22.6 C
Kediri
Tuesday, June 28, 2022

Mayor Bismo (2)

“Untuk BKR Karesidenan Kediri dipimpin oleh Letkol. Soerachmad. Kapten Bismo diserahi tugas memimpin BKR bawah tanah atau intelijen”

 

Di Jakarta, pada tanggal 22 Agustus 1945, dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan (PPKI) diputuskan untuk segera membentuk beberapa kelengkapan negara. Salah satu kelengkapan itu adalah Badan Keamanan Rakyat (BKR). Badan ini dibentuk sebagai penjaga keamanan umum di seluruh daerah di bawah koordinasi Komite Nasional Indonesia (KNI) daerah masing-masing.

Pembentukan BKR di daerah Kediri sebagian besar diprakarsai oleh mantan anggota PETA. Sehingga struktur organisasinyapun masih menyerupai organisasi PETA. Untuk BKR Karesidenan Kediri dipimpin oleh Letkol. Soerachmad. Kapten Bismo diserahi tugas memimpin BKR bawah tanah atau intelijen.

Pada perkembangannya, di tahun 1947, Kapten Bismo diangkat menjadi Kepala I Staf Pertahanan Djawa Timur (SPDT) yang berkantor di Madiun. Sayangnya, pada 18 September 1948, terjadi Pemberontakan PKI di Madiun. Peristiwa itu dikenal dengan Madiun Affair.

 Sebagian besar perwira SPDT ditahan oleh kaum pemberontak. PKI menangkap Kolonel Marhadi, Letkol. Wijono, Kapten Bismo, Kapten Sidik Purwoko, dan Letda Tjoek Harsono.  Mereka ditangkap dan ditahan di markas Batalyon Mustofa Madiun.

Pada peristiwa itu, tidak sekadar sejumlah petinggi tentara yang ditangkap dan ditahan bahkan menjadi korban kekejaman PKI. Tetapi juga ada beberapa tokoh lagi yang ditangkap dari sejumlah tempat di Madiun. Bahkan Bupati Magetan waktu itu serta Kepala Kepolisian Ngawi Ajun Komisaris Barnadip serta Patih Madiun juga termasuk yang ditangkap dan ditahan.

Baca Juga :  Dor! Spesialis Curanmor Asal Bedali, Ngancar Terkapar

Setelah PKI merasa mampu menguasai Kota Madiun dan sekitarnya, maka pada tanggal 19 September 1948 pukul 10.00 WIB. mereka membentuk  Pemerintahan Front Nasional PKI yang diumumkan lewat RRI Madiun. Isi pengumuman tersebut antara lain adalah bahwa pemerintah daerah Madiun telah dipegang oleh rakyat dan berlaku pemerintahan Front Nasional.

Disusunlah kemudian struktur baru pemerintahan dengan sejumlah pejabat yang semuanya diangkat dari tokoh PKI dan para perwira militer yang memang sejak awal menjadi simpatisan PKI bahkan ikut memberontak. Mulai wali kota, bupati, residen, semua digantikan beberapa orang tokoh PKI. Demikian juga gubernur militer dipegang oleh Soemarsono. Sedang komandan militer Kota Madiun dipegang oleh Djokosoejono.

Beberapa hari setelah itu, tanpa diduga oleh PKI Madiun, datang serangan oleh sejumlah kesatuan tentara dari berbagai arah. Bahkan dari arah Gunung Wilis datang serangan Kompi Macan Kerah Kediri pimpinan Sampurno.

Mendapat serangan yang tidak terduga seperti itu, PKI menjadi panik serta marah. Pada tanggal 28 September 1948 pasukan PKI kalang kabut dan bergerak mundur menggiring semua tahanan sambil membantai para tahanan itu dengan keji. Mereka bersama-sama dibawa ke Desa Kresek dan Dungus.

Baca Juga :  20 Ribu Orang Masih Miskin

Di tengah hutan jati Kresek dan Dungus, para tahanan itu dibunuh. Ada yang dibunuh memakai senjata tajam semisal pedang dan celurit ada juga yang diberondong tembakan bersama-sama jatuh di lubang yang disiapkan dan kemudian ditimbun tanah sekenanya. Di antara yang ditembak di sejumlah lubang pembantaian Dungus tersebut adalah Kapten Bismo.

Jasa Kapten Bismo sangat besar dalam memimpin perjuangan mengusir penjajah Jepang dari bumi Kediri. Begitu pula ia sangat berjasa dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari pemberontakan PKI pimpinan Muso di Madiun. Namun tragis, sekalipun berhasil memimpin pengusiran Jepang yang menjajah bangsanya  tapi Bismo justru gugur dibantai bangsanya sendiri. Karena jasanya, setelah gugur di Madiun, kepada Kapten Bismo dianugerahkan pangkat setingkat di atasnya, yakni Mayor.

Kini, patung Mayor Bismo berdiri gagah di tengah alun-alun Kota Kediri. Patung itu diresmikan  oleh Mayjen Widjojo Soejono (Pangdam VIII Brawijaya) pada tanggal 17 Desember 1974. Terdapat kalimat yang pernah diucapkan oleh Mayor Bismo semasa hidupnya tertulis di bagian bawah terpisah dari patungnya. Bunyi tulisan itu adalah, Teruskan semangat perjuangan tahun 1945. Setiap detik tentukanlah nasib bangsa dan negara.

