26 C
Kediri
Tuesday, August 9, 2022

Ketika Fans Garis Keras Mencari Bunda Ita

Siapa yang tak kenal Bunda Ita. Perempuan bernama lengkap Ita Triwibawati ini adalah istri Bupati non aktif Taufiqurrahman. Dia juga PNS, menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) di Jombang. Di kalangan ibu-ibu, dia dikenal sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Nganjuk. Selain itu, ia adalah Bunda PAUD di Kabupaten Nganjuk. 

Jika ada warga Nganjuk yang mengaku belum kenal Bunda Ita, ya kebangetan. Kenapa kebangetan? Bayangkan saja, selain sudah menjadi Ketua TP PKK dan Bunda PAUD di Nganjuk, ia juga sudah memasang ratusan baliho untuk mengenalkan dirinya ke publik Nganju.

Lokasinya tersebar hingga ke pelosok desa. Mulai dari yang berpose menggendong anak hingga gambarnya yang memakai semboyan yang terkenal dimana-mana itu.

Bunyi semboyannya adalah mari berteman, befikir positif, dan berwawasan luas. Sungguh kata-kata yang bijaksana bila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari sekian banyak baliho yang memampangkan wajahnya, hanya baliho kampanye saja yang tersisa. Lainnya sudah dibersihkan petugas Pamong Praja. Alasan pembersihan itu karena gambarnya bersanding dengan bupati non aktif yang berstatus tersangka.

Di baliho kampanye yang masih beredar, ia hanya sendirian. Mengenakan baju hitam, jilbab abu-abu, calon bupati ini menampilkan senyum terbaiknya. Dari gambar itu terpancar jelas ia adalah perempuan tangguh dan periang.

Ketangguhannya juga tercermin dari mantapnya baliho yang masih tersebar hingga ke pelosok desa. Meski balihonya diterpa hujan dan angin kencang, kondisinya masih terjaga dengan baik. Bahkan di desa-desa kondisi baliho kampanye itu bebas dari tangan jahil praktik vandal, tidak seperti di Kota Nganjuk yang sudah dicoret-coret. 

Komposisi gambar Bunda Ita dengan background berwarna merah gelap itu juga sangat menakjubkan. Kualitas cetakannya masuk nomer wahid, terlihat rapi dan elegan. Sangat pantas bila disandingkan dengan bakal calon bupati Nganjuk lainnya. Apalagi disandingkan dengan calon-calon pria, pasti ia akan terlihat paling cantik diantara yang lainnya.

Berapa budget yang harus dikeluarkan Bunda Ita untuk pembuatan baliho kampanye itu? Ah, mulai kepo. Karena belum berteman, pertanyaan ini untuk sementara disimpan dulu. Jika kelak sudah berteman seperti jargon di gambar itu pasti akan menanyakannya termasuk menulisnya. Setidaknya, jawaban soal biaya pembuatan alat peraga ini bisa dijadikan patokan bagi mereka yang ingin ikut kampanye. Pada prinsipnya, harga pasti menentukan kualitas. Ya Ngga sih?

Baca Juga :  Tol, Bandara, dan Metropolitan

Untuk masalah budget, publik sepertinya mulai paham berapa biaya politik yang harus dikeluarkan. Tentunya sangat mahal. Tanpa gerakan massa yang terstruktur, jangan berharap warga kelas menengah ke bawah bisa ikut pencalonan pemilihan kepala daerah. Bisa nangis darah, membiayai ongkos politiknya.

Dalam kondisi seperti saat ini, bakal calon biasanya saling memanfaatkan situasi untuk memanaskan mesin politik. Termasuk mencari peluang kampanye dengan cara nebeng program pemerintah. Bakal Calon biasanya masuk dengan misi terselubung. Tujuannya agar bisa kampanye gratis.

Publik juga mulai mencermati tindakan yang tidak elok para bakal calon. Mereka yang curang biasanya menihilkan esensi demokrasi dan memilih cara kotor untuk memenangkan suksesi politik. Sebab itu, membangun kesadaran politik menjadi tugas wajib bakal calon. Jadilah bakal calon kepala daerah yang berjiwa kesatria bukan bernyali pecundang.

