31.7 C
Kediri
Friday, August 12, 2022

– Pikiran –

Tentu sebagian dari kita ada yang mengingat bahwa salah satu moyang intelektual sosiologi mengatakan jika individu manusia itu adalah aktor kreatif bagi dunianya sendiri. Individu bertindak tidak selalu di bawah kontrol realitas sosial yang ada di luar dirinya. Tindakan apapun selalu muncul dari pikirannya.

Tak masuk kerja, mungkin pemicunya adalah pikiran bahwa tubuhnya perlu istirahat. Pemimpin yang kita sukai, hanya ada dalam pikiran kita. Begitu juga tentang kegagalan di masa lalu, hanya ada dalam pikiran kita. Pilihan warna baju yang kita pakai juga merupakan hasil pikiran. Sampai kepada kita tidurpun adalah karena kita berpikir bahwa kita harus beristirahat.

Jika kita ingin mewujudkan impian, kita harus memikirkan sesuatu yang mendukung kita dapat menggapainya. Jauhi pikiran yang membuat kita menjadi jauh dari impian. Apalagi berpikir kegagalan dan risiko yang menyertainya.

Semua berawal dari pikiran. Pikiran memengaruhi akal, tubuh, perasaan, dan tindakan. Jiwa dan kesehatan juga dipengaruhi pikiran. Bahkan, citra diri kita juga produk pikiran kita.

Kita mau pergi karena pikiran kita mengajak kita pergi. Jika kita berpikir bahwa perut sedang lapar maka kita akan makan. Tapi sekalipun lapar jika kita berpikir bahwa kiblat keimanan kita mewajibkan kita tidak makan pada siang hari di bulan Ramadan, kitapun tidak makan. Semua berawal dari pikiran. Puasa pun berawal dari pikiran kita.

Baca Juga :  Tradisi Khas Ponpes Sepanjang Ramadan (9)

Pikiran adalah kumpulan persepsi. Fenomena mental manusia yang berada pada dunia gagasan, atau dunia abstrak serta dunia angan-angan. Kita bisa melacak pikiran melalui kata-kata dan tindakan. Dengan demikian, berpikir sebenarnya adalah aktivitas mendayagunakan sejumlah kemampuan akal dan mental individu manusia.

Puasa Ramadhan tahun ini memunculkan pikiran baru. Tahun yang penuh aturan menjalani hidup demi keselamatan dan kebaikan bersama. Kesadaran dan pikiran kolektif kita diarahkan semata-mata untuk kehidupan sosial kita. Segala tindakan kita harus merupakan produk berpikir dengan basis kebaikan bagi semua.

Salat tarawih dilaksanakan tidak sebagaimana biasanya, tentu pikiran kita mengikuti arahan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dulu dianjurkan salat di masjid berjamaah, sekarang justru jadi masalah. Semua serba berbeda dengan yang sudah-sudah. Itu semua karena pikiran kita bergerak menghindar agar virus tak memapar.

Wabah korona memberi anjuran fisik harus berjarak. Jarak fisik menjadi sarana utama memutus virus. Sekalipun harus berjarak fisik, kita tidak harus berjarak sosial. Karena, secara sosial kita semua bersaudara. Tetap saling tergantung, saling pengaruh, dan bekerja sama untuk membentuk kesatuan sosial bernama masyarakat.

Baca Juga :  Jurus Sang Jenderal Kecil

Tak perlulah kita berpikir fenomena ini berbalut kepentingan selain kepentingan keselamatan bersama. Wabah ini menyerang tidak membedakan agama, pilihan politik, tua-muda, kaya-miskin, pemimpin-pengikut, manejer-bawahan, pria-wanita, dan lain sebagainya. Terjang tak pandang orang.

Puasa Ramadan, alhamdulillah memberi peluang kepada muslim untuk berbuat demi keselamatan dan kebaikan bersama. Secara individu pasti kita juga merasakan kesulitan karena korona. Tapi kesulitan ini semoga tidak lantas menghapus kesadaran kolektif kita sebagai sesama saudara untuk saling membantu.

Puasa memberi peluang menyisihkan sedikit harta untuk bersedekah. Mengendalikan pikiran untuk tidak konsumtif sesuai arahan puasa tentu akan ada harta yang tersisa untuk dhuafa. Terutama, untuk membantu mereka yang kebutuhan makannya hanya bisa dipenuhi jika ia keluar rumah, di tengah anjuran tetap di rumah.

Semua kembali kepada pikiran kita. Tinggal kita mau berpikir untuk sesama atau justru sebaliknya. Tetapi tentu akan menjadi baik, jika selagi Ramadan, kita tidak terlalu asyik dengan diri sendiri. Tidak berpikir demi kita sendiri. Tetapi juga demi orang lain. 

