22.4 C
Kediri
Saturday, August 20, 2022

Deflasi, Tak Melulu Kabar Menyenangkan

- Advertisement -

Deflasi merupakan keadaan di mana jumlah barang yang beredar melebihi jumlah uang yang beredar. Harga barang-barang menjadi turun dan nilai uang akan menjadi naik. Deflasi Agustus 2018 ini tidak hanya terjadi di Kota Kediri, yang juga bagian dari 8 kota indeks harga konsumen (IHK) di Jawa Timur. Melainkan juga dialami secara nasional. Yaitu sebesar 0,05 persen.

Posisi deflasi Kediri pun berada di atas deflasi yang dialami skala nasional dengan selisih 0,05 persen. Deflasi yang terjadi di Kota Kediri disebabkan dua faktor. Seperti turunnya kebutuhan masyarakat akan bahan pangan, sandang, dan transportasi pasca-puasa dan Lebaran. Serta hasil dari efektivitas operasi pasar yang telah dilakukan oleh  Pemerintah Kota Kediri.

Baca Juga :  Makan Masakan Kepiting

Namun, walaupun deflasi dapat membiasakan masyarakat hidup hemat, karena daya beli terjaga, juga bisa menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif tersebut seperti aktivitas ekonomi akan terhambat karena mengalami penurunan permintaan barang.

Bila permintaan barang menurun maka aktivitas produksi pun juga turun. Yang dapat berdampak pada terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) serta merembet pada meningkatnya jumlah pengangguran.

Terjadinya deflasi selain bisa diatasi dengan kebijakan fiskal dan moneter juga bisa diatasi dengan pengendalian produksi. Dengan pengendalian produksi maka jumlah produk di pasaran tidak berlimpah. Sehingga harga bisa meningkat.

- Advertisement -

Selanjutnya  adalah upaya dengan meningkatkan upah minimum kerja (UMK). Dengan meningkatnya UMK  maka daya beli masyarakat  akan meningkat. Serta upaya pebisnis agar melakukan inovasi untuk menghasilkan produk  yang berbeda untuk menarik konsumen. “Dengan inovasi produk maka akan mengurangi persaingan dalam merebut konsumen yang sama. (Dekan FE UN PGRI Kediri dan Wakil Ketua Forum CSR Kota Kediri/Disarikan dari wawancara tertulis/rie)

Baca Juga :  - Prasangka -

- Advertisement -

Deflasi merupakan keadaan di mana jumlah barang yang beredar melebihi jumlah uang yang beredar. Harga barang-barang menjadi turun dan nilai uang akan menjadi naik. Deflasi Agustus 2018 ini tidak hanya terjadi di Kota Kediri, yang juga bagian dari 8 kota indeks harga konsumen (IHK) di Jawa Timur. Melainkan juga dialami secara nasional. Yaitu sebesar 0,05 persen.

Posisi deflasi Kediri pun berada di atas deflasi yang dialami skala nasional dengan selisih 0,05 persen. Deflasi yang terjadi di Kota Kediri disebabkan dua faktor. Seperti turunnya kebutuhan masyarakat akan bahan pangan, sandang, dan transportasi pasca-puasa dan Lebaran. Serta hasil dari efektivitas operasi pasar yang telah dilakukan oleh  Pemerintah Kota Kediri.

Baca Juga :  Jujur Kok Fluktuatif

Namun, walaupun deflasi dapat membiasakan masyarakat hidup hemat, karena daya beli terjaga, juga bisa menimbulkan dampak negatif. Dampak negatif tersebut seperti aktivitas ekonomi akan terhambat karena mengalami penurunan permintaan barang.

Bila permintaan barang menurun maka aktivitas produksi pun juga turun. Yang dapat berdampak pada terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) serta merembet pada meningkatnya jumlah pengangguran.

Terjadinya deflasi selain bisa diatasi dengan kebijakan fiskal dan moneter juga bisa diatasi dengan pengendalian produksi. Dengan pengendalian produksi maka jumlah produk di pasaran tidak berlimpah. Sehingga harga bisa meningkat.

Selanjutnya  adalah upaya dengan meningkatkan upah minimum kerja (UMK). Dengan meningkatnya UMK  maka daya beli masyarakat  akan meningkat. Serta upaya pebisnis agar melakukan inovasi untuk menghasilkan produk  yang berbeda untuk menarik konsumen. “Dengan inovasi produk maka akan mengurangi persaingan dalam merebut konsumen yang sama. (Dekan FE UN PGRI Kediri dan Wakil Ketua Forum CSR Kota Kediri/Disarikan dari wawancara tertulis/rie)

Baca Juga :  --- KPM 110 ---

Artikel Terkait

Mengapa Selingkar Wilis?

UAS dan Stigma

Kepala Daerah dan Donokrasi

Most Read


Artikel Terbaru

/