23.6 C
Kediri
Wednesday, June 7, 2023

Liburan Jadi Ajang Cari Ide Bisnis

Sama-sama memiliki hobi traveling, Riyka Khoirul Atok dan Meilisa Marditawati tidak tak sekadar menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Ibarat sambil menyelam minum air, mereka sengaja mengunjungi tempat-tempat baru untuk kulakan ide bisnis.

Sebelum menikah, pasangan Riyka Khoirul Atok dan Meilisa Marditawati sudah terjun di dunia entrepreneur. Keduanya sama-sama bergelut di bisnis pakaian.  Kini setelah menikah, keduanya mengembangkan bisnis kuliner.

“Sebelum memulai bisnis ini, saya sebenarnya sempat bekerja di bank,” cerita Atok saat ditemui oleh wartawan Jawa Pos Radar Kediri. Saat masih bekerja di bank Atok biasanya ditempatkan di kota-kota besar, seperti Surabaya dan Jakarta. Sudah bekerja di bank selama tujuh tahun namun laki-laki berusia 31 tahun ini merasa tekanan pekerjaan dan gaji yang diterima ini tidak sebanding.

Tidak hanya bermasalah dengan jam kerja yang mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 22.00 WIB. Sebagai penyuka traveling, membuatnya tidak bisa bebas. Karena untuk dapat bepergian hanya bisa dilakukan saat weekend atau long weekend.

Dengan tekad yang bulat, Atok akhirnya kembali ke kampung halamannya. Kembalinya dari merantau ini tidak dengan tangan kosong. Namun ia sudah memiliki rencana untuk mengembangkan bisnis fashion.

Dari semua jenis usaha, alasannya memilih bisnis fashion ini didasari oleh rasa sukanya pada bidang tersebut. Ternyata ada cerita dibalik kenapa bisa tumbuh rasa suka tersebut. “Karena saya suka ganti-ganti baju, dan juga ditunjang oleh pakde saya yang berjualan pakaian,” imbuhnya.

Saat mulai duduk di bangku SMP, karena setelah pulang sekolah tidak ada kegiatan. Daripada tidak ada kegiatan, pada saat itu laki-laki kelahiran tahun 1991 ini diminta untuk menjaga toko baju di Pasar Gringging, Kecamatan Grogol. Hal tersebut berlangsung hingga ia SMA.  Karena setelah lulus SMA, ia melanjutkan kuliah di Manajemen Kehutanan IPB.

Baca Juga :  Buka Mata, Buka Telinga

Selain kecintaannya terhadap fashion, memang ada jiwa dagang yang diberikan secara turun-menurun. Hal tersebut dikarenakan hampir semua anggota keluarganya adalah pedagang. Jika pakdenya adalah penjual pakaian, kedua orang tuanya pemilik dealer motor. Sehingga saat masih bekerja di bank, Antok adalah satu-satunya anggota keluarga yang merupakan karyawan.

Setelah melepaskan atribut sebagai pegawai bank, anak pertama dari tiga bersaudara ini kemudian membuka usaha fashion dengan nama Taslim Daily.  Usaha tersebut baru dibuka pada Desember 2021.

Saat keluar kantor dan memilih untuk membuka usaha, pada saat itu jika dari segi materi sudah ada. Namun untuk produk yang akan dijual belum ada. Sehingga setelah keluar dari pekerjaan, ia sempat melakukan riset pasar terlebih dahulu.

Jika dilihat dari pembukaan toko dengan persiapan, pada saat itu hanya sekitar enam bulan saja. Untuk fashion ini pasarnya adalah laki-laki dan perempuan dewasa. Mulai dari baju koko hingga gamis. Target pembelinya adalah penghuni pondok.

Berbeda dengan sang suami, sang istri Meilisa ini ternyata sudah terjun di dunia entrepreneur saat masih kuliah. Perempuan 30 tahun ini saat berkuliah di jurusan hukum ekonomi syariah di Universitas UIN Tulungagung sudah berjualan di bidang fashion. “Pada saat itu awalnya dari kerudung, barangnya masih ambil di orang,” kenang Meilisa.

Meski masih kuliah, alasan kenapa Meilisa sudah terpikir untuk berjualan ini karena ingin memanfaatkan peluang. Karena saat menjadi mahasiswa ia sangat aktif dalam organisasi. Denga sering bertemu dengan banyak orang, sehingga memiliki juga banyak relasi.

Keluarga perempuan kelahiran tahun 1992 ini merupakan petani. Sehingga tidak ada yang memiliki jiwa dagang. Namun hal tersebut bukan alasan untuknya untuk tidak mencoba. Saat awal membuka bisnis, selain masih mengambil barang namun juga menyewa ruko untuk berjualan.

