28.9 C
Kediri
Thursday, July 7, 2022

— Keweden —

Baru satu sruputan teh yang dilakukan Ndara Bei di waktu sahur dini hari itu ketika wajah bersungut Mbilung masuk ke ruang makan. Mulut si abdi setianya itu monyong, nyaris melebihi hidungnya yang memang tak bisa  disebut mancung itu. Pemandangan yang membuat sang bendara menjadi tak enak hati.

“Nyapo Lung, kok wajahmu kusut seperti umbahan kotor?” selidik sang bendara.

Mbilung tak menjawab. Hanya tangannya yang cekatan menyiapkan menu santap sahur masakan sang istri di meja makan. Membuat Ndara Bei kian heran. Tak biasanya si abdi irit bicara seperti itu.

Sambil tangannya menjemput sepotong ayam goreng Ndara Bei mengulang pertanyaannya. Kali ini segera dijawab oleh si abdi. Meskipun dengan wajah mbesengut.

“Itu si emake bocah-bocah Ndara..,” ada nada curhat di ucapan Mbilung.

“Masak saya nggak boleh merokok kesenengan saya. Padahal saya ini sudah ndak punya klangenan apa-apa kecuali merokok yang itu. Kalau disuruh merokok yang lain kan bibir saya belum terbiasa Ndara. Belum adaptrasi….,”

“Adaptasi!” Ndara Bei berusaha membenahi ucapan pating bletot dari abdinya itu.

“Eh iya, adaptasi Ndara.”

“Lha kenapa kok ndak boleh merokok kesukaanmu? Kamu disuruh berhenti merokok. Baguslah kalau itu,” selidik Ndara Bei.

“Merokok sih tetap boleh Ndara. Tapi disuruh ganti merek. Bukan yang biasa saya suka itu. Katanya rokok yang biasa saya isap mengandung korona….”

Kalimat terakhir Mbilung itu membuat sang bendara tersedak. Air teh yang diminumnya sedikit masuk ke hidung.

Baca Juga :  Mulur-Mungkret Wali Kota

Mbilung memang perokok kelas wahid. Meskipun kelas abdi tapi udutannya termasuk mentereng. Merek papan atas di tanah air. Rokok kretek papan atas produksi perusahaan rokok di Surabaya. Perusahaan itu  memang baru saja berhenti beroperasi untuk sementara waktu. Karena ada karyawannya yang dinyatakan positif Covid-19.

Setelah panas di  hidungnya mereda, Ndara Bei kembali buka suara. Mencoba menenangkan hati si abdinya itu. “Mungkin bojomu takut kalau rokoknya ada virusnya. Itu kan tanda sayang dan cintanya bojomu to Lung,” ucap Ndara Bei berusaha menenangkan.

“Ya ga bener itu Ndara. Apa Ndara ga baca berita? Info bahwa pabrik rokok itu menarik produknya karena terpapar itu kan hoaks to Ndara? Berita gak benar itu.”

“Ambil positifnya saja Lung, itu tanda istrimu masih sayang. Takut kamu terkena korona,” Ndara Bei masih belum menyerah untuk mendinginkan hati Mbilung.

“Itu namanya keweden Ndara. Dikit-dikit takut, dikit-dikit aja ngunu, aja ngene, sarwa repot akhirnya,” Mbilung masih membela kemarahannya. Sesaat kemudian dia berlalu. Keluar dari pintu belakang. Menuju rumah kecilnya yang berada di kebun belakang.

Sambil menunggu azan subuh, Ndara Bei duduk menyelonjorkan kaki di kursi panjang dari bambu di emper belakang. Sambil memandangi pondok kecil di kebunnya. Pondok itu ditempati oleh Mbilung dengan keluarganya. Seberkas cahaya temaram keluar dari jendela kecil yang masih terbuka.