Setidaknya, calon yang kelak maju dalam Pilkada lima tahun itu tidak merendahkan pemilihnya dengan cara memberikan uang receh. Pemberian uang yang bertujuan memaksa agar memilih calon  tertentu adalah perbuatan yang melecehkan nilai-nilai demokrasi. Apapun dalihnya, money politic tidak dibenarkan selama proses pemilihan kepala daerah nanti.   

Bagi mereka yang akan maju dan belum dikenal publik ada baiknya melakukan kampanye positif. Mulailah membangun jaringan sebagai gerakan akar rumput, lalu berdialog, tatap muka, turun ke bawah hingga menyebar gambar dalam bentuk pamflet, baliho, spanduk dan alat peraga lainnya agar lebih dikenal masyarakat. Itu adalah cara-cara mulia dalam politik.

Melipat gandakan baliho adalah kegiatan yang dihalalkan dalam politik. Apalagi dilakukan saat masih bakal calon. Hal itu pula yang sepertinya sudah dilakukan Ita sebagai bakal calon bupati. Sayangnya, saat ini lebih mudah mencari baliho Bunda Ita dari pada mencari orangnya.

Sejak akhir Oktober lalu, Bunda Ita menghilang seakan ditelan bumi. Tak ada yang mengetahui dimana ia berada. Bahkan Partai Nasdem Nganjuk yang terakhir terbit Jawa Pos Radar Nganjuk pada Sabtu (2/12) lalu juga masih menunggu jawaban darinya.

Baca Juga :  Menunggu Fleksibilitas Permainan Itu Diterapkan

Partai besutan Surya Paloh ini seperti dalam posisi gamang tak mendapat kepastian. Jika Partai Nasdem saja menunggu, bagiamana dengan nasib para fans garis keras Bunda Ita? Mungkin mereka lebih galau. Merasa tak nyaman dan bingung harus berbuat apa. Sebab hingga saat ini Bunda menghilang tak berkabar.

Menghilangnya Bunda Ita secara otomatis juga menghilangkan kegiatan-kegiatan politik lainnya. Kegiatan yang nihil dilakukan adalah bertemu dengan pemilih, mulai dari petani, buruh, lansia, hingga ibu-ibu. Biasanya, Bunda Ita juga selalu show ke desa-desa yang selama ini menjadi basis massa yang dimiliki suaminya.   

Harapan para fans garis keras tentu ingin Bunda Ita maju dalam suksesi politik Nganjuk tahun 2018 nanti. Ia masih punya hak untuk dipilih, apalagi statusnya bukan tersangka tindak pidana. Ia hanya menjadi saksi perkara yang menggeret suaminya dalam pusaran dugaan suap jual beli jabatan. Jadi untuk maju sebagai kandidat calon bupati, Bunda Ita tak akan menyalahi aturan asal suara partai yang mengusung sudah mencukupi. 

Saat ini ada Partai Nasdem yang sudah memberi lampu hijau. Partai ini berharap ada kabar dari Ita Triwibawati. Mungkin hal yang sama juga yang ditunggu Partai Golkar. Dua partai itu sudah cukup untuk mengusung Bunda Ita agar bisa ikut meramaikan pesta demokrasi di Nganjuk.

Dalih hasil survei Bunda Ita masih cukup tinggi dibanding dengan bakal calon lainnya bisa dijadikan dasar bagi kedua partai untuk tetap mencalonkan Sekda Jombang tersebut. Kedua partai ini pun tak perlu canggung, toh partai pengusung pasti punya cita-cita keluar sebagai pemenang dalam perhelatan memilih pemimpin Nganjuk. 

Publik tentu menunggu. Sebab suasana politik yang tenang di Kabupaten Nganjuk seakan memberi sinyal Bunda Ita belum tamat. Seperti salah satu mottonya berwawasan luas, mungkin saja ia sedang merancang strategi untuk kembali ke gelanggang pertarungan. Karena fans garis keras Buda Ita tak akan rela idolanya hanya menjadi penonton. Para fans pasti meyakini kalau wawasan bunda yang luas itulah yang menjadi jurus ampuh menghadapi Pilkada Nganjuk 2018 nanti. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk)

 

- Advertisement -

Siapa yang tak kenal Bunda Ita. Perempuan bernama lengkap Ita Triwibawati ini adalah istri Bupati non aktif Taufiqurrahman. Dia juga PNS, menjabat sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) di Jombang. Di kalangan ibu-ibu, dia dikenal sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Nganjuk. Selain itu, ia adalah Bunda PAUD di Kabupaten Nganjuk. 

