23.3 C
Kediri
Wednesday, July 6, 2022

Solekan sang Motivator

Saya langsung teringat sosok ini ketika melihat foto di status Musikan, mantan striker Persedikab serta Persik. Terbayang pertemuan pertama saya dengan sang tokoh itu. Tempatnya di kantor Triple S, perusahaan milik pengusaha Sony Sandra yang saat itu adalah manajer Persedikab Kediri.

Sang tokoh, yang berperawakan tinggi, duduk di lobi. Menunggu waktu untuk bertemu dengan sang manajer. Kebetulan, saya juga punya kepentingan yang sama. Bertemu dengan pengusaha kontruksi yang juga mantan kiper Arseto Solo tersebut.

Kala itu, awal 2000, saya masih sangat baru menjadi wartawan. Belum ada satu tahun. Ketika bertemu langsung dengan Solekan, ada perasaan lain karena selama ini saya hanya melihat sepak terjang sang maestro bola itu dari koran dan televisi saja. Selain itu, Solekan adalah tokoh sepak bola nasional pertama yang saya wawancarai. Wajar bila kemudian tebersit perasaan bangga.

Solekan sendiri punya andil besar pada kebangkitan Persedikab. Pelatih inilah yang membawa Bledug Kelud kembali ke divisi utama dalam Liga Indonesia, kala itu disebut dengan Ligina. Setelah sempat terdegradasi beberapa musim berikutnya. Tepatnya, pada 2001, sang maestro membawa klub perserikatan yang dia latih tampil di jajaran papan atas sepak bola nasional. Dengan striker andalan, ya si Musikan itu. Ditopang oleh sang play maker, Surani. Juga ada nama Agus Susanto, pemain muda yang punya masa depan cerah saat itu. Selain Musikan, nama terakhir ini juga menjadi bagian skuad Persik ketika menjadi juara pada 2003.

Baca Juga :  Lebih dari Sebulan Kabur

Salah satu nilai lebih dari Om Lekan, demikian saya biasa menyapa beliau saat itu, adalah soal memberi semangat pemainnya. Om Lekan boleh dibilang seorang motivator ulung. Dia bisa tidak banyak bicara untuk memompa semangat timnya. Suatu saat, timnya tertinggal di babak pertama dalam pertandingan di Stadion Candabhirawa Pare, Kabupaten Kediri. Sayang, saya lupa siapa lawannya. Yang pasti, masih di level divisi I. Nah, pada babak kedua Bledug Kelud bisa mengejar dan akhirnya memenangkan pertandingan.

Saat saya tanya perkataan apa yang dia ucapkan untuk memotivasi timnya di waktu istirahat, Om Lekan hanya bilang singkat, “Saya hanya berbicara soal pertandingan tinju tadi malam. Saya ibaratkan mereka adalah petinju itu.” Wah!

 

Om Lekan sendiri tergolong keras dalam melatih pemain. Sikap disiplinnya itu mampu membentuk karakter tim ndesa yang melekat di Persedikab menjadi diperhitungkan lawan. Meskipun, saat itu, sebagai tim yang semenjana, Persedikab dilingkupi oleh serba terbatasnya fasilitas.  Di tangan dingin sang maestro, tim ndesa ini mampu dibawa ke jajaran klub divisi utama.

Bukti tangan dingin Solekan tak hanya dalam memoles Persedikab. Dia juga mampu membuat bangga warga +62 kala itu dengan Tim Nasional PSSI Garuda. Timnas Garuda mampu menorehkan hasil lumayan di tengah keringnya prestasi sepak bola Indonesia saat itu. Salah satu binaan Om Lekan di timnas Garuda adalah Bambang Sudrajat, pesepak bola asli Kabupaten Kediri.

Baca Juga :  Marketing Baliho

Di level klub, selain mengangkat Persedikab, Solekan juga pernah menaikkan Perseden Denpasar ke divisi utama. Dia juga pernah melatih Arseto Solo dan PSIS Semarang.

Setelah Solekan tak lagi menjadi pelatih, Persedikab masih sering kedatangan pelatih bertalenta tinggi dan punya level sebagai mantan pemain nasional. Sebut saja Andi Lala, Freddy Mulli, hingga Tony Ho saat ini. Namun, nama Solekan benar-benar sangat terpatri di benak publik sepak bola Kediri, terutama para pemain yang pernah merasakan sentuhan midas-nya.

Kini, mayoritas pelatih-pelatih itu sudah tinggal nama. Baik Solekan maupun Andi Lala sudah menemui Sang Khalik. Namun, warisan nama besar seharusnya bisa menjadi modal bagi Persedikab saat ini untuk kembali berprestasi di kancah nasional. Senyampang masih ada peluang untuk lolos divisi 1, pantang untuk dilewatkan begitu saja. Tentu saja, itu sangat bergantung pada semangat dan motivasi seluruh elemen tim. Yang perlu diingat, Persedikab sudah punya bekal sejarah sebagai salah satu tim yang mewarnai sepak bola tanah air. Bekal itu harus digunakan untuk menghadapi lawan terakhir di Grup M nanti sore. Kapan lagi Persedikab bisa kembali ke level nasional bila tidak sekarang. Ayo, maju terus Bledug Kelud. (*)

- Advertisement -

Saya langsung teringat sosok ini ketika melihat foto di status Musikan, mantan striker Persedikab serta Persik. Terbayang pertemuan pertama saya dengan sang tokoh itu. Tempatnya di kantor Triple S, perusahaan milik pengusaha Sony Sandra yang saat itu adalah manajer Persedikab Kediri.