 

- Advertisement -

“Untuk BKR Karesidenan Kediri dipimpin oleh Letkol. Soerachmad. Kapten Bismo diserahi tugas memimpin BKR bawah tanah atau intelijen”

 

Di Jakarta, pada tanggal 22 Agustus 1945, dalam sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan (PPKI) diputuskan untuk segera membentuk beberapa kelengkapan negara. Salah satu kelengkapan itu adalah Badan Keamanan Rakyat (BKR). Badan ini dibentuk sebagai penjaga keamanan umum di seluruh daerah di bawah koordinasi Komite Nasional Indonesia (KNI) daerah masing-masing.

Pembentukan BKR di daerah Kediri sebagian besar diprakarsai oleh mantan anggota PETA. Sehingga struktur organisasinyapun masih menyerupai organisasi PETA. Untuk BKR Karesidenan Kediri dipimpin oleh Letkol. Soerachmad. Kapten Bismo diserahi tugas memimpin BKR bawah tanah atau intelijen.

Pada perkembangannya, di tahun 1947, Kapten Bismo diangkat menjadi Kepala I Staf Pertahanan Djawa Timur (SPDT) yang berkantor di Madiun. Sayangnya, pada 18 September 1948, terjadi Pemberontakan PKI di Madiun. Peristiwa itu dikenal dengan Madiun Affair.

 Sebagian besar perwira SPDT ditahan oleh kaum pemberontak. PKI menangkap Kolonel Marhadi, Letkol. Wijono, Kapten Bismo, Kapten Sidik Purwoko, dan Letda Tjoek Harsono.  Mereka ditangkap dan ditahan di markas Batalyon Mustofa Madiun.

Pada peristiwa itu, tidak sekadar sejumlah petinggi tentara yang ditangkap dan ditahan bahkan menjadi korban kekejaman PKI. Tetapi juga ada beberapa tokoh lagi yang ditangkap dari sejumlah tempat di Madiun. Bahkan Bupati Magetan waktu itu serta Kepala Kepolisian Ngawi Ajun Komisaris Barnadip serta Patih Madiun juga termasuk yang ditangkap dan ditahan.

Baca Juga :  Warga Gubeng Kertajaya - Surabaya Korban Tabrak Lari di Bangsongan

Setelah PKI merasa mampu menguasai Kota Madiun dan sekitarnya, maka pada tanggal 19 September 1948 pukul 10.00 WIB. mereka membentuk  Pemerintahan Front Nasional PKI yang diumumkan lewat RRI Madiun. Isi pengumuman tersebut antara lain adalah bahwa pemerintah daerah Madiun telah dipegang oleh rakyat dan berlaku pemerintahan Front Nasional.

Disusunlah kemudian struktur baru pemerintahan dengan sejumlah pejabat yang semuanya diangkat dari tokoh PKI dan para perwira militer yang memang sejak awal menjadi simpatisan PKI bahkan ikut memberontak. Mulai wali kota, bupati, residen, semua digantikan beberapa orang tokoh PKI. Demikian juga gubernur militer dipegang oleh Soemarsono. Sedang komandan militer Kota Madiun dipegang oleh Djokosoejono.

Beberapa hari setelah itu, tanpa diduga oleh PKI Madiun, datang serangan oleh sejumlah kesatuan tentara dari berbagai arah. Bahkan dari arah Gunung Wilis datang serangan Kompi Macan Kerah Kediri pimpinan Sampurno.

Mendapat serangan yang tidak terduga seperti itu, PKI menjadi panik serta marah. Pada tanggal 28 September 1948 pasukan PKI kalang kabut dan bergerak mundur menggiring semua tahanan sambil membantai para tahanan itu dengan keji. Mereka bersama-sama dibawa ke Desa Kresek dan Dungus.

Baca Juga :  Wakil Rakyat

Di tengah hutan jati Kresek dan Dungus, para tahanan itu dibunuh. Ada yang dibunuh memakai senjata tajam semisal pedang dan celurit ada juga yang diberondong tembakan bersama-sama jatuh di lubang yang disiapkan dan kemudian ditimbun tanah sekenanya. Di antara yang ditembak di sejumlah lubang pembantaian Dungus tersebut adalah Kapten Bismo.

Jasa Kapten Bismo sangat besar dalam memimpin perjuangan mengusir penjajah Jepang dari bumi Kediri. Begitu pula ia sangat berjasa dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia dari pemberontakan PKI pimpinan Muso di Madiun. Namun tragis, sekalipun berhasil memimpin pengusiran Jepang yang menjajah bangsanya  tapi Bismo justru gugur dibantai bangsanya sendiri. Karena jasanya, setelah gugur di Madiun, kepada Kapten Bismo dianugerahkan pangkat setingkat di atasnya, yakni Mayor.

Kini, patung Mayor Bismo berdiri gagah di tengah alun-alun Kota Kediri. Patung itu diresmikan  oleh Mayjen Widjojo Soejono (Pangdam VIII Brawijaya) pada tanggal 17 Desember 1974. Terdapat kalimat yang pernah diucapkan oleh Mayor Bismo semasa hidupnya tertulis di bagian bawah terpisah dari patungnya. Bunyi tulisan itu adalah, Teruskan semangat perjuangan tahun 1945. Setiap detik tentukanlah nasib bangsa dan negara.

 

Artikel Terkait

UAS dan Stigma

Kepala Daerah dan Donokrasi

Awal Ramadan Beda, Ikut Yang Mana?

Most Read


Artikel Terbaru

/