Jika ada warga Nganjuk yang mengaku belum kenal Bunda Ita, ya kebangetan. Kenapa kebangetan? Bayangkan saja, selain sudah menjadi Ketua TP PKK dan Bunda PAUD di Nganjuk, ia juga sudah memasang ratusan baliho untuk mengenalkan dirinya ke publik Nganju.

Lokasinya tersebar hingga ke pelosok desa. Mulai dari yang berpose menggendong anak hingga gambarnya yang memakai semboyan yang terkenal dimana-mana itu.

Bunyi semboyannya adalah mari berteman, befikir positif, dan berwawasan luas. Sungguh kata-kata yang bijaksana bila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari sekian banyak baliho yang memampangkan wajahnya, hanya baliho kampanye saja yang tersisa. Lainnya sudah dibersihkan petugas Pamong Praja. Alasan pembersihan itu karena gambarnya bersanding dengan bupati non aktif yang berstatus tersangka.

Di baliho kampanye yang masih beredar, ia hanya sendirian. Mengenakan baju hitam, jilbab abu-abu, calon bupati ini menampilkan senyum terbaiknya. Dari gambar itu terpancar jelas ia adalah perempuan tangguh dan periang.

Ketangguhannya juga tercermin dari mantapnya baliho yang masih tersebar hingga ke pelosok desa. Meski balihonya diterpa hujan dan angin kencang, kondisinya masih terjaga dengan baik. Bahkan di desa-desa kondisi baliho kampanye itu bebas dari tangan jahil praktik vandal, tidak seperti di Kota Nganjuk yang sudah dicoret-coret. 

Komposisi gambar Bunda Ita dengan background berwarna merah gelap itu juga sangat menakjubkan. Kualitas cetakannya masuk nomer wahid, terlihat rapi dan elegan. Sangat pantas bila disandingkan dengan bakal calon bupati Nganjuk lainnya. Apalagi disandingkan dengan calon-calon pria, pasti ia akan terlihat paling cantik diantara yang lainnya.

Berapa budget yang harus dikeluarkan Bunda Ita untuk pembuatan baliho kampanye itu? Ah, mulai kepo. Karena belum berteman, pertanyaan ini untuk sementara disimpan dulu. Jika kelak sudah berteman seperti jargon di gambar itu pasti akan menanyakannya termasuk menulisnya. Setidaknya, jawaban soal biaya pembuatan alat peraga ini bisa dijadikan patokan bagi mereka yang ingin ikut kampanye. Pada prinsipnya, harga pasti menentukan kualitas. Ya Ngga sih?

Baca Juga :  Titik Nol Sepak Bola Kediri

Untuk masalah budget, publik sepertinya mulai paham berapa biaya politik yang harus dikeluarkan. Tentunya sangat mahal. Tanpa gerakan massa yang terstruktur, jangan berharap warga kelas menengah ke bawah bisa ikut pencalonan pemilihan kepala daerah. Bisa nangis darah, membiayai ongkos politiknya.

Dalam kondisi seperti saat ini, bakal calon biasanya saling memanfaatkan situasi untuk memanaskan mesin politik. Termasuk mencari peluang kampanye dengan cara nebeng program pemerintah. Bakal Calon biasanya masuk dengan misi terselubung. Tujuannya agar bisa kampanye gratis.

Publik juga mulai mencermati tindakan yang tidak elok para bakal calon. Mereka yang curang biasanya menihilkan esensi demokrasi dan memilih cara kotor untuk memenangkan suksesi politik. Sebab itu, membangun kesadaran politik menjadi tugas wajib bakal calon. Jadilah bakal calon kepala daerah yang berjiwa kesatria bukan bernyali pecundang.