Baca Juga :  --- KPM 110 ---

Usahanya sejak tahun 2012 itu tidak sia-sia. Setelah sepuluh tahun, kini ia sudah memiliki banyak penjahit. Bahkan ia juga mendesain brand kerudungnya sendiri. Namanya adalah Mazara. Selain kerudung namun juga menjual pakaian.

“Kalau brand saya ini target pasarnya ke anak perempuan yang mulai suka berdandan,” imbuhnya.

Meski sama-sama dibidang tersebut, keduanya ini saling bertukar ide agar usaha fashion mereka tidak ketinggalan. Terutama perkembangan dunia fashion saat ini sangatlah cepat. Agar bisa mengimbangi hal tersebut, mereka tidak lupa untuk media sosial sebagai sarana promosi. Salah satunya menggunakan tiktok.

Setelah sama-sama sukses di bidang fashion, kini keduanya mencoba untuk dibidang kuliner. Dimana pasutri ini akan membuka rumah makan yang bernama Bumi Panji berlokasi di Puhsarang, Kecamatan Semen. “Alasannya karena dia (atok) ini suka makan, sehingga aku sama dia ini kayak tidak bisa berhenti makan,” jelas Meilisa alasan kenapa ingin mengembangkan usaha kuliner.

Karena hal tersebut, akhirnya ide membuat usaha kuliner. Tidak hanya itu saja, sebagai pasangan yang suka pergi nongkrong atau meetup. Ini ingin memiliki usaha tempat nongkrong. Karena ia merasa tempat nongkrong di Kediri pilihannya terbatas.

Agar berbeda dengan tempat nongkrong lainnya. Atok dan Meilisa ini membuat konsep rumah makan yang kental dengan adat jawa. Dimana bagunannya ini berupa joglo ala Yogyakarta. Tidak hanya pada bangunan, namun juga makanannya juga.

Alasannya ingin tampil beda, karena mereka ingin agar masyarakat saat ini tidak melupakan budaya mereka. Salah satunya dari makanan. Karena selama ini kebanyakan cafe atau tempat makan untuk nongkrong ini menyediakan makanan kebarat-baratan.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara

Sama-sama memiliki hobi traveling, Riyka Khoirul Atok dan Meilisa Marditawati tidak tak sekadar menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Ibarat sambil menyelam minum air, mereka sengaja mengunjungi tempat-tempat baru untuk kulakan ide bisnis.

Sebelum menikah, pasangan Riyka Khoirul Atok dan Meilisa Marditawati sudah terjun di dunia entrepreneur. Keduanya sama-sama bergelut di bisnis pakaian.  Kini setelah menikah, keduanya mengembangkan bisnis kuliner.

“Sebelum memulai bisnis ini, saya sebenarnya sempat bekerja di bank,” cerita Atok saat ditemui oleh wartawan Jawa Pos Radar Kediri. Saat masih bekerja di bank Atok biasanya ditempatkan di kota-kota besar, seperti Surabaya dan Jakarta. Sudah bekerja di bank selama tujuh tahun namun laki-laki berusia 31 tahun ini merasa tekanan pekerjaan dan gaji yang diterima ini tidak sebanding.

Tidak hanya bermasalah dengan jam kerja yang mulai dari pukul 07.00 hingga pukul 22.00 WIB. Sebagai penyuka traveling, membuatnya tidak bisa bebas. Karena untuk dapat bepergian hanya bisa dilakukan saat weekend atau long weekend.

Dengan tekad yang bulat, Atok akhirnya kembali ke kampung halamannya. Kembalinya dari merantau ini tidak dengan tangan kosong. Namun ia sudah memiliki rencana untuk mengembangkan bisnis fashion.

Dari semua jenis usaha, alasannya memilih bisnis fashion ini didasari oleh rasa sukanya pada bidang tersebut. Ternyata ada cerita dibalik kenapa bisa tumbuh rasa suka tersebut. “Karena saya suka ganti-ganti baju, dan juga ditunjang oleh pakde saya yang berjualan pakaian,” imbuhnya.

Saat mulai duduk di bangku SMP, karena setelah pulang sekolah tidak ada kegiatan. Daripada tidak ada kegiatan, pada saat itu laki-laki kelahiran tahun 1991 ini diminta untuk menjaga toko baju di Pasar Gringging, Kecamatan Grogol. Hal tersebut berlangsung hingga ia SMA.  Karena setelah lulus SMA, ia melanjutkan kuliah di Manajemen Kehutanan IPB.