Semoga di bulan Ramadan ini, kehadiran kita bisa lebih menjadi berkah bagi sesama. Selamat berpuasa Ramadan. (Penulis adalah anggota Ikalan Keluarga Alumni Youth Club Kediri ’75)

- Advertisement -

Tentu sebagian dari kita ada yang mengingat bahwa salah satu moyang intelektual sosiologi mengatakan jika individu manusia itu adalah aktor kreatif bagi dunianya sendiri. Individu bertindak tidak selalu di bawah kontrol realitas sosial yang ada di luar dirinya. Tindakan apapun selalu muncul dari pikirannya.

Tak masuk kerja, mungkin pemicunya adalah pikiran bahwa tubuhnya perlu istirahat. Pemimpin yang kita sukai, hanya ada dalam pikiran kita. Begitu juga tentang kegagalan di masa lalu, hanya ada dalam pikiran kita. Pilihan warna baju yang kita pakai juga merupakan hasil pikiran. Sampai kepada kita tidurpun adalah karena kita berpikir bahwa kita harus beristirahat.

Jika kita ingin mewujudkan impian, kita harus memikirkan sesuatu yang mendukung kita dapat menggapainya. Jauhi pikiran yang membuat kita menjadi jauh dari impian. Apalagi berpikir kegagalan dan risiko yang menyertainya.

Semua berawal dari pikiran. Pikiran memengaruhi akal, tubuh, perasaan, dan tindakan. Jiwa dan kesehatan juga dipengaruhi pikiran. Bahkan, citra diri kita juga produk pikiran kita.

Kita mau pergi karena pikiran kita mengajak kita pergi. Jika kita berpikir bahwa perut sedang lapar maka kita akan makan. Tapi sekalipun lapar jika kita berpikir bahwa kiblat keimanan kita mewajibkan kita tidak makan pada siang hari di bulan Ramadan, kitapun tidak makan. Semua berawal dari pikiran. Puasa pun berawal dari pikiran kita.

Baca Juga :  Generasi Milenial dalam Pemilu 2019

Pikiran adalah kumpulan persepsi. Fenomena mental manusia yang berada pada dunia gagasan, atau dunia abstrak serta dunia angan-angan. Kita bisa melacak pikiran melalui kata-kata dan tindakan. Dengan demikian, berpikir sebenarnya adalah aktivitas mendayagunakan sejumlah kemampuan akal dan mental individu manusia.

Puasa Ramadhan tahun ini memunculkan pikiran baru. Tahun yang penuh aturan menjalani hidup demi keselamatan dan kebaikan bersama. Kesadaran dan pikiran kolektif kita diarahkan semata-mata untuk kehidupan sosial kita. Segala tindakan kita harus merupakan produk berpikir dengan basis kebaikan bagi semua.

Salat tarawih dilaksanakan tidak sebagaimana biasanya, tentu pikiran kita mengikuti arahan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dulu dianjurkan salat di masjid berjamaah, sekarang justru jadi masalah. Semua serba berbeda dengan yang sudah-sudah. Itu semua karena pikiran kita bergerak menghindar agar virus tak memapar.

Wabah korona memberi anjuran fisik harus berjarak. Jarak fisik menjadi sarana utama memutus virus. Sekalipun harus berjarak fisik, kita tidak harus berjarak sosial. Karena, secara sosial kita semua bersaudara. Tetap saling tergantung, saling pengaruh, dan bekerja sama untuk membentuk kesatuan sosial bernama masyarakat.

Baca Juga :  Tradisi Khas Ponpes Sepanjang Ramadan (8)

Tak perlulah kita berpikir fenomena ini berbalut kepentingan selain kepentingan keselamatan bersama. Wabah ini menyerang tidak membedakan agama, pilihan politik, tua-muda, kaya-miskin, pemimpin-pengikut, manejer-bawahan, pria-wanita, dan lain sebagainya. Terjang tak pandang orang.

Puasa Ramadan, alhamdulillah memberi peluang kepada muslim untuk berbuat demi keselamatan dan kebaikan bersama. Secara individu pasti kita juga merasakan kesulitan karena korona. Tapi kesulitan ini semoga tidak lantas menghapus kesadaran kolektif kita sebagai sesama saudara untuk saling membantu.

Puasa memberi peluang menyisihkan sedikit harta untuk bersedekah. Mengendalikan pikiran untuk tidak konsumtif sesuai arahan puasa tentu akan ada harta yang tersisa untuk dhuafa. Terutama, untuk membantu mereka yang kebutuhan makannya hanya bisa dipenuhi jika ia keluar rumah, di tengah anjuran tetap di rumah.

Semua kembali kepada pikiran kita. Tinggal kita mau berpikir untuk sesama atau justru sebaliknya. Tetapi tentu akan menjadi baik, jika selagi Ramadan, kita tidak terlalu asyik dengan diri sendiri. Tidak berpikir demi kita sendiri. Tetapi juga demi orang lain. 

Semoga di bulan Ramadan ini, kehadiran kita bisa lebih menjadi berkah bagi sesama. Selamat berpuasa Ramadan. (Penulis adalah anggota Ikalan Keluarga Alumni Youth Club Kediri ’75)

Artikel Terkait

Mengapa Selingkar Wilis?

UAS dan Stigma

Kepala Daerah dan Donokrasi

Most Read


Artikel Terbaru

/