24.2 C
Kediri
Saturday, July 2, 2022

Squid Game

Jika Anda penikmat film-film Netflix, mungkin Anda sudah menyaksikan “Squid Game”. Film Korea yang rilis sejak 17 September 2021 itu, kini sukses menempati urutan pertama, dari 10 film teratas di Netflix Amerika Serikat. Di Indonesia juga sama. Warganet di sini sekarang sedang demam “Squid Game”, mulai di Twitter, Instagram,  hingga TikTok.

Film ini menarik, bukan hanya dari kekuatan para tokoh yang berakting apik. Tetapi plot dan alur ceritanya juga bikin penonton untuk terus nonton, hingga berepisode-episode. 

Squid Game menceritakan tentang sekelompok orang yang rata-rata terlilit utang, mempertaruhkan nyawa mereka dalam berbagai permainan anak-anak, demi mendapatkan uang miliaran. Ada human interest-nya, ada proximity-nya, juga ada ketegangannya. Sehingga asyik untuk disaksikan. 

Menyaksikan Squid Game, saya teringat dengan Buku “The Marketing Game” yang ditulis oleh Eric Schulz. Eric yang pernah bekerja sebagai direktur di Coca-Cola dan juga Procter & Gamble serta The Walt Disney Company ini menulis, bahwa strategi sebuah permainan olahraga biasanya dapat diaplikasikan dimana saja, dan ke dalam tim mana saja. Yang terpenting adalah penguasaan permainan itu. Ini yang sering dilupakan. Yaitu, semangat learning the game. 

Baca Juga :  Kondisi TRAL di Nganjuk Mengenaskan: Perahu Rusak, Badan Rusa Kurus

Pada Film Squid Game, banyak peserta yang tereliminasi ketika baru mengikuti permainan pertama.  Mereka tak hanya tereliminasi. Tapi mereka juga mati. Itu karena mereka tak menguasai permainan, dan tak punya semangat learning the game.  

Orang yang punya semangat learning the game, pasti akan menemukan strategi untuk menang. Rob Grant menulis dalam bukunya “Contemporary Strategy Analysis”, bahwa strategi itu sama dengan kemenangan. Tak ada kemenangan dalam sebuah permainan, tanpa adanya strategi. 

Jack Trout dalam bukunya “Trout on Strategy” menulis bahwa inti dari strategi adalah bertahan hidup, persepsi, menjadi berbeda, persaingan, spesialisasi, kesederhanaan, kepemimpinan, dan realitas. 

Menggunakan strategi yang baik adalah bagaimana bertahan hidup dalam dunia kompetitif. Kunci sukses adalah memahami dasar-dasar bisnis. Dasar bisnis nomor satu adalah merancang dan mempertahankan strategi yang jelas dan terfokus. 

Baca Juga :  Kepala Daerah = Marketer

Di dalam bisnis, butuh strategi untuk dapat mencapai target kesuksesan. Oleh karena itu, jeli dalam mengatur strategi dalam melangkah dan mengambil keputusan juga sangat berperan di dalam keberhasilan. 

Jadi, dalam permainan marketing, jika ingin menang dari kompetitor, kuasai permainan, dan belajarlah dari permainan itu hingga menghasilkan strategi yang jitu. Maka, kesuksesan akan dapat diraih. (*)

- Advertisement -

Jika Anda penikmat film-film Netflix, mungkin Anda sudah menyaksikan “Squid Game”. Film Korea yang rilis sejak 17 September 2021 itu, kini sukses menempati urutan pertama, dari 10 film teratas di Netflix Amerika Serikat. Di Indonesia juga sama. Warganet di sini sekarang sedang demam “Squid Game”, mulai di Twitter, Instagram,  hingga TikTok.

Film ini menarik, bukan hanya dari kekuatan para tokoh yang berakting apik. Tetapi plot dan alur ceritanya juga bikin penonton untuk terus nonton, hingga berepisode-episode. 

Squid Game menceritakan tentang sekelompok orang yang rata-rata terlilit utang, mempertaruhkan nyawa mereka dalam berbagai permainan anak-anak, demi mendapatkan uang miliaran. Ada human interest-nya, ada proximity-nya, juga ada ketegangannya. Sehingga asyik untuk disaksikan. 

Menyaksikan Squid Game, saya teringat dengan Buku “The Marketing Game” yang ditulis oleh Eric Schulz. Eric yang pernah bekerja sebagai direktur di Coca-Cola dan juga Procter & Gamble serta The Walt Disney Company ini menulis, bahwa strategi sebuah permainan olahraga biasanya dapat diaplikasikan dimana saja, dan ke dalam tim mana saja. Yang terpenting adalah penguasaan permainan itu. Ini yang sering dilupakan. Yaitu, semangat learning the game. 

Baca Juga :  - Talk Show -

Pada Film Squid Game, banyak peserta yang tereliminasi ketika baru mengikuti permainan pertama.  Mereka tak hanya tereliminasi. Tapi mereka juga mati. Itu karena mereka tak menguasai permainan, dan tak punya semangat learning the game.  

Orang yang punya semangat learning the game, pasti akan menemukan strategi untuk menang. Rob Grant menulis dalam bukunya “Contemporary Strategy Analysis”, bahwa strategi itu sama dengan kemenangan. Tak ada kemenangan dalam sebuah permainan, tanpa adanya strategi. 

Jack Trout dalam bukunya “Trout on Strategy” menulis bahwa inti dari strategi adalah bertahan hidup, persepsi, menjadi berbeda, persaingan, spesialisasi, kesederhanaan, kepemimpinan, dan realitas. 

Menggunakan strategi yang baik adalah bagaimana bertahan hidup dalam dunia kompetitif. Kunci sukses adalah memahami dasar-dasar bisnis. Dasar bisnis nomor satu adalah merancang dan mempertahankan strategi yang jelas dan terfokus. 

Baca Juga :  Menunggu Ending ‘Jembatan Brawijaya’

Di dalam bisnis, butuh strategi untuk dapat mencapai target kesuksesan. Oleh karena itu, jeli dalam mengatur strategi dalam melangkah dan mengambil keputusan juga sangat berperan di dalam keberhasilan. 

Jadi, dalam permainan marketing, jika ingin menang dari kompetitor, kuasai permainan, dan belajarlah dari permainan itu hingga menghasilkan strategi yang jitu. Maka, kesuksesan akan dapat diraih. (*)

Artikel Terkait

UAS dan Stigma

Kepala Daerah dan Donokrasi

Awal Ramadan Beda, Ikut Yang Mana?

Most Read


Artikel Terbaru

/