25.3 C
Kediri
Saturday, January 28, 2023

Risi Lihat Anak Usia Dini Kecanduan Gadget

- Advertisement -

Kecanggihan teknologi gawai kerap membawa dampak buruk bagi anak. Problem itu rupanya menjadi ide Heli Marlina ketika audisi Duta Bahasa, Mei 2022 lalu. Dia tergerak membuat buku bergambar untuk anak-anak.

 

Perkembangan teknologi seperti pisau bermata dua. Bisa digunakan untuk memotong buah dan sayuran. Tapi, jika salah memanfaatkannya bisa melukai. Begitu pula dengan kecanggihan teknologi yang kini diwakili gawai. Keberadaannya kerap membawa dampak buruk bagi anak-anak.

Problem itulah yang jadi ide Heli Marlina ketika audisi Duta Bahasa pada Mei 2022. Tinggal di lingkungan yang banyak anak-anak, membuat gadis 23 tahun itu tergerak membuat buku bergambar yang mengenalkan anak-anak pada nama-nama benda. “Ada dua seri buku bergambar yang saya jadikan presentasi ketika audisi,” kata mahasiswa Universitas Jember yang tinggal di Kelurahan Balowerti, Kecamatan Kota Kediri tersebut.

Isi bukunya lebih banyak tentang pengenalan benda-benda yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Di buku itu, Heli Marlina atau akrab disapa Alin menulis tiga bahasa. Yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Inggris. “Ini sesuai slogan yang dipopulerkan Badan Pengembangan dan Pembina Bahasa,” ungkap gadis berambut panjang itu.

Baca Juga :  Ingat Anak, Anita Terdakwa Kasus Narkoba Langsung Menangis
- Advertisement -

Bahasa Indonesia tetap menjadi prioritas sembari melestarikan bahasa daerah dan menguasai bahasa asing. Karena itu, buku yang dibuat khusus menyasar anak-anak usia dini yang rasa ingin tahunya sangat tinggi. “Lewat buku bergambar, anak-anak bisa melatih bahasa dengan cara bermain tebak-tebakan,” kata Alin.

Menurutnya, permainan kata itu bisa mengalihkan anak-anak dari gadget. Mahasiswa jurusan hubungan internasional itu merasa risi saat melihat anak-anak usia dini kecanduan gawai. Alin menganggap anak muda seperti dirinya harus pula punya tanggungjawab pada perkembangan anak.

“Mungkin karena saya juga suka dengan anak-anak jadi tergerak ketika melihat anak yang kecanduan gadget,” ucap runner up Panji Galuh Kota Kediri itu.

Sebagai top 5 Duta Bahasa Jatim, Alin menyadari pentingnya menanamkan bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada anak sejak dini. Dia tidak ingin generasi mendatang lebih suka mengunggulkan bahasa asing daripada bahasa nasional. Salah satu contoh yang perlu diubah mulai dari yang terkecil adalah penggunaan nama di tempat publik.

Baca Juga :  Inovasi, Upaya Menciptakan Solusi

Misalnya tulisan di kantor, hotel, maupun tempat wisata. Alin mengaku, masih sering menjumpai tulisan bahasa asing lebih besar dari bahasa Indonesia. Seperti di kamar mandi, tulisan untuk perempuan dan laki-laki menggunakan kata gens dan ladies atau men dan women. Menurutnya, contoh penggunaan bahasa asing itu bisa menurunkan nilai bahasa Indonesia.

“Sekarang tulisan bahasa Indonesia yang besar dan bahasa asingnya kecil,” ucap gadis yang kini juga mengambil Jurusan Hukum di Universitas Kadiri (Unik) Kediri itu. Alin pun mulai mempopulerkan itu dari lingkungan terkecilnya. Harapannya nanti bisa meluas ke semua tempat.






Reporter: rekian
- Advertisement -

Kecanggihan teknologi gawai kerap membawa dampak buruk bagi anak. Problem itu rupanya menjadi ide Heli Marlina ketika audisi Duta Bahasa, Mei 2022 lalu. Dia tergerak membuat buku bergambar untuk anak-anak.

 

Perkembangan teknologi seperti pisau bermata dua. Bisa digunakan untuk memotong buah dan sayuran. Tapi, jika salah memanfaatkannya bisa melukai. Begitu pula dengan kecanggihan teknologi yang kini diwakili gawai. Keberadaannya kerap membawa dampak buruk bagi anak-anak.

Problem itulah yang jadi ide Heli Marlina ketika audisi Duta Bahasa pada Mei 2022. Tinggal di lingkungan yang banyak anak-anak, membuat gadis 23 tahun itu tergerak membuat buku bergambar yang mengenalkan anak-anak pada nama-nama benda. “Ada dua seri buku bergambar yang saya jadikan presentasi ketika audisi,” kata mahasiswa Universitas Jember yang tinggal di Kelurahan Balowerti, Kecamatan Kota Kediri tersebut.

Isi bukunya lebih banyak tentang pengenalan benda-benda yang dekat dengan kehidupan anak-anak. Di buku itu, Heli Marlina atau akrab disapa Alin menulis tiga bahasa. Yakni bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan bahasa Inggris. “Ini sesuai slogan yang dipopulerkan Badan Pengembangan dan Pembina Bahasa,” ungkap gadis berambut panjang itu.

Baca Juga :  Pemimpin SUPERIOR, Siapa Kau?

Bahasa Indonesia tetap menjadi prioritas sembari melestarikan bahasa daerah dan menguasai bahasa asing. Karena itu, buku yang dibuat khusus menyasar anak-anak usia dini yang rasa ingin tahunya sangat tinggi. “Lewat buku bergambar, anak-anak bisa melatih bahasa dengan cara bermain tebak-tebakan,” kata Alin.

Menurutnya, permainan kata itu bisa mengalihkan anak-anak dari gadget. Mahasiswa jurusan hubungan internasional itu merasa risi saat melihat anak-anak usia dini kecanduan gawai. Alin menganggap anak muda seperti dirinya harus pula punya tanggungjawab pada perkembangan anak.

“Mungkin karena saya juga suka dengan anak-anak jadi tergerak ketika melihat anak yang kecanduan gadget,” ucap runner up Panji Galuh Kota Kediri itu.

Sebagai top 5 Duta Bahasa Jatim, Alin menyadari pentingnya menanamkan bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada anak sejak dini. Dia tidak ingin generasi mendatang lebih suka mengunggulkan bahasa asing daripada bahasa nasional. Salah satu contoh yang perlu diubah mulai dari yang terkecil adalah penggunaan nama di tempat publik.

Baca Juga :  Perserikatan, Galatama, dan Galatawa

Misalnya tulisan di kantor, hotel, maupun tempat wisata. Alin mengaku, masih sering menjumpai tulisan bahasa asing lebih besar dari bahasa Indonesia. Seperti di kamar mandi, tulisan untuk perempuan dan laki-laki menggunakan kata gens dan ladies atau men dan women. Menurutnya, contoh penggunaan bahasa asing itu bisa menurunkan nilai bahasa Indonesia.

“Sekarang tulisan bahasa Indonesia yang besar dan bahasa asingnya kecil,” ucap gadis yang kini juga mengambil Jurusan Hukum di Universitas Kadiri (Unik) Kediri itu. Alin pun mulai mempopulerkan itu dari lingkungan terkecilnya. Harapannya nanti bisa meluas ke semua tempat.






Reporter: rekian

Artikel Terkait

Liburan Jadi Ajang Cari Ide Bisnis

Mengapa Selingkar Wilis?

UAS dan Stigma

Most Read


Artikel Terbaru

/