Dalam diam Ndara Bei mencoba mereka ulang percakapannya dengan si abdi saat santap sahur tadi. Dia sadar ketakutan seperti itu bukan milik istri Mbilung seorang. Tapi sudah hampir menyebar. Mirip dengan wabah koronanya. Lebih repot lagi, ketakutan itu datang tanpa perlawanan. Diterima mentah-mentah oleh mereka.

Baca Juga :  Tetap Ceria di Rumah

Ndara Bei kemudian teringat lagi percakapannya dengan penjual makanan kering yang ditemui tadi siang. Yang mengeluh omzetnya turun drastis dalam beberapa hari ini. Banyak orderan yang tiba-tiba dibatalkan.

“Kenapa?” tanya Ndara Bei.

“Suami kakak saya kerja di pabrik rokok yang satu kelompok perusahaan dengan pabrik rokok yang karyawannya terkena korona Ndara,” terangnya sembari menawarkan makanan ringan untuk jajan riyaya.

“Padahal suami kakak saya tesnya negatif. Tapi orang-orang tetap saja takut. Minta dia untuk diisolasi di rumahnya. Tak boleh keluar,” ujarnya melanjutkan cerita.

“Lha kaitannya dengan jajanmu?” penasaran Ndara Bei mendengar cerita si penjual jajan riyaya.

“Yang membantu ndamel jajan niki kan kakak saya Ndara. Orang-orang pada takut jajan saya ada koronanya,” keluhnya.

Ndara Bei berdiam sambil menarik napas panjang. Kemudian melanjutkan pertanyaannya, “Tapi kakakmu eh, suami kakakmu kan tetap mengisolasi diri dulu sementara ini?”

“Ya iya Ndara. Tapi kalau siang ya tetep ngarit. Lha gimana, kerja sudah enggak. Trus, dari desa juga mboten angsal bantuan. Lha mau makan apa kalau tidak keluar rumah?”

Glodak. Ndara Bei tersentak. Bangun dari duduknya dan beranjak pergi ke langgar menyusul suara azan yang mengalun di kejauhan. (mahfud)

 

 

- Advertisement -

Baru satu sruputan teh yang dilakukan Ndara Bei di waktu sahur dini hari itu ketika wajah bersungut Mbilung masuk ke ruang makan. Mulut si abdi setianya itu monyong, nyaris melebihi hidungnya yang memang tak bisa  disebut mancung itu. Pemandangan yang membuat sang bendara menjadi tak enak hati.

“Nyapo Lung, kok wajahmu kusut seperti umbahan kotor?” selidik sang bendara.

Mbilung tak menjawab. Hanya tangannya yang cekatan menyiapkan menu santap sahur masakan sang istri di meja makan. Membuat Ndara Bei kian heran. Tak biasanya si abdi irit bicara seperti itu.

Sambil tangannya menjemput sepotong ayam goreng Ndara Bei mengulang pertanyaannya. Kali ini segera dijawab oleh si abdi. Meskipun dengan wajah mbesengut.

“Itu si emake bocah-bocah Ndara..,” ada nada curhat di ucapan Mbilung.

“Masak saya nggak boleh merokok kesenengan saya. Padahal saya ini sudah ndak punya klangenan apa-apa kecuali merokok yang itu. Kalau disuruh merokok yang lain kan bibir saya belum terbiasa Ndara. Belum adaptrasi….,”

“Adaptasi!” Ndara Bei berusaha membenahi ucapan pating bletot dari abdinya itu.

“Eh iya, adaptasi Ndara.”

“Lha kenapa kok ndak boleh merokok kesukaanmu? Kamu disuruh berhenti merokok. Baguslah kalau itu,” selidik Ndara Bei.

“Merokok sih tetap boleh Ndara. Tapi disuruh ganti merek. Bukan yang biasa saya suka itu. Katanya rokok yang biasa saya isap mengandung korona….”

Kalimat terakhir Mbilung itu membuat sang bendara tersedak. Air teh yang diminumnya sedikit masuk ke hidung.

