26.2 C
Kediri
Tuesday, July 5, 2022

UAS dan Stigma

Peristiwa yang dialami Ustadz Abdul Somad (UAS)—dideportasi bersama keluarganya saat berada di Singapura—adalah salah satu contoh dari korban stigma. UAS diusir dari Singapura, karena bagi negeri jiran itu, UAS punya stigma negatif.

“Somad dikenal menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi (pemisahan/pengucilan), yang tidak dapat diterima di masyarakat multiras dan multi-agama di Singapura”. Inilah sebagian keterangan yang dirilis Pemerintah Singapura, melalui Kementerian Dalam Negeri, seperti dikutip dalam situs resminya: mha.gov.sg.

Jadi, bagi Pemerintah Singapura, UAS distigmakan sebagai pendakwah yang ekstrem. Radikal. Dan intoleran. Di dalam rilis yang dikeluarkan Kementerian Dalam Negeri Singapura itu, UAS dinilai pernah mengkhotbahkan bahwa bom bunuh diri adalah sah dalam konteks konflik Israel-Palestina. Dan  bagi yang mati karena bom bunuh diri dalam konflik itu, dianggap sebagai operasi syahid.

UAS juga dinilai pernah membuat komentar yang merendahkan anggota komunitas agama lain, seperti Kristen, dengan menggambarkan salib Kristen sebagai tempat tinggal jin (roh/syetan) kafir.

Bagi saya, dan mungkin juga bagi Anda, tuduhan Singapura terhadap UAS sangatlah berlebihan. Bahkan, lebih tepatnya tuduhan tersebut di-hiperbola-kan.  Atau didramatisasi. Mengapa? Pertama, karena di Indonesia, UAS boleh berceramah di mana saja. Dan isi ceramahnya relatif tidak ada masalah, dan tidak ada yang mempermasalahkan. Dia tidak dicekal atau tidak ditolak untuk berceramah di manapun di wilayah Indonesia. Bahkan, sering juga diundang di instansi pemerintahan. Lantas, dari mana stigma ekstremis itu?

Baca Juga :  Tentang Setia Kawan

Kedua, saya menduga, informasi yang diperoleh Pemerintah Singapura dalam menilai sosok UAS melalui ceramah-ceramahnya, kebanyakan diperoleh dari media sosial. Misalnya, ceramahnya tentang salib yang disebutkan di atas, saya memang pernah melihat videonya di Youtube. Tapi, video ceramah UAS yang di-share di media sosial tentang salib itu bukanlah video yang menampilkan secara utuh isi ceramah dari UAS.  Jadi, di video itu hanya menampilkan ceramah UAS yang dianggap mendiskreditkan salib. Jangan-jangan, Pemerintah Singapura hanya melihat potongan video ini saja, tanpa melihat isi keseluruhan dari ceramah UAS.

 

Di sinilah sisi bahayanya media sosial. Seringkali, video yang di-upload di media sosial, tidak ditampilkan secara utuh. Yang ditampilkan hanyalah sisi kontroversinya. Yang ditampilkan hanyalah sisi-sisi yang kira-kira bisa membuat heboh. Dan yang ditampilkan, hanyalah sisi-sisi yang kira-kira menarik perhatian banyak orang.

Parahnya, meski sebuah video ceramah tidak ditampilkan secara menyeluruh, melainkan yang ditampilkan hanya sisi-sisi kontroversialnya saja, tapi video itu sudah bisa dinilai. Sudah bisa diinterpretasi dengan bermacam-macam argumen, atas nama kebebasan berpendapat.  Sehingga, yang mengemuka dari perbincangan di media sosial, bukanlah fakta tentang sebuah isi ceramah. Tapi, yang mengemuka adalah opini atau interpretasi yang terus berkembang terhadap sebuah fakta, yang mendasarkan pada potongan video.  Opini atau interpretasi yang berkembang itu, mulai dari yang nyinyir, sampai pada yang menyudutkan.

Baca Juga :  Saat Libur 14 Hari

Bahaya lain dari media sosial adalah bercampur-aduknya berita yang bersumber dari media mainstream dengan hoaks. Bagi netizen yang kebanyakan adalah orang-orang awam dengan pengetahuan jurnalistik terbatas, seringkali sulit membedakan antara berita yang bersumber dari media mainstream dengan hoaks. Yang dimaksud dengan media mainstream adalah media-media yang sudah terverikasi eksistensinya secara legal formal, termasuk oleh dewan pers.

Ketika stigma diberikan kepada seseorang, setidaknya melewati tiga proses. Pertama, proses interpretasi. Kedua, proses pendefinisian. Dan ketiga, baru memberikan stigma.

Nah, dalam kasus UAS ini, bisa jadi, informasi yang masuk di pemerintahan Singapura untuk selanjutnya diinterpretasi dan didefinisikan, adalah informasi yang bercampur-aduk. Bercampur-aduk antara fakta dan opini. Dan bercampur-aduk antara berita yang bersumber dari media mainstream dengan berita yang bersumber dari hoaks. Sehingga, yang terjadi, UAS distigma sebagai esktremis. Radikal. Dan intoleran.

Maka, jika dulu ada ungkapan: “Kejamnya ibu tiri, tak sekejam ibu kota”,  kini muncul ungkapan lainnya: “Kejamnya ibu kota, tak sekejam media sosial”. Media sosial memang kejam. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Peristiwa yang dialami Ustadz Abdul Somad (UAS)—dideportasi bersama keluarganya saat berada di Singapura—adalah salah satu contoh dari korban stigma. UAS diusir dari Singapura, karena bagi negeri jiran itu, UAS punya stigma negatif.