Setidaknya, calon yang kelak maju dalam Pilkada lima tahun itu tidak merendahkan pemilihnya dengan cara memberikan uang receh. Pemberian uang yang bertujuan memaksa agar memilih calon  tertentu adalah perbuatan yang melecehkan nilai-nilai demokrasi. Apapun dalihnya, money politic tidak dibenarkan selama proses pemilihan kepala daerah nanti.   

Bagi mereka yang akan maju dan belum dikenal publik ada baiknya melakukan kampanye positif. Mulailah membangun jaringan sebagai gerakan akar rumput, lalu berdialog, tatap muka, turun ke bawah hingga menyebar gambar dalam bentuk pamflet, baliho, spanduk dan alat peraga lainnya agar lebih dikenal masyarakat. Itu adalah cara-cara mulia dalam politik.

Melipat gandakan baliho adalah kegiatan yang dihalalkan dalam politik. Apalagi dilakukan saat masih bakal calon. Hal itu pula yang sepertinya sudah dilakukan Ita sebagai bakal calon bupati. Sayangnya, saat ini lebih mudah mencari baliho Bunda Ita dari pada mencari orangnya.

Sejak akhir Oktober lalu, Bunda Ita menghilang seakan ditelan bumi. Tak ada yang mengetahui dimana ia berada. Bahkan Partai Nasdem Nganjuk yang terakhir terbit Jawa Pos Radar Nganjuk pada Sabtu (2/12) lalu juga masih menunggu jawaban darinya.

Baca Juga :  Pelet untuk Cari Jodoh

Partai besutan Surya Paloh ini seperti dalam posisi gamang tak mendapat kepastian. Jika Partai Nasdem saja menunggu, bagiamana dengan nasib para fans garis keras Bunda Ita? Mungkin mereka lebih galau. Merasa tak nyaman dan bingung harus berbuat apa. Sebab hingga saat ini Bunda menghilang tak berkabar.

Menghilangnya Bunda Ita secara otomatis juga menghilangkan kegiatan-kegiatan politik lainnya. Kegiatan yang nihil dilakukan adalah bertemu dengan pemilih, mulai dari petani, buruh, lansia, hingga ibu-ibu. Biasanya, Bunda Ita juga selalu show ke desa-desa yang selama ini menjadi basis massa yang dimiliki suaminya.   

Harapan para fans garis keras tentu ingin Bunda Ita maju dalam suksesi politik Nganjuk tahun 2018 nanti. Ia masih punya hak untuk dipilih, apalagi statusnya bukan tersangka tindak pidana. Ia hanya menjadi saksi perkara yang menggeret suaminya dalam pusaran dugaan suap jual beli jabatan. Jadi untuk maju sebagai kandidat calon bupati, Bunda Ita tak akan menyalahi aturan asal suara partai yang mengusung sudah mencukupi. 

Saat ini ada Partai Nasdem yang sudah memberi lampu hijau. Partai ini berharap ada kabar dari Ita Triwibawati. Mungkin hal yang sama juga yang ditunggu Partai Golkar. Dua partai itu sudah cukup untuk mengusung Bunda Ita agar bisa ikut meramaikan pesta demokrasi di Nganjuk.

Dalih hasil survei Bunda Ita masih cukup tinggi dibanding dengan bakal calon lainnya bisa dijadikan dasar bagi kedua partai untuk tetap mencalonkan Sekda Jombang tersebut. Kedua partai ini pun tak perlu canggung, toh partai pengusung pasti punya cita-cita keluar sebagai pemenang dalam perhelatan memilih pemimpin Nganjuk. 

Publik tentu menunggu. Sebab suasana politik yang tenang di Kabupaten Nganjuk seakan memberi sinyal Bunda Ita belum tamat. Seperti salah satu mottonya berwawasan luas, mungkin saja ia sedang merancang strategi untuk kembali ke gelanggang pertarungan. Karena fans garis keras Buda Ita tak akan rela idolanya hanya menjadi penonton. Para fans pasti meyakini kalau wawasan bunda yang luas itulah yang menjadi jurus ampuh menghadapi Pilkada Nganjuk 2018 nanti. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk)

 

Artikel Terkait

Mengapa Selingkar Wilis?

UAS dan Stigma

Kepala Daerah dan Donokrasi

Most Read


Artikel Terbaru

/