24 C
Kediri
Tuesday, July 5, 2022

CATATAN AWAL PEKAN
Oleh: Kurniawan Muhammad

Kisah (Inspiratif) sang Raja Dimsum

Awalnya Muhammad Kautsar adalah penjual siomay keliling. Dan juga membantu ibunya membuka lapak kaki lima di pasar. Kini, dia menjadi pengusaha sukses, di usia yang masih relatif muda: 29 tahun. Dia punya dua pabrik dimsum, yang mampu memproduksi sedikitnya 35 varian. Saya menjulukinya: Raja Dimsum Indonesia. Karena setahu saya, belum ada pabrik dimsum di Indonesia yang bikin varian sebanyak itu.

Minggu lalu saya mengunjungi pabriknya di kawasan Bekasi. Diajak mencicipi varian-varian dimsum produksinya. Enak. Gurih. Dan tidak “eneg”.

Perjuangan Kautsar dalam menapaki kesuksesannya, tidaklah mudah. Kisahnya sangat inspiratif.

Kautsar adalah bungsu dari tujuh bersaudara. Keluarganya sangat sederhana. Saat lulus dari SMA, dia lebih memilih untuk tidak melanjutkan kuliah. Karena ketika itu, kakak-kakaknya masih kuliah. “Kalau saya minta kuliah, kasihan orang tua saya. Terlalu berat bebannya,” katanya.

Maka, Kautsar lebih memilih bekerja, membantu ibunya berjualan di pasar, sambil berdagang siomay keliling. Berjualan siomay keliling benar-benar dia tekuni. Dia pelajari bagaimana bikin siomay yang enak dan disukai pelanggan. Dia juga pelajari siapa saja para pembeli dan pelanggannya.

Dia sempat bekerja sama dengan salah seorang temannya untuk membesarkan jualan siomay-nya. Tapi, di tengah jalan pupus, karena dia merasa tidak cocok lagi dengan partnernya itu. Maka, Kautsar lebih memilih menekuni bisnisnya sendiri.

Dari hasil survey-nya terhadap pasar, ternyata dia mendapati kenyataan bahwa pembeli siomay-nya banyak yang suka dengan dimsum. Dia saat itu mengamati, dimsum adalah jenis makanan ringan yang termasuk banyak disukai di market place. Maka, sejak saat itu, Kautsar mempelajari tentang dimsum. Mulai dari mempelajari cara bikinnya, mempelajari apa saja kelemahan dari dimsum yang sudah ada, hingga mempelajari bahan-bahan apa saja yang sebaiknya digunakan untuk membuat dimsum.

Mulailah Kautsar memproduksi dimsum. Dia bertekad, dimsum produksinya harus lebih baik, dari segi harga maupun rasa, ketimbang dimsum-dimsum yang sudah ada.

Baca Juga :  Para Pemenang Pemuda Inspiratif Audisi Kediri (1)

Berbagai eksperimen pun dia lakukan. Kegagalan demi kegagalan pernah dia alami. Tapi, dari kegagalan itulah dia banyak mendapat pelajaran. Tak sampai lima tahun menekuni usaha dimsum, akhirnya Kautsar berhasil menemukan jalannya. Usaha dimsumnya terus berkembang. Hingga akhirnya mampu membangun dua pabrik. Kabarnya, dia saat ini sedang menjajaki  membangun satu pabrik lagi untuk memperluas jangkauan pasarnya. Saat ini, dimsum produksi Kautsar masih banyak beredar di kawasan Jabodetabek, Bandung, Bogor, dan sekitarnya. Dia punya ribuan reseller dan puluhan agen. Dan omsetnya, mencapai miliaran rupiah per bulan.

Dimsum produksi Kautsar diberi nama: Dimsum 49. Angka 49 dipilih, terinspirasi dari Alquran surat ke- 4 (An Nisa’) ayat ke-9: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraannya). Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”.

Kautsar memang dilahirkan dari keluarga yang sangat religius. Sekolahnya mulai dari SD hingga SMA, di sekolah Islam. Makanya, dalam memberikan nama untuk dimsum-nya, Kautsar terinspirasi dari Alquran. Dan surat ke-4 ayat ke-9 itulah yang menjadi jiwa dalam dia mengembangkan bisnisnya. Inti dari ayat itu adalah kewajiban untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah. Dan ayat inilah yang agaknya memotivasi Kautsar untuk terus memacu dan mengembangkan bisnisnya hingga bisa seperti sekarang ini.

Helmy Yahya pernah memuji bisnis dimsum Kautsar yang menurutnya tergolong cepat berkembang itu. Dahlan Iskan juga kagum dengan capaian Kautsar, ketika keduanya pernah saya undang dalam sebuah seminar bisnis di Malang. Saya sendiri salut dengan sosok Kautsar. Dia sangat ramah. Humble. Dan terbuka untuk diajak berdiskusi dengan siapa saja. Bahwa Kautsar bisa meraih kesuksesannya itu, menurut saya, salah satunya karena ridha dari orang tuanya, wabil khusus ibunya.

