30.2 C
Kediri
Monday, July 4, 2022

Puting Beliung di Kediri: Kepala Bocor Tak Terasa karena Panik

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Hujan belum benar-benar reda ketika puluhan warga Desa Ngreco, Kecamatan Kandat keluar rumah sore kemarin. Gerimis masih jatuh ke bumi. Namun titik-titik air itu tak mereka hiraukan. Orang-orang itu terlihat berusaha membersihkan puing-puing yang berserakan di sekitar rumah mereka. Imbas dari bagian-bagian rumah mereka yang rusak atau ambrol.

Beberapa dari mereka bergerombol di dekat batang pohon yang tumbang. Bergotong royong memangkas dahan yang sebagian menimpa rumah penduduk.

Diki salah seorang di antaranya. Pemuda bernama lengkap Diki Junianto Setiawan ini sibuk merapikan lembar aluminium di teras rumahnya. Benda itu adalah atap teras rumahnya yang terlepas akibat angin kencang yang menerjang desanya beberapa jam sebelumnya.

“Panik Mas, tiba-tiba angin dari arah barat laut sangat kencang,” cerita Diki mengingat kembali peristiwa itu. Saat itu ia sedang berada di teras.

Ketika angin bertiup kencang itu Diki dan sang ibu, yang ada di dalam rumah, jadi panik. Keduanya berusaha lari menyelamatkan diri. Mencari tempat yang dianggap aman. Diki berpikir bila bertahan di dalam rumah justru berbahaya. Karena berisiko tertimpa atap rumah.

Baca Juga :  Bulan Kemenangan

Apalagi di kebun belakang rumahnya banyak tumbuh pohon tinggi. Yang sewaktu-waktu bisa roboh dan menimpa rumah.

Benar saja, ada salah satu pohon waru di belakang rumahnya roboh. “Ada pohon besar menimpa dapur,” ungkapnya.

Untungnya, dia telah berupaya berlindung ke tempat aman. Yang membuatnya terhindar dari luka berat. Meskipun upayanya itu tak benar-benar menghindarkannya dari bahaya. Karena kepalanya tetap kejatuhan genting yang berjatuhan.

Memang, saking kencangnya angin yang menerjang kawasan itu kemarin banyak genting yang terlepas dari atap. Salah satunya menimpa kepala Diki. “Karena panik jadi tidak terasa kalau kejatuhan genting. Tahu-tahu ada tetangga yang bilang kepala saya berdarah,” terang Diki.

“Tapi Alhamdulillah tidak parah,” imbuh pemuda 22 tahun ini.

Rumah Diki termasuk mengalami kerusakan yang berat. Nyaris semua bagian atapnya jatuh. Mulai dari dua kamar, teras, dapur, dan beberapa ruang lain. Itu juga terjadi pada beberapa rumah lain di sana. Setidaknya ada sekitar 50- an rumah yang terdampak angin kencang berdurasi tak lebih dari 3 menit itu.

Baca Juga :  Kesetaraan bukan Keistimewaan

Sementara sang Ibu, Siti Amilah, awalnya berada di dalam rumah. Tahu ada angin kencang, perempuan berjilbab ini berupaya keluar. Saat mencoba keluar ia kaget karena pintu rumahnya tiba-tiba menutup sendiri.

“Karena saking kencangnya angina, saya kaget. Saat mau keluar pintunya tertutup keras. Jadi seperti terperangkap. Tapi Alhamdulillah tidak apa-apa,” ceritanya.

Hingga kemarin sore, dari kejadian ini Desa Ngreco belum sepenuhnya bersih. Warga masih bergotong royong membersihkan. Termasuk dibantu anggota BPBD Kabupaten Kediri.

“Langkah selanjutnya kami antisipasi untuk memangkas pohon-pohon besar. Terutama yang dekat rumah,” kata Kepala Desa Ngreco Ahmad Bahrudin.

Ia bersyukur karena tak ada korban parah akibat kejadian ini. Di Desa Ngreco sendiri, sepanjang sejarah, bencana angin kencang baru kali ini terjadi.

Sementara itu, BPBD mengimbau agar tetap waspada. Karena cuaca masih berpotensi memunculkan bencana hujan lebat disertai angin kencang.

