca Juga :  Tuan Rumah, UNP Targetkan Juara Umum Porsenasma

Makanya, ketika nanti ibu kota Kabupaten Kediri benar-benar ditetapkan dan disahkan namanya menjadi “Pamenang”, maka performa Kabupaten Kediri harus benar-benar dijaga. Menyesuaikan dengan arti dan makna dari “Pamenang”.  Harus bisa menjadi pemenang di segala bidang, di segala lini. Kabupaten Kediri punya kesebelasan Persedikab, harus “menangan” kalau bertanding. Minimal, harus lebih banyak menangnya ketimbang kalahnya. Pendeknya, berlaga di pertandingan apapun, bersaing di kompetisi apapun, Kabupaten Kediri harus menang. Setidaknya ojok ngisin-ngisini. Dan jangan sampai kabotan jeneng. Yak apa dulur? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

UAS dan Stigma

Kepala Daerah dan Donokrasi

Awal Ramadan Beda, Ikut Yang Mana?

Most Read


Artikel Terbaru

/