Baca Juga :  Kepala Daerah dan Donokrasi

Kautsar ikhlas untuk tidak melanjutkan kuliah, ketika dia tamat SMA. Padahal, saat itu kakak-kakaknya semuanya kuliah. Tapi, Kautsar lebih memilih untuk bekerja membantu ibunya. Dia tidak egois. Dia tidak mau memberati beban orang tuanya yang sudah mati-matian membiayai kakak-kakaknya kuliah. Jujur, saya trenyuh dengan kisah Kautsar ini. Saya sempat membayangkan jika saya dalam posisi Kautsar. Tanpa saya sadari, kedua mata saya berkaca-kaca.

Jadi, ridha dari ibunya, menurut saya menjadi kekuatan dahsyat yang mendorong kemajuan bisnis Kautsar. Selain ketekunan dan kerja kerasnya. Kautsar mendapat ridha dari ibunya, karena dia sangat berbakti kepada orang tuanya, khususnya kepada ibunya.

Li Ka-Shing, salah satu dari 30 orang terkaya di dunia, pernah mengatakan: Ada tiga investasi yang kalau itu dilakukan, maka akan mendapatkan reward terus-menerus. Pertama, investasi dalam beramal. Dan ini dilakukan Li Ka-Shing. Selain dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia, dia juga pemilik sebuah yayasan amal terbesar kedua setelah yayasan amal milik Melinda Gates (isteri Bill Gates). Kedua, investasi dalam bentuk belajar. Li Ka-Shing bisa meraih sukses, karena dia tidak pernah berhenti belajar, meski dia sekolahnya hanya drop out dari SMA. Ketiga, investasi berbakti. Harus ingat dengan jasa orang tua, dan harus berbakti kepadanya. Orang yang sukses, rata-rata punya hubungan yang baik dengan kedua orang tuanya. Li Ka-Shing ketika mulai bekerja di usia 17 tahun, 90 persen dari gaji pertamanya dia berikan untuk ibunya. Dan ketika dia sukses, dia muliakan kedua orang tuanya.

Dan ini pula yang dilakukan Kautsar. Berbakti kepada orang tua, dan memuliakan orang tua, adalah pangkal dalam meraih kesuksesan. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

- Advertisement -

Awalnya Muhammad Kautsar adalah penjual siomay keliling. Dan juga membantu ibunya membuka lapak kaki lima di pasar. Kini, dia menjadi pengusaha sukses, di usia yang masih relatif muda: 29 tahun. Dia punya dua pabrik dimsum, yang mampu memproduksi sedikitnya 35 varian. Saya menjulukinya: Raja Dimsum Indonesia. Karena setahu saya, belum ada pabrik dimsum di Indonesia yang bikin varian sebanyak itu.

Minggu lalu saya mengunjungi pabriknya di kawasan Bekasi. Diajak mencicipi varian-varian dimsum produksinya. Enak. Gurih. Dan tidak “eneg”.

Perjuangan Kautsar dalam menapaki kesuksesannya, tidaklah mudah. Kisahnya sangat inspiratif.

Kautsar adalah bungsu dari tujuh bersaudara. Keluarganya sangat sederhana. Saat lulus dari SMA, dia lebih memilih untuk tidak melanjutkan kuliah. Karena ketika itu, kakak-kakaknya masih kuliah. “Kalau saya minta kuliah, kasihan orang tua saya. Terlalu berat bebannya,” katanya.

Maka, Kautsar lebih memilih bekerja, membantu ibunya berjualan di pasar, sambil berdagang siomay keliling. Berjualan siomay keliling benar-benar dia tekuni. Dia pelajari bagaimana bikin siomay yang enak dan disukai pelanggan. Dia juga pelajari siapa saja para pembeli dan pelanggannya.

Dia sempat bekerja sama dengan salah seorang temannya untuk membesarkan jualan siomay-nya. Tapi, di tengah jalan pupus, karena dia merasa tidak cocok lagi dengan partnernya itu. Maka, Kautsar lebih memilih menekuni bisnisnya sendiri.

Dari hasil survey-nya terhadap pasar, ternyata dia mendapati kenyataan bahwa pembeli siomay-nya banyak yang suka dengan dimsum. Dia saat itu mengamati, dimsum adalah jenis makanan ringan yang termasuk banyak disukai di market place. Maka, sejak saat itu, Kautsar mempelajari tentang dimsum. Mulai dari mempelajari cara bikinnya, mempelajari apa saja kelemahan dari dimsum yang sudah ada, hingga mempelajari bahan-bahan apa saja yang sebaiknya digunakan untuk membuat dimsum.