Baca Juga :  Mulur-Mungkret Wali Kota

Mbilung memang perokok kelas wahid. Meskipun kelas abdi tapi udutannya termasuk mentereng. Merek papan atas di tanah air. Rokok kretek papan atas produksi perusahaan rokok di Surabaya. Perusahaan itu  memang baru saja berhenti beroperasi untuk sementara waktu. Karena ada karyawannya yang dinyatakan positif Covid-19.

Setelah panas di  hidungnya mereda, Ndara Bei kembali buka suara. Mencoba menenangkan hati si abdinya itu. “Mungkin bojomu takut kalau rokoknya ada virusnya. Itu kan tanda sayang dan cintanya bojomu to Lung,” ucap Ndara Bei berusaha menenangkan.

“Ya ga bener itu Ndara. Apa Ndara ga baca berita? Info bahwa pabrik rokok itu menarik produknya karena terpapar itu kan hoaks to Ndara? Berita gak benar itu.”

“Ambil positifnya saja Lung, itu tanda istrimu masih sayang. Takut kamu terkena korona,” Ndara Bei masih belum menyerah untuk mendinginkan hati Mbilung.

“Itu namanya keweden Ndara. Dikit-dikit takut, dikit-dikit aja ngunu, aja ngene, sarwa repot akhirnya,” Mbilung masih membela kemarahannya. Sesaat kemudian dia berlalu. Keluar dari pintu belakang. Menuju rumah kecilnya yang berada di kebun belakang.

Sambil menunggu azan subuh, Ndara Bei duduk menyelonjorkan kaki di kursi panjang dari bambu di emper belakang. Sambil memandangi pondok kecil di kebunnya. Pondok itu ditempati oleh Mbilung dengan keluarganya. Seberkas cahaya temaram keluar dari jendela kecil yang masih terbuka.

Dalam diam Ndara Bei mencoba mereka ulang percakapannya dengan si abdi saat santap sahur tadi. Dia sadar ketakutan seperti itu bukan milik istri Mbilung seorang. Tapi sudah hampir menyebar. Mirip dengan wabah koronanya. Lebih repot lagi, ketakutan itu datang tanpa perlawanan. Diterima mentah-mentah oleh mereka.

Baca Juga :  Selamat Memimpin

Ndara Bei kemudian teringat lagi percakapannya dengan penjual makanan kering yang ditemui tadi siang. Yang mengeluh omzetnya turun drastis dalam beberapa hari ini. Banyak orderan yang tiba-tiba dibatalkan.

“Kenapa?” tanya Ndara Bei.

“Suami kakak saya kerja di pabrik rokok yang satu kelompok perusahaan dengan pabrik rokok yang karyawannya terkena korona Ndara,” terangnya sembari menawarkan makanan ringan untuk jajan riyaya.

“Padahal suami kakak saya tesnya negatif. Tapi orang-orang tetap saja takut. Minta dia untuk diisolasi di rumahnya. Tak boleh keluar,” ujarnya melanjutkan cerita.

“Lha kaitannya dengan jajanmu?” penasaran Ndara Bei mendengar cerita si penjual jajan riyaya.

“Yang membantu ndamel jajan niki kan kakak saya Ndara. Orang-orang pada takut jajan saya ada koronanya,” keluhnya.

Ndara Bei berdiam sambil menarik napas panjang. Kemudian melanjutkan pertanyaannya, “Tapi kakakmu eh, suami kakakmu kan tetap mengisolasi diri dulu sementara ini?”

“Ya iya Ndara. Tapi kalau siang ya tetep ngarit. Lha gimana, kerja sudah enggak. Trus, dari desa juga mboten angsal bantuan. Lha mau makan apa kalau tidak keluar rumah?”

Glodak. Ndara Bei tersentak. Bangun dari duduknya dan beranjak pergi ke langgar menyusul suara azan yang mengalun di kejauhan. (mahfud)

 

 

Artikel Terkait

UAS dan Stigma

Kepala Daerah dan Donokrasi

Most Read


Artikel Terbaru

/