Sang tokoh, yang berperawakan tinggi, duduk di lobi. Menunggu waktu untuk bertemu dengan sang manajer. Kebetulan, saya juga punya kepentingan yang sama. Bertemu dengan pengusaha kontruksi yang juga mantan kiper Arseto Solo tersebut.

Kala itu, awal 2000, saya masih sangat baru menjadi wartawan. Belum ada satu tahun. Ketika bertemu langsung dengan Solekan, ada perasaan lain karena selama ini saya hanya melihat sepak terjang sang maestro bola itu dari koran dan televisi saja. Selain itu, Solekan adalah tokoh sepak bola nasional pertama yang saya wawancarai. Wajar bila kemudian tebersit perasaan bangga.

Solekan sendiri punya andil besar pada kebangkitan Persedikab. Pelatih inilah yang membawa Bledug Kelud kembali ke divisi utama dalam Liga Indonesia, kala itu disebut dengan Ligina. Setelah sempat terdegradasi beberapa musim berikutnya. Tepatnya, pada 2001, sang maestro membawa klub perserikatan yang dia latih tampil di jajaran papan atas sepak bola nasional. Dengan striker andalan, ya si Musikan itu. Ditopang oleh sang play maker, Surani. Juga ada nama Agus Susanto, pemain muda yang punya masa depan cerah saat itu. Selain Musikan, nama terakhir ini juga menjadi bagian skuad Persik ketika menjadi juara pada 2003.

Baca Juga :  Marketing Baliho

Salah satu nilai lebih dari Om Lekan, demikian saya biasa menyapa beliau saat itu, adalah soal memberi semangat pemainnya. Om Lekan boleh dibilang seorang motivator ulung. Dia bisa tidak banyak bicara untuk memompa semangat timnya. Suatu saat, timnya tertinggal di babak pertama dalam pertandingan di Stadion Candabhirawa Pare, Kabupaten Kediri. Sayang, saya lupa siapa lawannya. Yang pasti, masih di level divisi I. Nah, pada babak kedua Bledug Kelud bisa mengejar dan akhirnya memenangkan pertandingan.

Saat saya tanya perkataan apa yang dia ucapkan untuk memotivasi timnya di waktu istirahat, Om Lekan hanya bilang singkat, “Saya hanya berbicara soal pertandingan tinju tadi malam. Saya ibaratkan mereka adalah petinju itu.” Wah!

 

Om Lekan sendiri tergolong keras dalam melatih pemain. Sikap disiplinnya itu mampu membentuk karakter tim ndesa yang melekat di Persedikab menjadi diperhitungkan lawan. Meskipun, saat itu, sebagai tim yang semenjana, Persedikab dilingkupi oleh serba terbatasnya fasilitas.  Di tangan dingin sang maestro, tim ndesa ini mampu dibawa ke jajaran klub divisi utama.

Bukti tangan dingin Solekan tak hanya dalam memoles Persedikab. Dia juga mampu membuat bangga warga +62 kala itu dengan Tim Nasional PSSI Garuda. Timnas Garuda mampu menorehkan hasil lumayan di tengah keringnya prestasi sepak bola Indonesia saat itu. Salah satu binaan Om Lekan di timnas Garuda adalah Bambang Sudrajat, pesepak bola asli Kabupaten Kediri.

Baca Juga :  Bulan Mustajab, Minta Allah Hilangkan Wabah

Di level klub, selain mengangkat Persedikab, Solekan juga pernah menaikkan Perseden Denpasar ke divisi utama. Dia juga pernah melatih Arseto Solo dan PSIS Semarang.

Setelah Solekan tak lagi menjadi pelatih, Persedikab masih sering kedatangan pelatih bertalenta tinggi dan punya level sebagai mantan pemain nasional. Sebut saja Andi Lala, Freddy Mulli, hingga Tony Ho saat ini. Namun, nama Solekan benar-benar sangat terpatri di benak publik sepak bola Kediri, terutama para pemain yang pernah merasakan sentuhan midas-nya.

Kini, mayoritas pelatih-pelatih itu sudah tinggal nama. Baik Solekan maupun Andi Lala sudah menemui Sang Khalik. Namun, warisan nama besar seharusnya bisa menjadi modal bagi Persedikab saat ini untuk kembali berprestasi di kancah nasional. Senyampang masih ada peluang untuk lolos divisi 1, pantang untuk dilewatkan begitu saja. Tentu saja, itu sangat bergantung pada semangat dan motivasi seluruh elemen tim. Yang perlu diingat, Persedikab sudah punya bekal sejarah sebagai salah satu tim yang mewarnai sepak bola tanah air. Bekal itu harus digunakan untuk menghadapi lawan terakhir di Grup M nanti sore. Kapan lagi Persedikab bisa kembali ke level nasional bila tidak sekarang. Ayo, maju terus Bledug Kelud. (*)

Artikel Terkait

UAS dan Stigma

Kepala Daerah dan Donokrasi

Awal Ramadan Beda, Ikut Yang Mana?

Most Read


Artikel Terbaru

/