Baca Juga :  Ribuan Data Anggota Partai Politik Bermasalah

Selain kecintaannya terhadap fashion, memang ada jiwa dagang yang diberikan secara turun-menurun. Hal tersebut dikarenakan hampir semua anggota keluarganya adalah pedagang. Jika pakdenya adalah penjual pakaian, kedua orang tuanya pemilik dealer motor. Sehingga saat masih bekerja di bank, Antok adalah satu-satunya anggota keluarga yang merupakan karyawan.

Setelah melepaskan atribut sebagai pegawai bank, anak pertama dari tiga bersaudara ini kemudian membuka usaha fashion dengan nama Taslim Daily.  Usaha tersebut baru dibuka pada Desember 2021.

Saat keluar kantor dan memilih untuk membuka usaha, pada saat itu jika dari segi materi sudah ada. Namun untuk produk yang akan dijual belum ada. Sehingga setelah keluar dari pekerjaan, ia sempat melakukan riset pasar terlebih dahulu.

Jika dilihat dari pembukaan toko dengan persiapan, pada saat itu hanya sekitar enam bulan saja. Untuk fashion ini pasarnya adalah laki-laki dan perempuan dewasa. Mulai dari baju koko hingga gamis. Target pembelinya adalah penghuni pondok.

Berbeda dengan sang suami, sang istri Meilisa ini ternyata sudah terjun di dunia entrepreneur saat masih kuliah. Perempuan 30 tahun ini saat berkuliah di jurusan hukum ekonomi syariah di Universitas UIN Tulungagung sudah berjualan di bidang fashion. “Pada saat itu awalnya dari kerudung, barangnya masih ambil di orang,” kenang Meilisa.

Meski masih kuliah, alasan kenapa Meilisa sudah terpikir untuk berjualan ini karena ingin memanfaatkan peluang. Karena saat menjadi mahasiswa ia sangat aktif dalam organisasi. Denga sering bertemu dengan banyak orang, sehingga memiliki juga banyak relasi.

Keluarga perempuan kelahiran tahun 1992 ini merupakan petani. Sehingga tidak ada yang memiliki jiwa dagang. Namun hal tersebut bukan alasan untuknya untuk tidak mencoba. Saat awal membuka bisnis, selain masih mengambil barang namun juga menyewa ruko untuk berjualan.

Baca Juga :  Saksi Ungkap Transaksi Pengedar Pil Dobel L Asal Ngronggo

Usahanya sejak tahun 2012 itu tidak sia-sia. Setelah sepuluh tahun, kini ia sudah memiliki banyak penjahit. Bahkan ia juga mendesain brand kerudungnya sendiri. Namanya adalah Mazara. Selain kerudung namun juga menjual pakaian.

“Kalau brand saya ini target pasarnya ke anak perempuan yang mulai suka berdandan,” imbuhnya.

Meski sama-sama dibidang tersebut, keduanya ini saling bertukar ide agar usaha fashion mereka tidak ketinggalan. Terutama perkembangan dunia fashion saat ini sangatlah cepat. Agar bisa mengimbangi hal tersebut, mereka tidak lupa untuk media sosial sebagai sarana promosi. Salah satunya menggunakan tiktok.

Setelah sama-sama sukses di bidang fashion, kini keduanya mencoba untuk dibidang kuliner. Dimana pasutri ini akan membuka rumah makan yang bernama Bumi Panji berlokasi di Puhsarang, Kecamatan Semen. “Alasannya karena dia (atok) ini suka makan, sehingga aku sama dia ini kayak tidak bisa berhenti makan,” jelas Meilisa alasan kenapa ingin mengembangkan usaha kuliner.

Karena hal tersebut, akhirnya ide membuat usaha kuliner. Tidak hanya itu saja, sebagai pasangan yang suka pergi nongkrong atau meetup. Ini ingin memiliki usaha tempat nongkrong. Karena ia merasa tempat nongkrong di Kediri pilihannya terbatas.

Agar berbeda dengan tempat nongkrong lainnya. Atok dan Meilisa ini membuat konsep rumah makan yang kental dengan adat jawa. Dimana bagunannya ini berupa joglo ala Yogyakarta. Tidak hanya pada bangunan, namun juga makanannya juga.

Alasannya ingin tampil beda, karena mereka ingin agar masyarakat saat ini tidak melupakan budaya mereka. Salah satunya dari makanan. Karena selama ini kebanyakan cafe atau tempat makan untuk nongkrong ini menyediakan makanan kebarat-baratan.






Reporter: Habibaham Anisa Muktiara

Artikel Terkait

Mengapa Selingkar Wilis?

UAS dan Stigma

Most Read

Artikel Terbaru

/