“Somad dikenal menyebarkan ajaran ekstremis dan segregasi (pemisahan/pengucilan), yang tidak dapat diterima di masyarakat multiras dan multi-agama di Singapura”. Inilah sebagian keterangan yang dirilis Pemerintah Singapura, melalui Kementerian Dalam Negeri, seperti dikutip dalam situs resminya: mha.gov.sg.

Jadi, bagi Pemerintah Singapura, UAS distigmakan sebagai pendakwah yang ekstrem. Radikal. Dan intoleran. Di dalam rilis yang dikeluarkan Kementerian Dalam Negeri Singapura itu, UAS dinilai pernah mengkhotbahkan bahwa bom bunuh diri adalah sah dalam konteks konflik Israel-Palestina. Dan  bagi yang mati karena bom bunuh diri dalam konflik itu, dianggap sebagai operasi syahid.

UAS juga dinilai pernah membuat komentar yang merendahkan anggota komunitas agama lain, seperti Kristen, dengan menggambarkan salib Kristen sebagai tempat tinggal jin (roh/syetan) kafir.

Bagi saya, dan mungkin juga bagi Anda, tuduhan Singapura terhadap UAS sangatlah berlebihan. Bahkan, lebih tepatnya tuduhan tersebut di-hiperbola-kan.  Atau didramatisasi. Mengapa? Pertama, karena di Indonesia, UAS boleh berceramah di mana saja. Dan isi ceramahnya relatif tidak ada masalah, dan tidak ada yang mempermasalahkan. Dia tidak dicekal atau tidak ditolak untuk berceramah di manapun di wilayah Indonesia. Bahkan, sering juga diundang di instansi pemerintahan. Lantas, dari mana stigma ekstremis itu?

Baca Juga :  Tunggu Level PPKM, Disdik Kota Kediri Kaji PTM

Kedua, saya menduga, informasi yang diperoleh Pemerintah Singapura dalam menilai sosok UAS melalui ceramah-ceramahnya, kebanyakan diperoleh dari media sosial. Misalnya, ceramahnya tentang salib yang disebutkan di atas, saya memang pernah melihat videonya di Youtube. Tapi, video ceramah UAS yang di-share di media sosial tentang salib itu bukanlah video yang menampilkan secara utuh isi ceramah dari UAS.  Jadi, di video itu hanya menampilkan ceramah UAS yang dianggap mendiskreditkan salib. Jangan-jangan, Pemerintah Singapura hanya melihat potongan video ini saja, tanpa melihat isi keseluruhan dari ceramah UAS.

 

Di sinilah sisi bahayanya media sosial. Seringkali, video yang di-upload di media sosial, tidak ditampilkan secara utuh. Yang ditampilkan hanyalah sisi kontroversinya. Yang ditampilkan hanyalah sisi-sisi yang kira-kira bisa membuat heboh. Dan yang ditampilkan, hanyalah sisi-sisi yang kira-kira menarik perhatian banyak orang.

Parahnya, meski sebuah video ceramah tidak ditampilkan secara menyeluruh, melainkan yang ditampilkan hanya sisi-sisi kontroversialnya saja, tapi video itu sudah bisa dinilai. Sudah bisa diinterpretasi dengan bermacam-macam argumen, atas nama kebebasan berpendapat.  Sehingga, yang mengemuka dari perbincangan di media sosial, bukanlah fakta tentang sebuah isi ceramah. Tapi, yang mengemuka adalah opini atau interpretasi yang terus berkembang terhadap sebuah fakta, yang mendasarkan pada potongan video.  Opini atau interpretasi yang berkembang itu, mulai dari yang nyinyir, sampai pada yang menyudutkan.

Baca Juga :  Tips Atasi Kebosanan selama #diRumahAja

Bahaya lain dari media sosial adalah bercampur-aduknya berita yang bersumber dari media mainstream dengan hoaks. Bagi netizen yang kebanyakan adalah orang-orang awam dengan pengetahuan jurnalistik terbatas, seringkali sulit membedakan antara berita yang bersumber dari media mainstream dengan hoaks. Yang dimaksud dengan media mainstream adalah media-media yang sudah terverikasi eksistensinya secara legal formal, termasuk oleh dewan pers.

Ketika stigma diberikan kepada seseorang, setidaknya melewati tiga proses. Pertama, proses interpretasi. Kedua, proses pendefinisian. Dan ketiga, baru memberikan stigma.

Nah, dalam kasus UAS ini, bisa jadi, informasi yang masuk di pemerintahan Singapura untuk selanjutnya diinterpretasi dan didefinisikan, adalah informasi yang bercampur-aduk. Bercampur-aduk antara fakta dan opini. Dan bercampur-aduk antara berita yang bersumber dari media mainstream dengan berita yang bersumber dari hoaks. Sehingga, yang terjadi, UAS distigma sebagai esktremis. Radikal. Dan intoleran.

Maka, jika dulu ada ungkapan: “Kejamnya ibu tiri, tak sekejam ibu kota”,  kini muncul ungkapan lainnya: “Kejamnya ibu kota, tak sekejam media sosial”. Media sosial memang kejam. Bagaimana menurut Anda? (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/