- Advertisement -

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Hujan belum benar-benar reda ketika puluhan warga Desa Ngreco, Kecamatan Kandat keluar rumah sore kemarin. Gerimis masih jatuh ke bumi. Namun titik-titik air itu tak mereka hiraukan. Orang-orang itu terlihat berusaha membersihkan puing-puing yang berserakan di sekitar rumah mereka. Imbas dari bagian-bagian rumah mereka yang rusak atau ambrol.

Beberapa dari mereka bergerombol di dekat batang pohon yang tumbang. Bergotong royong memangkas dahan yang sebagian menimpa rumah penduduk.

Diki salah seorang di antaranya. Pemuda bernama lengkap Diki Junianto Setiawan ini sibuk merapikan lembar aluminium di teras rumahnya. Benda itu adalah atap teras rumahnya yang terlepas akibat angin kencang yang menerjang desanya beberapa jam sebelumnya.

“Panik Mas, tiba-tiba angin dari arah barat laut sangat kencang,” cerita Diki mengingat kembali peristiwa itu. Saat itu ia sedang berada di teras.

Ketika angin bertiup kencang itu Diki dan sang ibu, yang ada di dalam rumah, jadi panik. Keduanya berusaha lari menyelamatkan diri. Mencari tempat yang dianggap aman. Diki berpikir bila bertahan di dalam rumah justru berbahaya. Karena berisiko tertimpa atap rumah.

Baca Juga :  Selisih Ratusan Ton, Panen Padi Meningkat selama Tahun 2018

Apalagi di kebun belakang rumahnya banyak tumbuh pohon tinggi. Yang sewaktu-waktu bisa roboh dan menimpa rumah.

Benar saja, ada salah satu pohon waru di belakang rumahnya roboh. “Ada pohon besar menimpa dapur,” ungkapnya.

Untungnya, dia telah berupaya berlindung ke tempat aman. Yang membuatnya terhindar dari luka berat. Meskipun upayanya itu tak benar-benar menghindarkannya dari bahaya. Karena kepalanya tetap kejatuhan genting yang berjatuhan.

Memang, saking kencangnya angin yang menerjang kawasan itu kemarin banyak genting yang terlepas dari atap. Salah satunya menimpa kepala Diki. “Karena panik jadi tidak terasa kalau kejatuhan genting. Tahu-tahu ada tetangga yang bilang kepala saya berdarah,” terang Diki.

“Tapi Alhamdulillah tidak parah,” imbuh pemuda 22 tahun ini.

Rumah Diki termasuk mengalami kerusakan yang berat. Nyaris semua bagian atapnya jatuh. Mulai dari dua kamar, teras, dapur, dan beberapa ruang lain. Itu juga terjadi pada beberapa rumah lain di sana. Setidaknya ada sekitar 50- an rumah yang terdampak angin kencang berdurasi tak lebih dari 3 menit itu.

Baca Juga :  Nonton Film G30S PKI? Siapa Takut!

Sementara sang Ibu, Siti Amilah, awalnya berada di dalam rumah. Tahu ada angin kencang, perempuan berjilbab ini berupaya keluar. Saat mencoba keluar ia kaget karena pintu rumahnya tiba-tiba menutup sendiri.

“Karena saking kencangnya angina, saya kaget. Saat mau keluar pintunya tertutup keras. Jadi seperti terperangkap. Tapi Alhamdulillah tidak apa-apa,” ceritanya.

Hingga kemarin sore, dari kejadian ini Desa Ngreco belum sepenuhnya bersih. Warga masih bergotong royong membersihkan. Termasuk dibantu anggota BPBD Kabupaten Kediri.

“Langkah selanjutnya kami antisipasi untuk memangkas pohon-pohon besar. Terutama yang dekat rumah,” kata Kepala Desa Ngreco Ahmad Bahrudin.

Ia bersyukur karena tak ada korban parah akibat kejadian ini. Di Desa Ngreco sendiri, sepanjang sejarah, bencana angin kencang baru kali ini terjadi.

Sementara itu, BPBD mengimbau agar tetap waspada. Karena cuaca masih berpotensi memunculkan bencana hujan lebat disertai angin kencang.

Artikel Terkait

UAS dan Stigma

Kepala Daerah dan Donokrasi

Awal Ramadan Beda, Ikut Yang Mana?

Most Read


Artikel Terbaru

/