Mulailah Kautsar memproduksi dimsum. Dia bertekad, dimsum produksinya harus lebih baik, dari segi harga maupun rasa, ketimbang dimsum-dimsum yang sudah ada.

Baca Juga :  Kisah Inspiratif dari Kajari Nganjuk

Berbagai eksperimen pun dia lakukan. Kegagalan demi kegagalan pernah dia alami. Tapi, dari kegagalan itulah dia banyak mendapat pelajaran. Tak sampai lima tahun menekuni usaha dimsum, akhirnya Kautsar berhasil menemukan jalannya. Usaha dimsumnya terus berkembang. Hingga akhirnya mampu membangun dua pabrik. Kabarnya, dia saat ini sedang menjajaki  membangun satu pabrik lagi untuk memperluas jangkauan pasarnya. Saat ini, dimsum produksi Kautsar masih banyak beredar di kawasan Jabodetabek, Bandung, Bogor, dan sekitarnya. Dia punya ribuan reseller dan puluhan agen. Dan omsetnya, mencapai miliaran rupiah per bulan.

Dimsum produksi Kautsar diberi nama: Dimsum 49. Angka 49 dipilih, terinspirasi dari Alquran surat ke- 4 (An Nisa’) ayat ke-9: “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraannya). Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”.

Kautsar memang dilahirkan dari keluarga yang sangat religius. Sekolahnya mulai dari SD hingga SMA, di sekolah Islam. Makanya, dalam memberikan nama untuk dimsum-nya, Kautsar terinspirasi dari Alquran. Dan surat ke-4 ayat ke-9 itulah yang menjadi jiwa dalam dia mengembangkan bisnisnya. Inti dari ayat itu adalah kewajiban untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah. Dan ayat inilah yang agaknya memotivasi Kautsar untuk terus memacu dan mengembangkan bisnisnya hingga bisa seperti sekarang ini.

Helmy Yahya pernah memuji bisnis dimsum Kautsar yang menurutnya tergolong cepat berkembang itu. Dahlan Iskan juga kagum dengan capaian Kautsar, ketika keduanya pernah saya undang dalam sebuah seminar bisnis di Malang. Saya sendiri salut dengan sosok Kautsar. Dia sangat ramah. Humble. Dan terbuka untuk diajak berdiskusi dengan siapa saja. Bahwa Kautsar bisa meraih kesuksesannya itu, menurut saya, salah satunya karena ridha dari orang tuanya, wabil khusus ibunya.

Baca Juga :  Deflasi, Tak Melulu Kabar Menyenangkan

Kautsar ikhlas untuk tidak melanjutkan kuliah, ketika dia tamat SMA. Padahal, saat itu kakak-kakaknya semuanya kuliah. Tapi, Kautsar lebih memilih untuk bekerja membantu ibunya. Dia tidak egois. Dia tidak mau memberati beban orang tuanya yang sudah mati-matian membiayai kakak-kakaknya kuliah. Jujur, saya trenyuh dengan kisah Kautsar ini. Saya sempat membayangkan jika saya dalam posisi Kautsar. Tanpa saya sadari, kedua mata saya berkaca-kaca.

Jadi, ridha dari ibunya, menurut saya menjadi kekuatan dahsyat yang mendorong kemajuan bisnis Kautsar. Selain ketekunan dan kerja kerasnya. Kautsar mendapat ridha dari ibunya, karena dia sangat berbakti kepada orang tuanya, khususnya kepada ibunya.

Li Ka-Shing, salah satu dari 30 orang terkaya di dunia, pernah mengatakan: Ada tiga investasi yang kalau itu dilakukan, maka akan mendapatkan reward terus-menerus. Pertama, investasi dalam beramal. Dan ini dilakukan Li Ka-Shing. Selain dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia, dia juga pemilik sebuah yayasan amal terbesar kedua setelah yayasan amal milik Melinda Gates (isteri Bill Gates). Kedua, investasi dalam bentuk belajar. Li Ka-Shing bisa meraih sukses, karena dia tidak pernah berhenti belajar, meski dia sekolahnya hanya drop out dari SMA. Ketiga, investasi berbakti. Harus ingat dengan jasa orang tua, dan harus berbakti kepadanya. Orang yang sukses, rata-rata punya hubungan yang baik dengan kedua orang tuanya. Li Ka-Shing ketika mulai bekerja di usia 17 tahun, 90 persen dari gaji pertamanya dia berikan untuk ibunya. Dan ketika dia sukses, dia muliakan kedua orang tuanya.

Dan ini pula yang dilakukan Kautsar. Berbakti kepada orang tua, dan memuliakan orang tua, adalah pangkal dalam meraih kesuksesan. (kritik dan saran:ibnuisrofam@gmail.com/IG:kum_jp)

Artikel Terkait

Most Read


Artikel Terbaru

/